Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 28 Mei 2026 | 01.01 WIB

Jika Anda Ingin Merasa Percaya Diri, Maka Anda Harus Mengucapkan Selamat Tinggal pada 7 Kebiasaan Ini Menurut Psikologi

seseorang yang benar-benar ingin merasa percaya diri (Magnific/pressfoto) - Image

seseorang yang benar-benar ingin merasa percaya diri (Magnific/pressfoto)


JawaPos.com - Percaya diri bukanlah sesuatu yang muncul begitu saja. Banyak orang mengira rasa percaya diri berasal dari penampilan, status sosial, atau pencapaian besar. Padahal menurut psikologi, kepercayaan diri lebih sering dibangun dari kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari.

Menariknya, rasa percaya diri juga bisa hancur secara perlahan oleh kebiasaan-kebiasaan yang tampak sepele. Tanpa sadar, banyak orang terus melakukan pola pikir dan perilaku yang mengikis harga diri mereka sedikit demi sedikit.

Itulah sebabnya orang yang tampak hebat dari luar belum tentu benar-benar percaya diri di dalam. Sebaliknya, ada orang yang hidup sederhana tetapi memancarkan keyakinan diri yang kuat karena mereka berhasil meninggalkan kebiasaan mental yang merusak.

Dilansir dari Expert Editor, jika Anda ingin merasa percaya diri, maka inilah 7 kebiasaan yang perlu Anda tinggalkan menurut psikologi.

1. Terlalu sering membandingkan diri dengan orang lain

Ini mungkin kebiasaan paling umum sekaligus paling berbahaya.

Di era media sosial, kita terus melihat kehidupan orang lain yang tampak sempurna: karier cemerlang, hubungan harmonis, tubuh ideal, liburan mewah, dan pencapaian luar biasa. Akibatnya, kita mulai mengukur nilai diri berdasarkan standar hidup orang lain.

Psikologi menyebut ini sebagai social comparison theory — kecenderungan manusia untuk menilai dirinya dengan membandingkan diri terhadap orang lain.

Masalahnya, perbandingan hampir selalu tidak adil.

Kita membandingkan “belakang layar” kehidupan kita dengan “sorotan terbaik” kehidupan orang lain.

Semakin sering Anda melakukan ini, semakin mudah Anda merasa tertinggal, tidak cukup baik, dan kurang berharga.

Orang yang benar-benar percaya diri memahami bahwa hidup bukan perlombaan yang harus dimenangkan lebih cepat dari orang lain. Mereka fokus pada perkembangan pribadi, bukan kompetisi tanpa akhir.

Ketika Anda berhenti membandingkan diri, Anda memberi ruang bagi diri sendiri untuk tumbuh secara autentik.

2. Terlalu keras mengkritik diri sendiri

Banyak orang percaya bahwa mengkritik diri sendiri akan membuat mereka lebih disiplin atau sukses. Faktanya, psikologi menunjukkan bahwa kritik diri berlebihan justru menghancurkan motivasi dan kepercayaan diri.

Kalimat seperti:

“Aku memang bodoh.”
“Aku selalu gagal.”
“Aku tidak akan pernah cukup baik.”

mungkin terdengar biasa, tetapi otak menyerap kata-kata itu sebagai identitas.

Semakin sering Anda berbicara negatif pada diri sendiri, semakin kuat keyakinan bahwa Anda memang tidak layak.

Orang percaya diri bukan berarti mereka merasa sempurna. Mereka hanya tidak menjadikan kesalahan sebagai bukti bahwa diri mereka tidak berharga.

Mereka belajar mengganti kritik destruktif dengan evaluasi yang sehat.

Alih-alih berkata:

“Aku gagal total.”

mereka berkata:

“Aku melakukan kesalahan, tapi aku bisa belajar.”

Perbedaan kecil dalam cara berbicara kepada diri sendiri bisa mengubah kondisi mental secara besar dalam jangka panjang.

3. Mencari validasi dari semua orang

Salah satu tanda terbesar kurangnya rasa percaya diri adalah kebutuhan terus-menerus untuk disetujui orang lain.

Anda mungkin:

takut membuat orang kecewa,
sulit mengatakan “tidak”,
terus meminta pendapat orang lain,
atau merasa cemas jika tidak mendapatkan pengakuan.

Psikologi menjelaskan bahwa ketika harga diri bergantung pada validasi eksternal, rasa percaya diri menjadi sangat rapuh.

Hari ini Anda merasa baik karena dipuji.
Besok Anda merasa buruk karena dikritik.

Hidup menjadi seperti roller coaster emosional.

Orang yang percaya diri tetap menghargai pendapat orang lain, tetapi mereka tidak menggantungkan nilai dirinya pada opini tersebut.

Mereka memahami bahwa tidak semua orang akan menyukai mereka — dan itu tidak masalah.

Semakin Anda mencoba menyenangkan semua orang, semakin Anda kehilangan diri sendiri.

4. Menghindari tantangan karena takut gagal

Banyak orang terlihat tidak percaya diri bukan karena mereka tidak mampu, tetapi karena mereka terlalu takut gagal.

Mereka:

menunda mencoba hal baru,
tidak berani berbicara,
takut mengambil kesempatan,
atau terus bermain aman.

Ironisnya, rasa percaya diri tidak tumbuh dari menghindari ketakutan. Rasa percaya diri tumbuh ketika Anda menghadapi ketakutan dan menyadari bahwa Anda mampu bertahan.

Dalam psikologi, pengalaman berhasil melewati tantangan disebut sebagai salah satu sumber utama self-efficacy — keyakinan bahwa Anda mampu menangani situasi hidup.

Semakin sering Anda menghindar, semakin otak percaya bahwa Anda memang tidak mampu.

Sebaliknya, setiap langkah kecil yang berani akan memperkuat identitas diri Anda.

Percaya diri bukan tentang tidak takut.
Percaya diri adalah keberanian untuk tetap melangkah meski takut.

5. Terus hidup dalam penyesalan masa lalu

Tidak sedikit orang kehilangan rasa percaya diri karena terus membawa kesalahan lama ke mana pun mereka pergi.

Mereka sulit move on dari:

kegagalan,
hubungan yang berakhir,
keputusan buruk,
atau momen memalukan.

Mereka terus mengulang kejadian itu di kepala seperti film yang tidak pernah selesai.

Masalahnya, otak tidak selalu bisa membedakan antara ancaman nyata dan kenangan emosional. Ketika Anda terus menghidupkan rasa malu atau penyesalan, tubuh merespons seolah kejadian itu masih berlangsung sekarang.

Akibatnya, Anda tetap merasa kecil, bersalah, dan tidak layak.

Orang yang percaya diri bukan berarti tidak pernah melakukan kesalahan besar. Mereka hanya tidak membiarkan masa lalu menentukan identitas mereka selamanya.

Psikologi menunjukkan bahwa kemampuan memaafkan diri sendiri sangat berkaitan dengan kesehatan mental dan harga diri yang stabil.

Anda tidak bisa membangun kepercayaan diri sambil terus menghukum diri atas versi lama diri Anda.

6. Mengabaikan kebutuhan diri sendiri

Percaya diri juga berkaitan erat dengan bagaimana Anda memperlakukan diri sendiri setiap hari.

Jika Anda terus:

kurang tidur,
mengabaikan kesehatan,
membiarkan stres menumpuk,
atau tidak pernah memberi waktu untuk diri sendiri,

maka mental Anda perlahan melemah.

Tubuh dan pikiran saling terhubung.

Ketika tubuh kelelahan, emosi menjadi lebih rapuh.
Ketika mental kacau, rasa percaya diri ikut menurun.

Banyak orang mengira merawat diri adalah bentuk kemewahan. Padahal menurut psikologi, self-care adalah fondasi kestabilan emosional.

Orang yang percaya diri memahami bahwa mereka layak dirawat — bahkan oleh dirinya sendiri.

Mereka tidak menunggu hancur total sebelum mulai peduli pada kesehatan mental dan fisik mereka.

7. Terus berpura-pura menjadi orang lain

Ini mungkin kebiasaan paling melelahkan.

Banyak orang merasa harus memakai “topeng” agar diterima:

berpura-pura kuat,
berpura-pura sukses,
berpura-pura bahagia,
atau menyesuaikan kepribadian demi diterima lingkungan.

Namun semakin jauh Anda meninggalkan diri asli Anda, semakin sulit merasa benar-benar percaya diri.

Mengapa?

Karena di dalam hati, Anda tahu bahwa orang-orang mungkin menyukai “versi palsu” yang Anda tampilkan — bukan diri Anda yang sebenarnya.

Psikologi menunjukkan bahwa keaslian (authenticity) memiliki hubungan kuat dengan kebahagiaan dan harga diri.

Orang yang percaya diri tidak selalu menjadi yang paling populer. Tetapi mereka nyaman menjadi diri sendiri.

Mereka tidak merasa harus terus tampil sempurna untuk pantas dihargai.

Dan justru karena itu, mereka terlihat lebih tenang, kuat, dan meyakinkan.

Penutup

Rasa percaya diri bukan sesuatu yang dibeli, diwariskan, atau dimiliki segelintir orang beruntung.

Kepercayaan diri dibangun dari kebiasaan sehari-hari — dan sering kali dimulai dengan menghentikan hal-hal yang selama ini diam-diam merusak diri sendiri.

Berhenti membandingkan diri.
Berhenti menghukum diri.
Berhenti mencari validasi tanpa akhir.
Berhenti hidup dalam ketakutan dan penyesalan.

Semakin Anda melepaskan kebiasaan-kebiasaan itu, semakin Anda memberi ruang bagi versi diri yang lebih kuat untuk muncul.

Karena pada akhirnya, percaya diri bukan tentang menjadi sempurna.

Percaya diri adalah kemampuan untuk menerima diri sendiri sambil terus bertumbuh.***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore