Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 16 April 2026 | 15.27 WIB

Jika Anda Menginginkan Ikatan yang Lebih Kuat dengan Anak-Anak Anda Seiring Bertambahnya Usia Mereka, Tinggalkanlah 6 Kebiasaan Ini Menurut Psikologi

seseorang yang memiliki ikatan kuat dengan anak-anak (Freepik/user15694850) - Image

seseorang yang memiliki ikatan kuat dengan anak-anak (Freepik/user15694850)



JawaPos.com - Hubungan antara orang tua dan anak tidak bersifat statis—ia terus berkembang seiring waktu. Anak-anak yang dulunya bergantung sepenuhnya pada Anda, perlahan tumbuh menjadi individu yang mandiri dengan pikiran, perasaan, dan nilai mereka sendiri. Dalam proses ini, banyak orang tua tanpa sadar tetap mempertahankan kebiasaan lama yang justru dapat merusak kedekatan emosional.

Psikologi perkembangan menunjukkan bahwa kualitas hubungan orang tua-anak di masa remaja hingga dewasa sangat dipengaruhi oleh pola interaksi sejak dini. Jika Anda ingin tetap dekat dengan anak-anak Anda saat mereka tumbuh besar, ada beberapa kebiasaan yang sebaiknya mulai ditinggalkan.

Dilansir dari Expert Editor, terdapat enam kebiasaan yang perlu Anda lepaskan untuk membangun hubungan yang lebih kuat dan sehat dengan anak Anda.

1. Terlalu Mengontrol Setiap Aspek Kehidupan Anak

Saat anak masih kecil, kontrol orang tua memang diperlukan untuk menjaga keamanan dan membentuk kebiasaan. Namun, ketika anak mulai tumbuh, kontrol yang berlebihan justru bisa menjadi penghambat.

Menurut psikologi, anak membutuhkan rasa otonomi untuk berkembang secara sehat. Jika Anda terus mengatur setiap keputusan mereka—mulai dari pilihan teman hingga jalan hidup—anak bisa merasa tidak dipercaya. Akibatnya, mereka mungkin akan menjauh secara emosional atau bahkan memberontak.

Apa yang bisa dilakukan?
Mulailah memberi ruang bagi anak untuk membuat keputusan sendiri, sambil tetap memberikan bimbingan jika diperlukan. Ini membantu mereka merasa dihargai dan dipercaya.

2. Tidak Mau Mendengarkan dengan Sungguh-Sungguh

Banyak orang tua merasa sudah mendengarkan, padahal sebenarnya hanya menunggu giliran untuk berbicara atau memberi nasihat.

Psikologi komunikasi menekankan pentingnya active listening—mendengarkan dengan empati, tanpa menghakimi atau langsung memberi solusi. Ketika anak merasa didengar, mereka akan lebih terbuka dan nyaman berbagi.

Sebaliknya, jika mereka merasa diabaikan atau diremehkan, mereka akan mencari tempat lain untuk bercerita.

Apa yang bisa dilakukan?
Saat anak berbicara, beri perhatian penuh. Tahan keinginan untuk langsung mengoreksi atau menghakimi.

3. Terlalu Cepat Mengkritik dan Menghakimi

Kritik yang berlebihan, bahkan jika dimaksudkan untuk kebaikan, dapat merusak kepercayaan diri anak. Dalam jangka panjang, hal ini juga merusak hubungan emosional.

Anak yang sering dikritik cenderung:

Menjadi tertutup
Takut berbagi kesalahan
Merasa tidak cukup baik di mata orang tua

Psikologi menunjukkan bahwa validasi emosi lebih efektif daripada kritik keras dalam membangun kedekatan.

Apa yang bisa dilakukan?
Alihkan fokus dari kesalahan ke proses belajar. Gunakan bahasa yang membangun, bukan menjatuhkan.

4. Membandingkan Anak dengan Orang Lain

Kalimat seperti “Kenapa kamu tidak seperti si A?” mungkin terdengar sepele, tetapi dampaknya besar.

Perbandingan membuat anak merasa:

Tidak dihargai sebagai individu
Selalu kurang
Kehilangan motivasi intrinsik

Setiap anak memiliki keunikan masing-masing. Psikologi menekankan pentingnya penguatan identitas diri daripada membandingkan dengan orang lain.

Apa yang bisa dilakukan?
Fokus pada perkembangan anak itu sendiri, bukan pada standar orang lain.

5. Mengabaikan Perasaan Anak

Sering kali orang tua tanpa sadar meremehkan emosi anak dengan mengatakan:

“Ah, itu hal kecil saja.”
“Kamu terlalu lebay.”

Padahal, bagi anak, perasaan mereka sangat nyata dan penting.

Mengabaikan emosi dapat membuat anak:

Merasa tidak dipahami
Enggan terbuka
Kesulitan mengenali emosinya sendiri

Psikologi emosional menekankan bahwa validasi perasaan adalah kunci hubungan yang sehat.

Apa yang bisa dilakukan?
Akui perasaan mereka, meskipun Anda tidak selalu setuju dengan reaksinya.

6. Tidak Memberi Contoh yang Baik

Anak belajar bukan hanya dari apa yang Anda katakan, tetapi dari apa yang Anda lakukan. Jika Anda mengharapkan anak untuk jujur, sabar, atau menghargai orang lain, tetapi tidak menunjukkan hal tersebut, pesan Anda menjadi tidak konsisten.

Dalam psikologi sosial, ini dikenal sebagai modeling behavior—anak meniru perilaku yang mereka lihat setiap hari.

Apa yang bisa dilakukan?
Jadilah contoh dari nilai-nilai yang Anda ingin anak miliki. Konsistensi adalah kunci.

Penutup

Membangun hubungan yang kuat dengan anak bukan tentang menjadi orang tua yang sempurna, melainkan tentang menjadi orang tua yang sadar dan terus belajar.

Dengan meninggalkan kebiasaan-kebiasaan yang tidak sehat dan menggantinya dengan pendekatan yang lebih empatik, Anda tidak hanya memperkuat hubungan saat ini, tetapi juga menciptakan fondasi yang kokoh untuk masa depan.

Ketika anak Anda tumbuh dewasa, yang mereka ingat bukan hanya aturan yang Anda buat—tetapi bagaimana Anda membuat mereka merasa: didengar, dihargai, dan dicintai tanpa syarat.
***

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore