Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 21 November 2025 | 00.28 WIB

8 Hal Memalukan yang Anda Lakukan di Media Sosial, Langsung Menunjukkan Bahwa Anda Berusia Lebih dari 40 Tahun Menurut Psikologi

seseorang yang melakukan hal memalukan di media sosial. (Freepik/dragonimages) - Image

seseorang yang melakukan hal memalukan di media sosial. (Freepik/dragonimages)


JawaPos.com - Media sosial selalu berubah cepat, dinamis, dan penuh tren baru setiap minggunya. 
 
Namun, menurut psikologi perkembangan dan perilaku digital, perbedaan generasi sangat mudah terlihat hanya dari cara seseorang berinteraksi di dunia maya. 
 
Jika Anda berusia 40+, sebenarnya tidak ada yang salah. Banyak gaya komunikasi yang Anda lakukan berakar dari kebiasaan era sebelum internet merajalela. 
 
Tetapi... di mata generasi yang lebih muda, beberapa perilaku ini bisa terlihat “kuno”, “cringe”, atau langsung membuka identitas usia.

Dilansir dari Geediting, terdapat delapan hal memalukan yang masih sering dilakukan orang berusia 40 tahun ke atas di media sosial, lengkap dengan penjelasan psikologis di baliknya.

1. Menulis Status Panjang Layaknya Curhat Buku Harian


Generasi 40+ tumbuh di era ketika mengekspresikan diri berarti menulis panjang — apakah di blog, surat pribadi, atau buku harian.
 
Inilah mengapa mereka masih nyaman menulis cerita lengkap di Facebook.

Namun di era TikTok dan Reels, curhat 10 paragraf dianggap “oversharing” dan kurang relevan. 
 
Psikologi mengatakan bahwa generasi lebih tua cenderung memaknai media sosial sebagai ruang ekspresi personal, bukan ruang hiburan cepat.

2. Menggunakan Titik di Akhir Setiap Kalimat dalam Chat

Bagi Anda, penggunaan tanda titik adalah bentuk tata bahasa yang baik.
 
Tapi di media sosial, titik dianggap “dingin”, “marah”, atau “judgmental”.

“Ok.” → terdengar seperti Anda tersinggung

“Baik.” → seakan sedang menghakimi

Fenomena ini muncul karena generasi muda mengembangkan isyarat emosional baru lewat teks, di mana tidak memakai titik dianggap lebih santai dan hangat.

3. Mengunggah Foto dalam Bentuk Kolase dengan Bingkai Warna-warni


Aplikasi kolase yang populer di tahun 2010-an masih digemari generasi 40+. 
 
Sayangnya, format ini kini dianggap “jadul”.

Dari sudut psikologi, hal ini menunjukkan kecenderungan generasi lama yang senang mengabadikan momen secara lengkap, bukan hanya estetika. 
 
Namun bagi pengguna muda, gaya ini memberi sinyal jelas bahwa Anda berasal dari era BBM dan kamera saku.

4. Menggunakan Meme Lama atau GIF Usang


Anda mungkin masih menggunakan gambar-gambar seperti:

“Grumpy Cat”

Minions dengan quotes motivasi

GIF selebritas 2000-an

Masalahnya, tren meme bergerak sangat cepat. 
 
Ketika Anda memakai meme lama, otak orang lain langsung memberi label “outdated”. 
 
Menurut psikologi sosial, penggunaan referensi humor yang tidak relevan adalah marker generasi yang sangat jelas.

5. Mengomentari Semua Postingan Anak atau Keponakan dengan Kalimat Formal


“Selamat ya, Nak. Semoga jadi anak yang berbakti.”

“Cantik sekali, tetap rendah hati ya.”

Komentar seperti ini membuat pengguna muda geli karena terasa formal, kaku, dan seperti interaksi keluarga di grup WA.

Ini terjadi karena generasi 40+ dibesarkan dalam budaya sopan santun yang kuat, di mana setiap ekspresi publik harus teratur dan baik-baik.
 
Tetapi di media sosial modern, gaya bicara terlalu formal justru memberi kesan “orang tua masuk timeline”.

6. Mengikuti Setiap Challenge Tapi dengan Gaya Serius


Challenge seperti dance TikTok, lip-sync, atau trend lucu sebenarnya dibuat untuk santai. 
 
Namun banyak orang 40+ melakukannya dengan ekspresi terlalu serius, fokus pada ketepatan gerakan, bahkan latihan berulang-ulang.

Secara psikologis, generasi ini lebih menghargai performasi sempurna dibanding spontanitas. 
 
Ironisnya, keseriusan itu malah membuat hasilnya terlihat canggung — dan semakin jelas menandakan perbedaan generasi.

7. Menggunakan Filter Berat yang Mengubah Wajah Menjadi Terlalu Mulus


Filter ekstrem dengan kulit porselen, mata diperbesar, dan wajah tirus adalah favorit karena dianggap “cantik”. 
 
Tapi saat ini, filter natural justru lebih diterima.

Pengguna 40+ sering menggunakan filter keras karena mereka mengalami masa ketika kamera sangat jujur dan editing foto sulit dilakukan. 
 
Mereka menganggap filter adalah cara untuk “tampil rapi”. 
 
Psikologi menyebut ini sebagai upaya mempertahankan self-presentation ideal, tapi sayangnya malah menciptakan kesan tidak natural.

8. Membagikan Hoaks atau Artikel Lama Tanpa Verifikasi


Ini adalah indikator paling jelas secara psikologis.

Alasannya:

Generasi 40+ tumbuh mempercayai media sebagai sumber informasi valid.

Mereka belum terbiasa memeriksa tanggal publikasi, sumber, atau rekam jejak.

Rasa ingin berbagi hal bermanfaat membuat mereka cepat menyebarkan tanpa cek ulang.

Sayangnya, ketika membagikan berita hoaks atau link usang, hal ini langsung menandai bahwa Anda belum sepenuhnya menyesuaikan diri dengan perilaku literasi digital generasi baru.

Kesimpulan: Tidak Salah Jadi Berusia 40+, Tapi Penting Menyesuaikan Diri


Semua kebiasaan di atas bukanlah kesalahan. 
 
Mereka adalah cerminan masa tumbuh Anda: era ketika ketelitian, formalitas, dan ekpresi panjang adalah standar komunikasi.

Namun, memahami perubahan norma digital dapat membantu Anda:

tampil lebih relevan,

menghindari kesan kuno,

dan berinteraksi lebih nyaman dengan generasi muda.

Pada akhirnya, media sosial bukan soal usia, tetapi soal kemampuan menyesuaikan diri dan membaca perubahan tren komunikasi manusia.
 
***
Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore