Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 5 Juli 2026 | 23.14 WIB

8 Perilaku “Memalukan” di Bandara yang dengan Cepat Menunjukkan Anda Belum Bepergian Sejak Era COVID Menurut Psikologi

seseorang yang panik berlebihan / foto: Magnific/EmilyStock

 

JawaPos.com - Perjalanan udara berubah cukup drastis sejak pandemi COVID-19. Banyak prosedur sempat diperketat, lalu dilonggarkan kembali, dan sebagian aturan berubah menjadi “kebiasaan sosial baru” di bandara. Menariknya, perubahan ini tidak hanya soal aturan resmi, tetapi juga norma perilaku.

Dalam psikologi sosial, bandara adalah ruang “transisi identitas”: orang berada di antara kehidupan pribadi dan publik, sering lelah, cemas, dan berada di bawah tekanan waktu. Dalam kondisi seperti ini, perilaku seseorang sering kali menjadi indikator seberapa “up to date” mereka dengan norma perjalanan terbaru.

Dilansir dari Expert Editor pada Minggu (5/7), terdapat delapan perilaku yang sering dianggap canggung atau “memalukan” di bandara modern—dan secara halus bisa menunjukkan seseorang belum mengikuti perkembangan kebiasaan pasca-pandemi.

1. Panik Berlebihan Saat Antrian Padahal Tidak Ada Lagi Protokol Ketat

Beberapa orang masih terlihat sangat cemas saat melihat antrian panjang, seolah-olah harus menjaga jarak dua meter secara kaku atau takut berdiri terlalu dekat dengan orang lain.

Secara psikologis, ini disebut lingering behavioral conditioning—respon kebiasaan yang terbentuk selama pandemi masih terbawa meskipun situasi sudah berubah. Otak masih “mengaktifkan mode waspada” walau ancaman sudah tidak relevan.

Di era sekarang, antrian padat di bandara adalah hal normal lagi. Panik berlebihan justru terlihat tidak kontekstual.

2. Terlalu Agresif Menjaga Jarak Sosial

Masih ada orang yang secara demonstratif menjauh, menegur orang lain yang “terlalu dekat”, atau memblokir ruang secara berlebihan.

Dalam psikologi sosial, ini disebut overcorrection behavior—respons berlebihan terhadap aturan lama yang sudah tidak berlaku ketat.

Di lingkungan bandara modern, menjaga ruang pribadi tetap penting, tetapi tidak sampai menciptakan konflik atau gestur defensif yang mencolok. Orang lain bisa membaca ini sebagai ketidaktahuan terhadap norma saat ini.

3. Memakai Masker di Situasi yang Tidak Lagi Memerlukannya dengan Sikap Menghakimi

Memakai masker bukan hal salah—bahkan masih relevan secara kesehatan. Namun yang dianggap “memalukan” secara sosial adalah ketika seseorang menggunakannya sambil menghakimi orang lain yang tidak memakainya.

Dari sudut pandang psikologi, ini berkaitan dengan moral licensing bias, yaitu ketika seseorang merasa tindakannya lebih “benar” sehingga secara tidak sadar merendahkan orang lain.

Di bandara modern, keputusan memakai masker bersifat personal, bukan standar sosial yang bisa digunakan untuk menilai orang lain.

4. Terlalu Lama Menunggu Instruksi di Gate Seolah Masih Era Pembatasan Ketat

Beberapa orang terlihat ragu-ragu masuk ke pesawat, menunggu dipanggil berkali-kali, atau terlalu lama memastikan “apakah sudah boleh bergerak”.

Ini berkaitan dengan learned helplessness ringan, yaitu kebiasaan pasif yang terbentuk ketika aturan dulu sangat ketat dan semua harus menunggu instruksi.

Padahal sekarang alur boarding lebih fleksibel dan mandiri. Orang yang terlalu pasif sering terlihat “tertinggal zaman” dalam ritme perjalanan modern.

5. Menghindari Sentuhan atau Interaksi Sosial Secara Berlebihan

Beberapa individu masih enggan berinteraksi, bahkan untuk hal sederhana seperti bertanya arah atau meminta bantuan staf bandara.

Secara psikologis, ini terkait dengan social withdrawal post-trauma adaptation. Selama pandemi, menghindari kontak sosial adalah bentuk perlindungan diri. Namun jika berlanjut, ini bisa membuat seseorang tampak canggung dalam situasi publik yang sudah kembali normal.

Bandara modern justru mengandalkan interaksi singkat dan efisien.

6. Menyemprotkan Hand Sanitizer Secara Berlebihan di Setiap Titik

Kebersihan tangan tetap penting, tetapi penggunaan berlebihan—seperti menyemprot setiap 2 menit atau membersihkan kursi secara obsesif—bisa terlihat tidak proporsional dengan risiko saat ini.

Dalam psikologi, ini disebut compulsive safety behavior. Ini biasanya muncul ketika otak masih menyimpan “memori ancaman tinggi” dari masa pandemi.

Orang lain bisa membaca ini sebagai tanda seseorang belum menyesuaikan diri dengan tingkat risiko yang sudah berubah.

7. Bingung dengan Proses Bandara yang Sebenarnya Sudah Kembali Normal

Contohnya: masih bertanya tentang pengecekan kesehatan yang sudah tidak ada, atau kebingungan saat tidak ada lagi formulir COVID, tes acak, atau pembatasan khusus.

Ini adalah contoh cognitive lag, yaitu keterlambatan pembaruan skema mental. Otak masih memakai “versi lama” dari sistem perjalanan.

Di sisi sosial, ini bisa terlihat seperti kurang update, meskipun sebenarnya hanya adaptasi yang belum sepenuhnya selesai.

8. Mengeluh Tentang Aturan Lama yang Sudah Tidak Berlaku

Ada juga yang masih mengomentari “dulu harus begini” atau “waktu COVID lebih ketat”, padahal situasi sudah berubah total.

Dalam psikologi komunikasi, ini termasuk temporal anchoring bias—kecenderungan menilai situasi sekarang berdasarkan pengalaman masa lalu yang sangat kuat.

Masalahnya, di ruang publik seperti bandara, komentar seperti ini sering terdengar tidak relevan dan membuat percakapan terasa “terjebak di masa lalu”.

Penutup: Adaptasi Sosial di Era Perjalanan Baru

Bandara bukan hanya tempat transit fisik, tetapi juga ruang di mana norma sosial berubah dengan cepat. Banyak orang sebenarnya tidak “memalukan” dalam arti negatif—mereka hanya sedang beradaptasi dengan kecepatan perubahan yang berbeda-beda.

Psikologi menunjukkan bahwa perilaku seperti ini lebih banyak berkaitan dengan kebiasaan lama, rasa aman, dan adaptasi kognitif, bukan ketidaktahuan atau kesalahan pribadi.

Pada akhirnya, kemampuan menyesuaikan diri di ruang publik seperti bandara bukan soal siapa yang paling “benar”, tetapi siapa yang paling fleksibel membaca konteks sosial yang terus berubah.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore