
Dua orang sedang berdiskusi di lingkungan kantor, menekankan pentingnya komunikasi dengan kecerdasan emosional. (Freepik)
JawaPos.com - Komunikasi yang cerdas secara emosional adalah keterampilan penting yang mampu menciptakan ruang aman dan membangun kepercayaan di antara dua orang.
Berkomunikasi tidak hanya soal menyampaikan apa yang ada di pikiran, namun juga bagaimana perkataan kita diterima dan mempengaruhi orang lain.
Melansir dari Global English Editing, kecerdasan emosional yang tinggi tampak jelas dari pilihan kata seseorang, terutama ketika mereka berada di bawah tekanan dan sedang menghadapi konflik yang menyulitkan.
Orang-orang dengan Kecerdasan Emosional (EQ) yang langka cenderung menghindari pernyataan yang meremehkan, mengontrol, atau memicu amarah orang lain saat berinteraksi.
Mereka tahu betul bahwa beberapa frasa yang umum diucapkan justru dapat menghancurkan hubungan baik dan menutup peluang untuk tumbuh bersama.
Dengan mengganti kalimat yang merusak dengan bahasa yang lebih spesifik dan berempati, mereka mampu mengatasi ketegangan dan mencapai solusi yang konstruktif.
Berikut adalah 12 ungkapan yang dihindari oleh mereka yang memiliki EQ tinggi, serta saran pengganti yang lebih baik.
1. "Tenanglah" atau "Tenangkan Dirimu"
Frasa ini justru seperti bensin yang disiramkan ke kobaran api kecil, sebab ini memberi tahu orang lain bahwa emosi mereka adalah masalah yang harus segera diselesaikan. Orang yang sedang emosi membutuhkan pengakuan atas perasaannya, bukan sebuah perintah yang meremehkan apa yang sedang mereka alami. Lebih baik akui emosi yang terlihat dan tawarkan pilihan, seperti, “Aku bisa lihat ini membuat frustrasi. Mau jeda sebentar atau lanjut?”
2. "Kamu Terlalu Berlebihan"
Ungkapan ini secara tersirat menyatakan bahwa skala emosi Anda satu di antara skala emosi yang benar untuk dijadikan standar orang lain. Orang yang cerdas emosional tidak akan menghakimi perasaan orang lain, melainkan berusaha mengajukan pertanyaan untuk memahami realitas mereka. Ganti frasa ini dengan pertanyaan yang memicu penyelidikan, seperti “Tolong bantu aku mengerti, apa yang kamu rasakan dari situasi ini?”
3. "Memang Aku Orangnya Begitu"
Kalimat ini seringkali digunakan sebagai perisai untuk menghindari pertumbuhan pribadi dan perubahan perilaku buruk yang merugikan. Kecerdasan emosional mengakui bahwa setiap orang adalah proses yang sedang berkembang dan dapat mengubah pola lama. Cobalah berkata, “Ini kebiasaanku, tapi aku bersedia untuk memperbaikinya,” karena ini menunjukkan tanggung jawab sambil tetap menjaga harga diri.
4. "Kamu Selalu / Kamu Tidak Pernah"
Kata-kata absolut semacam ini jarang sekali akurat dan pasti memicu peradangan dalam konflik, sebab ini membatasi nuansa dalam situasi yang terjadi. Alih-alih melontarkan tuduhan global yang tidak adil, sampaikanlah pengamatan yang lebih spesifik dengan menyertakan keterangan waktu. Contoh yang lebih baik adalah: “Kemarin aku merasa diabaikan ketika kamu melihat ponsel saat kita sedang berbicara.”

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
