Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 11 September 2025 | 22.32 WIB

5 Faktor Utama Orang Kaya Semakin Kaya Sementara Masyarakat Miskin Kian Terpuruk

Ilustrasi wanita kaya. (Freepik) - Image

Ilustrasi wanita kaya. (Freepik)

JawaPos.com – Ketimpangan ekonomi semakin mencolok di tengah gejolak inflasi, perubahan pasar kerja, serta perkembangan teknologi.

Kondisi ini menimbulkan jurang pemisah antara kelompok kaya yang terus memperbesar asetnya dan kelompok miskin yang semakin terhimpit kebutuhan hidup.

Berikut adalah 5 sebab utama yang membuat orang kaya semakin kaya, sementara orang miskin kian terpuruk, seperti dilansir dari laman Forbes pada Kamis (11/9).

  1. Akses terhadap Investasi dan Bunga Majemuk

Orang kaya memiliki akses luas pada aset seperti saham, properti, dan instrumen investasi lain. Kenaikan nilai aset tersebut memberi perlindungan terhadap inflasi, bahkan memperbesar kekayaan mereka. Dengan berinvestasi sejak dini, mereka menikmati efek bunga majemuk yang melipatgandakan keuntungan.

Sementara itu, masyarakat berpenghasilan rendah tidak mampu berinvestasi, sehingga hanya menjadi penonton dari pertumbuhan kekayaan tersebut.

  1. Stagnasi Upah dan Inflasi

Inflasi mendorong kenaikan harga kebutuhan pokok seperti pangan, bensin, dan sewa rumah. Bagi pekerja berpenghasilan menengah dan rendah, upah yang stagnan membuat daya beli mereka menurun tajam.

Sebaliknya, orang kaya relatif aman karena kekayaan mereka tumbuh seiring nilai aset yang meningkat. Kondisi ini memperlebar jurang ketimpangan pendapatan antarstrata sosial.

  1. Beban Pendidikan dan Pasar Kerja Tidak Stabil

Banyak lulusan perguruan tinggi terjebak dalam utang pendidikan yang memberatkan. Sebagian besar bahkan harus menerima pekerjaan yang tidak sesuai kualifikasi karena keterbatasan lapangan kerja.

Ekonomi menambah ketidakpastian, membuat pekerja hidup dengan kontrak sementara tanpa jaminan masa depan. Situasi ini menghambat akumulasi kekayaan bagi kelompok menengah dan bawah.

  1. Perkembangan Teknologi dan Otomatisasi

Perkembangan kecerdasan buatan dan otomatisasi menjadi pedang bermata dua di dunia kerja. Sebagian besar pekerjaan dengan upah rendah berisiko tergantikan mesin, sementara pekerjaan baru menuntut keterampilan tinggi.

Orang kaya yang memiliki modal dapat berinvestasi dalam teknologi dan meraih keuntungan. Sebaliknya, pekerja miskin terancam kehilangan penghasilan tanpa memiliki kesempatan setara untuk beradaptasi.

  1. Beban Utang dan Biaya Hidup

Banyak keluarga berpenghasilan rendah terjebak dalam utang dari hipotek, kredit mobil, hingga kartu kredit berbunga tinggi. Biaya kesehatan yang mahal dan keadaan darurat finansial membuat tabungan cepat terkuras.

Tanpa dana darurat, mereka sulit membangun kembali fondasi keuangan yang sehat. Kondisi ini menjerat keluarga miskin dalam spiral keuangan yang sulit diputus.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore