
Ilustrasi orang yang impulsive buying (Dok.Freepik)
JawaPos.com – Di era digital seperti sekarang, godaan untuk belanja impulsif ada di mana-mana.
Mulai dari iklan media sosial yang muncul tiap kali scroll, promo gratis ongkir di marketplace, sampai diskon besar-besaran saat midnight sale, semuanya bisa membuat kita tergoda untuk menekan tombol checkout tanpa banyak berpikir.
Aktivitas ini dikenal dengan sebutan impulsive buying, yaitu kebiasaan membeli barang secara spontan tanpa perencanaan matang.
Sekilas, belanja impulsif terasa menyenangkan, apalagi saat sedang stres atau butuh hiburan cepat. Namun, jika dilakukan terus-menerus, perilaku ini bisa berdampak serius pada kondisi keuangan dan bahkan pola hidup kita.
Menariknya, Personal Growth ID dalam salah satu konten di kanal YouTubenya membagikan sudut pandang sederhana namun bermakna mengenai mengurangi impulsive buying yang bukan hanya soal mengatur uang, tetapi juga bagian dari proses membangun kesadaran diri (self-growth).
Bersyukur dan Mawas Diri
Langkah pertama adalah belajar bersyukur. Jika uang yang kita gunakan berasal dari orang tua, penting untuk menyadari bahwa mereka telah bekerja keras dan mempercayakan kita untuk mengelolanya dengan bijak.
Dari sini, kita juga diajak untuk mawas diri, yaitu menahan dorongan berlebihan untuk jajan atau membeli barang yang sebenarnya tidak dibutuhkan.
Kesadaran untuk bersyukur dan mawas diri adalah fondasi penting sebelum melangkah lebih jauh. Namun, agar kebiasaan impulsive buying benar-benar bisa dikendalikan, kesadaran itu perlu ditunjang dengan langkah-langkah praktis dalam kehidupan sehari-hari.
Menurut Ratih Ibrahim, S.Psi., Psikolog, MM menyebutkan 5 cara sederhana yang bisa mulai diterapkan untuk membantu mengurangi kebiasaan belanja impulsive
5 Cara Mengurangi Impulsive Buying
Belajar mengurangi impulsive buying memang tidak instan. Dibutuhkan kesadaran, latihan, serta komitmen untuk lebih bijak dalam mengelola uang.
Kuncinya ada pada cara kita memandang uang dan kebiasaan belanja, apakah hanya sebagai sarana memuaskan keinginan sesaat, atau sebagai alat untuk mencapai tujuan jangka panjang yang lebih bermakna.
Dengan membiasakan diri bersyukur atas apa yang sudah dimiliki, mawas diri terhadap dorongan belanja, menerapkan langkah-langkah praktis seperti mencatat pengeluaran, membuat rencana bulanan, hingga memberi hadiah hanya saat berprestasi, kamu bisa sedikit demi sedikit mengendalikan kebiasaan belanja impulsif.
Pada akhirnya, mengurangi impulsive buying bukan berarti mengekang diri sepenuhnya dari kesenangan, melainkan belajar menempatkan prioritas.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
12 Rekomendasi Mall Terbaik di Tangerang 2026: Destinasi Belanja, Kuliner & Lifestyle Favorit
Update Klasemen Usai MotoGP Catalunya 2026: Jorge Martin Gigit Jari, Bezzecchi Masih Tak Tersentuh
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Catalunya 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama Start P20
