Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 6 Agustus 2025 | 17.14 WIB

Berargumen Tak Perlu Berteriak, 5 Strategi Elegan Saat Bertengkar yang Selalu Dilakukan Orang Berkelas, Menurut Psikologi

Ilustrasi orang-orang berkelas yang sedang berargumen. (Geediting) - Image

Ilustrasi orang-orang berkelas yang sedang berargumen. (Geediting)

JawaPos.com – Saat pertengkaran memanas, tak sedikit orang yang terpancing emosi, kehilangan kendali, dan akhirnya memperburuk keadaan. 

Namun, ada tipe orang yang tetap tenang, santun, dan solutif di tengah konflik. Mereka bukan berdebat untuk menang, tetapi untuk menjaga martabat semua pihak tetap utuh. 

Menurut penelitian psikologi modern, keterampilan ini bukanlah bawaan lahir. Justru, ini merupakan serangkaian kebiasaan yang bisa dipelajari dan diterapkan oleh siapa saja. 

Strategi ini telah diuji secara ilmiah dan terbukti membantu meredam konflik tanpa harus mengorbankan integritas pribadi.

Dilansir dari laman Geediting, Selasa (5/8/2025), para peneliti menemukan lima kebiasaan kunci yang secara konsisten dilakukan oleh orang-orang berkelas ketika menghadapi konflik. Inilah lima strategi tersebut yang telah terbukti secara ilmiah:

1. Mengatur Emosi Sebelum Merespons

Orang berkelas tidak menunggu suasana hati membaik dengan sendirinya. Mereka menciptakan ruang untuk ketenangan. Studi dari University of St Andrews menunjukkan bahwa jeda lima detik dapat menghentikan lonjakan agresi dan mencegah konflik memburuk. 

Teknik ini masuk dalam prinsip pengaturan emosi—dengan menarik napas dalam, mengambil jeda, atau memberi waktu sejenak—untuk menghindari pertengkaran personal.

2. Mendengarkan Secara Aktif dan Empatik

Setelah tenang, fokus mereka beralih pada mendengarkan secara tulus. 

StatPearls mencatat bahwa active listening, yakni dengan kontak mata, tanggapan singkat seperti “Saya paham” atau “Lanjutkan,” serta meringkas poin lawan bicara, terbukti meningkatkan empati dan mengurangi salah paham. 

Pendengar empatik juga mengenali emosi, jadi mereka tak akan cepat tersulut oleh situasi yang kurang mengenakan.

3. Menggunakan Kalimat “Saya” daripada Menyalahkan

Tuduhan adalah bahan bakar konflik. Orang berkelas memilih mengatakan, “Saya merasa…” ketimbang penyerahan seperti “Kamu selalu…!”

Penelitian dalam Psychology of Language & Communication menunjukkan bahwa pernyataan dengan “saya” jauh lebih kecil kemungkinannya memicu respons defensif dibanding pernyataan dengan “kamu.”

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore