
tujuh pengalaman masa kecil yang sering kali jadi akar kenapa seseorang tumbuh dengan kebutuhan konfirmasi. (Pexels.com)
JawaPos.com - Kamu mungkin punya teman yang suka kirim pesan tiga kali berturut-turut cuma buat nanya, “Kamu marah ya?” Atau rekan kerja yang terus-menerus minta validasi, padahal pekerjaannya sudah oke banget?
Mungkin itu juga kamu yang tidak bisa tenang sebelum ada kepastian, yang harus cek ulang segala hal hanya untuk merasa aman.
Kebiasaan cari kepastian ini sebenarnya bukan muncul begitu saja. Banyak orang yang tumbuh besar sambil membawa sisa-sisa ketidakpastian dari masa kecil.
Dilansir dari VegOut, ada tujuh pengalaman masa kecil yang sering kali jadi akar kenapa seseorang tumbuh dengan kebutuhan konfirmasi yang besar di masa dewasa. Apakah kamu pernah mengalami salah satunya?
1. Orang Tua yang Emosinya Tidak Konsisten
Pernah pulang sekolah dan bertanya-tanya, “Hari ini orang tua lagi marah atau lagi baik?” Kadang mereka hangat dan perhatian, tapi di hari lain terasa jauh, sibuk, atau bahkan tidak peduli.
Anak-anak yang tumbuh dengan dinamika seperti ini belajar satu hal: cinta itu tidak pasti. Maka sejak kecil, mereka jadi ahli membaca suasana, mencari sinyal apakah hari ini aman untuk bercerita atau lebih baik diam.
Kebiasaan ini terbawa hingga dewasa. Ada kebutuhan terus-menerus untuk memastikan, "Apakah kita baik-baik saja?" setelah pertengkaran kecil. Bahkan urusan kerja pun bisa terasa tidak tenang tanpa ucapan, “Kerjaanmu sudah oke.”
2. Terlalu Sering Dikritik atau Dihukum Berlebihan
Kalau menumpahkan minuman langsung dimarahi karena “ceroboh”, atau dapat nilai B+ malah ditanya kenapa bukan A — hati-hati, itu bisa menanam benih ketakutan akan kesalahan.
Anak yang terus-menerus dikritik jadi tumbuh dengan suara batin yang galak. Setiap kesalahan kecil bisa terasa seperti bencana. Maka jadilah orang dewasa yang minta maaf karena telat lima menit atau panik karena lupa satu detail kecil di presentasi.
Mereka butuh kepastian terus, karena mereka tidak bisa mempercayai penilaian diri sendiri tentang apa yang sebenarnya serius dan apa yang tidak.
3. Tumbuh dengan Orang Tua yang Cemas Berlebihan
Orang tua yang cemas sering tidak sadar bahwa kecemasannya menular. Anak-anak menyerap itu seperti spons.
Kalau ibunya selalu ngecek pintu lima kali sebelum tidur, atau ayahnya panik hanya karena mendung, anak-anak akan menyimpulkan bahwa dunia memang berbahaya.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
