
Ilustrasi bulan Suro (freepik/wirestock)
JawaPos.com - Dalam tradisi dan kepercayaan masyarakat Jawa, setiap bulan dalam kalender Jawa memiliki karakter dan energi tersendiri. Salah satu bulan yang cukup dikenal memiliki aura khusus adalah bulan Safar.
Bukan tanpa alasan, menurut primbon Jawa, bulan ini diyakini sebagai masa yang kurang baik untuk melakukan berbagai aktivitas besar.
Menurut penjelasan pada salah satu video di kanal youtube Sabdaning Ratu, yang dikenal aktif membahas spiritualitas dan ilmu titen Jawa, secara rinci watak bulan Safar dan berbagai hal yang sebaiknya dihindari.
Pengetahuan ini bukan untuk menakut-nakuti, tapi justru menjadi bekal agar kita lebih berhati-hati dalam melangkah. Berikut hal-hal yang sebaiknya dihindari saat bulan safar menurut primbon Jawa.
1. Hajatan Pernikahan Tidak Disarankan: Dalam primbon Jawa, bulan Safar dianggap kurang baik untuk menyelenggarakan pernikahan. Jika tetap dilakukan, dikhawatirkan kehidupan rumah tangga pasangan tersebut akan banyak diliputi utang dan kekurangan secara ekonomi. Oleh karena itu, disarankan untuk mencari bulan lain yang lebih mendukung secara energi spiritual.
2. Bercocok Tanam di Bulan Safar, Awalnya Baik Tapi Akhirnya Gagal: Bagi para petani, penting untuk mencatat bahwa bulan Safar bukan waktu yang tepat untuk mulai bercocok tanam. Meski awalnya tanaman terlihat tumbuh baik, namun menurut Sabdaning Ratu, pada akhirnya hasil panen akan mengecewakan dan bahkan bisa menyebabkan kerugian modal.
3. Hindari Menggelar Hajatan di Tanggal-Tanggal Naas: Primbon Jawa juga mencatat beberapa tanggal Jawa yang sebaiknya dihindari untuk acara besar, seperti tanggal 6 (naas tahun), tanggal 11 dan 26 (sangar bulan), serta tanggal 20 (padewan dan Rebo Wekasan). Acara penting yang dipaksakan tetap digelar pada tanggal-tanggal tersebut bisa membawa energi negatif bagi pemilik hajat.
Percaya atau tidak, ajaran primbon Jawa adalah warisan kearifan lokal yang telah ada selama berabad-abad. Dalam konteks bulan Safar, ada baiknya kita lebih berhati-hati dan menghindari kegiatan besar yang bisa berdampak panjang. Terlebih, Safar tahun ini bertepatan dengan bulan Sunyo, yang menurut Sabdaning Ratu berarti “hening” atau “kosong”, dan membuat semua energi baik dari aktivitas apapun ikut terserap sunyi.
Menunda bukan berarti gagal, tapi justru bisa menjadi cara untuk melangkah lebih bijak. Semoga wawasan ini bisa menambah kehati-hatian kita dalam merancang hidup, tanpa melupakan bahwa segala yang terjadi tetap atas kehendak Tuhan Yang Maha Kuasa.

Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Hasil Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Bikin Kejutan! Tembus 13 Besar di FP2
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
12 Hotel Terbaik di Semarang dengan Fasilitas Lengkap, Nuansa Cozy dan Menenangkan untuk Quality Time Bersama Orang Tercinta
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
