Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 23 Juni 2025 | 06.15 WIB

Ahli Saraf Ungkap Musik Ternyata Dapat Menyentuh Semua Bagian Otak: Mulai dari Emosi, Memori, hingga Bikin Tubuh Ikut Bergerak

Seorang perempuan mendengarkan musik dengan mata tertutup, mengekspresikan kedalaman emosi dan koneksi neurologis yang dipicu oleh alunan nada. (Dok. Canva) - Image

Seorang perempuan mendengarkan musik dengan mata tertutup, mengekspresikan kedalaman emosi dan koneksi neurologis yang dipicu oleh alunan nada. (Dok. Canva)

JawaPos.com – Apa yang membuat musik begitu menyentuh hati kita? Mengapa nada sederhana bisa membuat tubuh ikut bergoyang atau bahkan air mata menetes tanpa sadar?

Menurut Robert Zatorre, seorang ahli saraf terkemuka dari Montreal Neurological Institute, musik bukan sekadar hiburan. Musik menyentuh hampir semua fungsi kognitif manusia.

Dikutip dari laporan El País, Zatorre menyebut bahwa musik memengaruhi persepsi, memori, emosi, bahkan kemampuan motorik kita.

"Menariknya, musik menyentuh semua aspek kognitif yang kita miliki," ujarnya. Ia meneliti topik ini sejak tahun 1970-an, ketika pendekatan tersebut masih dianggap tak lazim di dunia sains.

Zatorre yang awalnya jatuh cinta pada musik The Beatles dan The Rolling Stones, akhirnya lebih mendalami dunia Johann Sebastian Bach lewat pelajaran organ gereja. Kecintaannya pada musik pun ia gabungkan dengan minat pada ilmu pengetahuan, hingga lahirlah spesialisasinya dalam psikologi eksperimental dan neuropsikologi.

Penelitian Zatorre menunjukkan bahwa mendengar ritme tertentu bisa mengaktifkan area motorik di otak. Inilah sebabnya musik sering membuat kita bergoyang, bahkan sejak bayi.

"Jika kita melihat bandul bergerak, kita tak merasa ingin berdansa. Tapi jika mendengar irama, tubuh kita mulai bergerak. Itu menunjukkan adanya hubungan khusus antara sistem pendengaran dan motorik," jelasnya.

Sebagian besar dari kita pernah merasakan merinding atau bahkan menangis saat mendengar lagu tertentu. Ini karena musik mengaktifkan reward circuit, yaitu bagian otak yang sama yang bereaksi terhadap makanan enak atau pengalaman seksual.

"Padahal, makanan dan seks penting untuk bertahan hidup. Musik tidak. Tapi, nyatanya, ia juga bisa memberi kenikmatan luar biasa," kata Zatorre.

Menurutnya, otak manusia adalah mesin prediksi. Saat kita mendengarkan musik, otak mencoba menebak apa nada selanjutnya.

Jika prediksi itu terpenuhi atau dibalik secara mengejutkan, muncul rasa puas dan senang. Musik pun menjadi cara alamiah untuk “memainkan” sistem prediktif ini.

Dari sisi sosial, musik berperan besar dalam membentuk identitas kelompok.

"Remaja, misalnya, tidak pernah mau mendengarkan musik yang disukai orang tua mereka. Musik menjadi alat untuk mengidentifikasi kelompok dan memisahkan diri dari generasi sebelumnya,: ujarnya.

Meski demikian, tak semua orang terhubung dengan musik. Penelitian Zatorre menemukan bahwa sekitar 2–4 persen populasi tidak merasakan kenikmatan dari musik sama sekali. Ini bukan karena depresi atau gangguan lain, tetapi karena koneksi antara area pendengaran dan pusat kenikmatan mereka lebih lemah.

Penelitian modern menunjukkan bahwa musik punya potensi besar dalam terapi. Zatorre menyoroti salah satu program di Finlandia yang melibatkan pasien afasia, yaitu gangguan bicara akibat kerusakan otak. Para pasien yang kesulitan berbicara diajak bernyanyi dalam paduan suara. Hasilnya bukan hanya membantu kemampuan vokal, tapi juga memberi kebahagiaan dan rasa percaya diri.

Editor: Siti Nur Qasanah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore