Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 3 Juni 2025 | 23.27 WIB

7 Tanda Kamu Kecanduan Media Digital dan Punya Ketergantungan Tidak Sehat dengan Gadget

Ilustrasi. (pexels.com) - Image

Ilustrasi. (pexels.com)

JawaPos.com - Pada tahun 2007, Steve Jobs memperkenalkan iPhone sebagai "tiga perangkat dalam satu." 

Tapi yang tidak dia sebutkan adalah fungsi keempat yang kini terasa sangat dominan: alat pengubah perilaku yang jauh lebih kuat daripada apa pun yang dibayangkan oleh B.F. Skinner. 

Dalam waktu singkat, para psikolog perilaku yang dulu bekerja di universitas mulai direkrut oleh perusahaan teknologi untuk menciptakan apa yang disebut sebagai "desain persuasif."

Perancang tombol Like Facebook pernah menyebut karyanya sebagai "tanda-tanda kesenangan semu yang cemerlang." 

Sementara itu, Tristan Harris, mantan ahli desain etika di Google, mengatakan dengan lugas: masalahnya bukan karena kamu kurang kemauan, tetapi karena ada ribuan orang di balik layar yang bertugas memecah konsentrasimu. 

Perhatian berubah menjadi komoditas, dan gadget menjadi alat bor yang menggali tambang paling berharga: kesadaranmu. Berikut ini adalah tujuh tanda bahwa kamu tidak hanya menggunakan gadget, tapi mungkin sudah terlalu bergantung padanya, seperti dilansir dari Geediting.

1. Sindrom "Getaran Hantu"

Kamu merasa ponselmu bergetar, padahal tidak ada notifikasi. Kamu meraih saku, tapi ternyata kosong. Fenomena ini disebut “getaran hantu,” dan menurut penelitian Dr. Michelle Drouin dari Universitas Indiana, 89% mahasiswa mengalaminya. 

Sistem sarafmu mulai menafsirkan segala sensasi kecil sebagai kemungkinan notifikasi. Ketika sebuah benda bisa membuatmu merasa sesuatu yang tidak nyata, kendali atas pengalaman sensorikmu perlahan memudar.

2. Lingkaran Setan Dopamin

Perhatikan kebiasaanmu mengecek ponsel. Bukan karena ada alasan jelas, tapi karena ada dorongan untuk melihat “ada apa.” Dr. Anna Lembke menyebut ini sebagai kondisi defisit dopamin—setiap aktivitas pengecekan melepaskan dopamin kecil, bukan untuk kepuasan, tetapi untuk pencarian. 

Ironisnya, dopamin lebih banyak muncul saat mengantisipasi sesuatu, bukan saat menemukannya. Akibatnya, kamu terus mengulang siklus ini 20 hingga 30 kali per jam tanpa alasan jelas selain rasa ingin tahu yang tidak pernah tuntas.

3. Runtuhnya Kedalaman Koneksi

Coba taruh ponselmu di meja saat sedang makan bersama teman. Tidak butuh waktu lama sampai seseorang meliriknya, lalu berkata, “Maaf, cuma mau cek sebentar.” Tapi sebenarnya mereka tidak sedang memeriksa sesuatu—mereka sedang melarikan diri. 

Dr. Sherry Turkle menyebut ini sebagai "perhatian parsial yang berkelanjutan." Kamu ada secara fisik, tapi mentalmu tersebar ke tempat lain. 

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore