
Ilustrasi tujuh cara tak terdeteksi yang dapat menyebabkan teknologi menumbuhkan rasa kesepian, meskipun koneksi digital tak terbatas. (Pexels)
JawaPos.com - Teknologi punya cara yang lucu untuk menjanjikan konektivitas dengan banyak orang dari tempat yang jauh. Namun, kecanggihan teknologi terkadang justru memberikan hal yang sebaliknya.
Kita lebih terhubung dari sebelumnya, tetapi banyak dari kita yang akhirnya merasakan terisolasi. Ironisnya terletak pada kehalusan bagaimana perangkat dan aplikasi, yang dirancang untuk menyatukan, justru semakin menjauhkan kita.
Dilansir dari Small Business Bonfire, terdapat tujuh cara tak terdeteksi yang dapat menyebabkan teknologi menumbuhkan rasa kesepian, meskipun koneksi digital tak terbatas.
1. Ilusi koneksi
Mudah untuk percaya bahwa kita terhubung saat perangkat kita terus-menerus dipenuhi notifikasi. Namun, ada perbedaan mendasar antara interaksi digital dan koneksi tatap muka yang sesungguhnya.
Interaksi manusia yang sesungguhnya melibatkan lebih dari sekadar mengirim teks atau emoji. Interaksi tersebut meliputi membaca ekspresi wajah, merasakan nada emosi, dan berbagi ruang fisik.
Perangkat kita, betapapun bergunanya, tidak dapat meniru aspek-aspek hubungan antarmanusia ini. Obrolan digital yang terus-menerus dapat memberi kita rasa kepuasan sosial yang salah, sementara sebenarnya membuat kita merasa hampa.
2. Perangkap perbandingan
Saat menelusuri feed media sosial, mudah bagi kita untuk mulai membandingkan kehidupan kita sendiri dengan kehidupan yang diatur dengan cermat dan tampak sempurna yang kita lihat di internet.
Paparan terus-menerus terhadap cuplikan momen terbaik orang lain dapat membuat kita merasa tersisih dan kesepian, meskipun kita berinteraksi dengan orang lain secara daring.
Mengenali perangkap perbandingan ini dapat membantu kita menanggapi unggahan media sosial dengan skeptis dan lebih menghargai kehidupan kita sendiri.
3. Paradoks pilihan
Dengan aplikasi dan situs web yang menawarkan ribuan film, lagu, dan buku di ujung jari kita, kita tidak pernah kekurangan pilihan hiburan. Namun, kelimpahan ini dapat menimbulkan masalah tersendiri.
Psikolog Barry Schwartz menyebut ini paradoks pilihan. Penelitiannya menunjukkan bahwa meskipun beberapa pilihan tidak diragukan lagi lebih baik daripada tidak ada sama sekali, lebih banyak pilihan tidak selalu lebih baik daripada lebih sedikit.
Terlalu banyaknya pilihan dapat menimbulkan kecemasan dan stres, membuat kita merasa terisolasi dalam keragu-raguan kita.

16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
