
Ilustrasi delapan kebiasaan sehari-hari dari orang yang jarang merasa cemas dalam hidup.
JawaPos.com - Kecemasan dapat terasa seperti bagian yang tidak dapat dihindari dalam kehidupan. Kita terus menerus diberitahu bahwa stres menjadi bagian dalam hidup, berpikir berlebihan tidak dapat dihindari dan beberapa orang secara alami lebih khawatir dibandingkan yang lain.
Namun, secara mengejutkan ada beberapa orang langka yang tampaknya hampir kebal terhadap hal itu. Apapun yang terjadi dalam hidup, mereka selalu mampu menghadapinya dengan percaya diri, tenang, dan siap.
Ternyata, ini bukanlah soal keberuntungan untuk hidup yang lebih mudah. Menurut psikologi, orang yang jarang merasa cemas cenderung mengikuti beberapa kebiasaan harian yang membuat pikiran mereka tetap jernih dan emosi tetap stabil.
Dilansir dari Blog Herald, inilah delapan kebiasaan sehari-hari dari orang yang jarang merasa cemas dalam hidup.
1. Tidak memulai hari dengan hal-hal yang negatif
Cara kamu memulai pagi memiliki dampak besar pada bagaimana sisa harimu berjalan. Orang yang jarang merasa cemas tidak akan langsung stres saat bangun tidur.
Mereka tidak akan mengecek ponsel untuk mencari berita buruk, email yang tidak terjawab, atau drama media sosial begitu mereka membuka mata. Mereka tidak membiarkan pikiran pertamanya adalah tentang segala hal yang mungkin salah.
Sebaliknya, mereka memulai hari dengan penuh niat. Mungkin dengan menarik napas dalam-dalam, menikmati secangkir kopi, atau sekadar melakukan peregangan sebelum memulai tugas.
Ini bukan tentang berpura-pura tidak ada masalah, ini tentang tidak membiarkan masalah menentukan suasana hati sepanjang hari bahkan sebelum hari itu dimulai.
2. Menciptakan ruang antara diri dan pikirannya
Beberapa orang memercayai setiap pikiran cemas yang muncul di kepalanya. Jika mereka tiba-tiba khawatir tentang masa depan, hubungan, atau apakah mereka telah mengatakan sesuatu yang memalukan dalam sebuah percakapan, mereka menganggapnya sebagai kebenaran mutlak.
Namun, orang yang jarang merasa cemas tidak melakukan hal ini. Mereka tidak serta-merta memercayai setiap pikiran begitu saja. Sebaliknya, mereka menciptakan ruang antara diri mereka dan ocehan pikiran mereka.
Ini tidak berarti mereka mengabaikan pikiran mereka, melainkan mereka mengamatinya tanpa benar-benar terlibat.
Baik melalui penulisan jurnal, meditasi, atau sekadar berhenti sejenak dan bertanya, "Apakah pikiran ini benar?" mereka menghentikan kecemasan agar tidak menguasai diri bahkan sebelum kecemasan itu dimulai.
3. Fokus pada apa yang bisa mereka kendalikan

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
