
Orang yang Merasa Terganggu dengan Suara Kunyahan Keras Biasanya Menunjukkan 7 Perilaku Ini
JawaPos.com - Pernah merasa jengkel saat mendengar seseorang mengunyah makanan dengan keras? Kalau iya, kamu tidak sendirian.
Ada perbedaan besar antara sekadar menganggap suara itu mengganggu dan benar-benar memiliki reaksi emosional yang intens terhadapnya. Dalam dunia psikologi, ada istilah khusus untuk kondisi ini, yaitu misophonia, yang berarti kebencian terhadap suara tertentu.
Bagi sebagian orang, suara kunyahan keras bukan sekadar gangguan kecil, melainkan sesuatu yang bisa menimbulkan rasa marah, cemas, atau bahkan panik. Biasanya, orang yang mengalami ini menunjukkan beberapa perilaku tertentu dalam kehidupan sehari-hari.
Dilansir dari laman Geediting.com pada Jumat (14/2) berikut tujuh di antaranya.
1. Sensitivitas Tinggi terhadap Suara
Kalau kamu merasa terganggu dengan suara kunyahan keras, kemungkinan besar kamu juga lebih peka terhadap suara lain. Misalnya, suara ketukan pena, klik keyboard, atau suara seret kursi bisa langsung membuat suasana hatimu berubah. Ini bukan hanya soal rasa tidak suka biasa, tetapi lebih ke kepekaan tinggi pada suara yang membuat otakmu bereaksi lebih cepat terhadap bunyi-bunyian tertentu.
Dalam psikologi, misophonia dikaitkan dengan reaksi emosional yang intens terhadap suara pemicu. Orang yang mengalami kondisi ini mungkin tidak bisa mengabaikan suara mengunyah dan malah menjadi semakin fokus pada suara tersebut, yang akhirnya membuat mereka merasa tidak nyaman atau bahkan frustrasi.
2. Penggunaan Headphone sebagai Mekanisme Koping
Orang yang merasa terganggu dengan suara kunyahan keras sering kali menggunakan headphone sebagai solusi instan. Bukan hanya untuk mendengarkan musik, tapi lebih ke upaya melindungi diri dari suara-suara yang memicu reaksi negatif.
Jadi, kalau kamu sering melihat seseorang memakai earphone saat makan bersama atau di tempat umum, ada kemungkinan mereka sedang mencoba menghindari suara-suara tertentu yang bisa memicu misophonia mereka. Ini adalah salah satu bentuk mekanisme koping agar tetap bisa beraktivitas tanpa merasa terganggu.
3. Respon Emosional terhadap Suara Pemicu
Bukan sekadar merasa terganggu, orang dengan misophonia biasanya memiliki reaksi emosional yang lebih intens. Bisa berupa rasa tidak nyaman, gelisah, marah, atau bahkan panik. Dalam beberapa kasus ekstrem, mereka bisa mengalami gejala fisik seperti jantung berdebar lebih cepat, berkeringat, atau bahkan serangan panik saat mendengar suara kunyahan yang keras.
Reaksi ini terjadi karena otak mereka menganggap suara tersebut sebagai ancaman, sehingga secara otomatis memicu respons "fight or flight" alias melawan atau melarikan diri. Inilah sebabnya mengapa orang dengan kepekaan tinggi terhadap suara sering kali merasa harus segera meninggalkan situasi yang mengganggu mereka.
4. Kecenderungan Menghindari Situasi Sosial
Bagi sebagian orang, makan bersama keluarga atau teman-teman adalah momen yang menyenangkan. Tapi bagi mereka yang merasa terganggu dengan suara kunyahan keras, ini bisa menjadi sumber stres.

Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
Sony Sonjaya Akan Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator Kasus MBG, Janjikan Buka Nama-Nama Besar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kalah di Pengadilan Soal Sanksi Etik Promotor Disertasi Bahlil, Guru Besar UI: Mahasiswa Ini Bukan Main-main
Prediksi Haiti vs Peru 6 Juni 2026: Momentum Positif Les Grenadiers Uji Kebangkitan La Blanquirroja
3 Bintang Baru Sudah Deal! Persebaya Surabaya Siapkan Misi Besar Bernardo Tavares di Musim 100 Tahun
