
Ilustrasi Orang yang Tidak Memiliki Kecerdasan Emosional
JawaPos.com - Dalam kehidupan sehari-hari, kita sering kali mendengar atau bahkan tanpa sadar mengucapkan frasa yang bisa melukai perasaan orang lain.
Padahal, kecerdasan emosional bukan hanya tentang memahami perasaan sendiri, tetapi juga tentang bagaimana kata-kata kita berdampak pada orang lain.
Orang dengan kecerdasan emosional rendah sering kali tidak menyadari bahwa cara mereka berbicara bisa terkesan meremehkan, menyakitkan, atau bahkan membuat orang lain semakin kesal.
Dalam psikologi sosial, hal ini berkaitan dengan kurangnya empati atau kemampuan untuk memahami dan menghargai perspektif serta perasaan orang lain.
Dilansir dari laman Geediting.com pada Rabu (12/2) berikut adalah tujuh frasa tidak peka yang sering diucapkan tanpa disadari oleh orang yang kurang empati.
1. "Tenanglah"
Jika seseorang sedang marah, kesal, atau cemas, menyuruh mereka untuk "tenang" hampir tidak pernah berhasil. Faktanya, frasa ini sering kali memiliki efek sebaliknya, yakni membuat orang tersebut semakin frustrasi.
Ketika seseorang sedang dalam kondisi emosional yang kuat, mereka butuh validasi atas perasaannya, bukan perintah untuk menekan atau mengabaikannya. Alih-alih terdengar membantu, ucapan ini justru bisa dianggap sebagai bentuk meremehkan situasi mereka.
2. "Itu bukan masalah besar"
Frasa ini biasanya diucapkan dengan maksud menenangkan atau memberikan perspektif lain. Namun, dalam praktiknya, ini bisa terdengar seperti meremehkan perasaan seseorang.
Apa yang dianggap sepele bagi satu orang belum tentu sama bagi orang lain. Dalam psikologi sosial, kita memahami bahwa pengalaman emosional itu subjektif yang artinya, setiap orang memiliki cara berbeda dalam merespons suatu situasi. Jadi, ketika seseorang membagikan keluh kesahnya, mereka lebih membutuhkan pengakuan dan empati daripada sekadar penilaian bahwa masalah mereka "tidak seberapa."
3. "Kamu selalu…" atau "Kamu tidak pernah…"
Frasa ini sering muncul saat terjadi konflik. Masalahnya, kata-kata seperti "selalu" dan "tidak pernah" adalah bentuk generalisasi yang cenderung membuat seseorang bersikap defensif. Misalnya, jika Anda berkata, "Kamu tidak pernah mendengarkan aku," otak lawan bicara Anda secara otomatis akan mencari contoh saat mereka memang pernah mendengarkan.
Akibatnya, bukannya memahami perasaan Anda, mereka justru sibuk membuktikan bahwa Anda salah. Orang dengan kecerdasan emosional rendah cenderung menggunakan pola komunikasi ini tanpa menyadari bahwa itu membuat percakapan menjadi buntu.
4. "Saya hanya jujur"

Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
Sony Sonjaya Akan Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator Kasus MBG, Janjikan Buka Nama-Nama Besar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kalah di Pengadilan Soal Sanksi Etik Promotor Disertasi Bahlil, Guru Besar UI: Mahasiswa Ini Bukan Main-main
Prediksi Haiti vs Peru 6 Juni 2026: Momentum Positif Les Grenadiers Uji Kebangkitan La Blanquirroja
3 Bintang Baru Sudah Deal! Persebaya Surabaya Siapkan Misi Besar Bernardo Tavares di Musim 100 Tahun
