Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 10 Februari 2025 | 19.56 WIB

Orang yang Sangat Bergantung pada Validasi Eksternal Sering Kali Menunjukkan 8 Kebiasaan Ini Tanpa Mereka Sadari

Ilustrasi seseorang yang sangat bergantung pada validasi eksternal. (Freepik) - Image

Ilustrasi seseorang yang sangat bergantung pada validasi eksternal. (Freepik)

JawaPos.com - Mendapatkan pujian dari orang lain memang menyenangkan, sementara kritik bisa terasa menyakitkan. Itu adalah hal yang wajar. Namun, bagi sebagian orang, validasi dari orang lain bukan sekadar bonus—melainkan kebutuhan utama.

Tanpa persetujuan dari orang lain, mereka bisa merasa cemas, ragu, bahkan kehilangan arah. Yang lebih sulit adalah, mereka sering kali tidak menyadari seberapa besar ketergantungan mereka terhadap validasi eksternal.

Kebutuhan akan pengakuan ini bisa muncul dalam berbagai bentuk—kebiasaan kecil, pola interaksi, hingga perilaku yang tampak biasa, tetapi sebenarnya mencerminkan keinginan besar untuk diterima.

Dilansir dari News Reports pada Senin (10/2), berikut delapan kebiasaan yang sering dilakukan orang yang sangat bergantung pada validasi eksternal tanpa mereka sadari. Apakah kamu pernah melakukannya?

1. Selalu Mencari Kepastian

Tidak ada yang suka merasa ragu. Namun, bagi mereka yang sangat bergantung pada validasi eksternal, ketidakpastian adalah sesuatu yang sulit ditoleransi. Mereka terus-menerus mencari kepastian, apakah tentang keputusan yang diambil, nilai diri, atau bagaimana orang lain memandang mereka.

Pertanyaan seperti, "Apakah ini terlihat bagus?" atau "Menurutmu aku sudah melakukan yang terbaik?" sering kali mereka lontarkan tanpa sadar.Jika tidak mendapatkan validasi yang diharapkan, mereka akan mudah diliputi keraguan.

2. Sering Meminta Maaf, Meski Tidak Bersalah

Banyak orang yang memiliki kebiasaan meminta maaf berlebihan, bahkan ketika mereka tidak melakukan kesalahan. Jika ada yang menabrak mereka, mereka yang bergantung pada validasi eksternal mungkin akan refleks meminta maaf terlebih dahulu.

Bahkan, ketika ingin menanyakan sesuatu, mereka mungkin berkata, "Maaf mengganggu, tetapi ..." Bukan sekadar kesopanan, kebiasaan ini sering kali merupakan cara mereka untuk memastikan bahwa tidak ada yang kesal atau terganggu dengan kehadiran mereka.

3. Mengubah Pendapat Demi Menyesuaikan Diri

Setiap orang ingin diterima dalam lingkungannya. Namun, beberapa orang cenderung mengorbankan opini dan preferensi pribadi demi menyamakan pandangan dengan orang lain.

Mereka mengangguk setuju bahkan ketika tidak sepenuhnya sepakat, tertawa pada lelucon yang sebenarnya tidak lucu, dan enggan mengungkapkan pendapat berbeda karena takut dijauhi. Faktanya, rasa takut akan penolakan sosial ini begitu kuat sehingga bisa terasa seperti ancaman nyata.

4. Tidak Nyaman Jika Pesan Tidak Dibalas

Bagi sebagian orang, pesan yang tidak segera dibalas hanyalah bagian dari kehidupan. Namun, bagi mereka yang sangat bergantung pada validasi eksternal, keheningan bisa terasa sangat pribadi.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore