
Ilustrasi seseorang yang sangat bergantung pada validasi eksternal. (Freepik)
JawaPos.com - Mendapatkan pujian dari orang lain memang menyenangkan, sementara kritik bisa terasa menyakitkan. Itu adalah hal yang wajar. Namun, bagi sebagian orang, validasi dari orang lain bukan sekadar bonus—melainkan kebutuhan utama.
Tanpa persetujuan dari orang lain, mereka bisa merasa cemas, ragu, bahkan kehilangan arah. Yang lebih sulit adalah, mereka sering kali tidak menyadari seberapa besar ketergantungan mereka terhadap validasi eksternal.
Kebutuhan akan pengakuan ini bisa muncul dalam berbagai bentuk—kebiasaan kecil, pola interaksi, hingga perilaku yang tampak biasa, tetapi sebenarnya mencerminkan keinginan besar untuk diterima.
Dilansir dari News Reports pada Senin (10/2), berikut delapan kebiasaan yang sering dilakukan orang yang sangat bergantung pada validasi eksternal tanpa mereka sadari. Apakah kamu pernah melakukannya?
1. Selalu Mencari Kepastian
Tidak ada yang suka merasa ragu. Namun, bagi mereka yang sangat bergantung pada validasi eksternal, ketidakpastian adalah sesuatu yang sulit ditoleransi. Mereka terus-menerus mencari kepastian, apakah tentang keputusan yang diambil, nilai diri, atau bagaimana orang lain memandang mereka.
Pertanyaan seperti, "Apakah ini terlihat bagus?" atau "Menurutmu aku sudah melakukan yang terbaik?" sering kali mereka lontarkan tanpa sadar.Jika tidak mendapatkan validasi yang diharapkan, mereka akan mudah diliputi keraguan.
2. Sering Meminta Maaf, Meski Tidak Bersalah
Banyak orang yang memiliki kebiasaan meminta maaf berlebihan, bahkan ketika mereka tidak melakukan kesalahan. Jika ada yang menabrak mereka, mereka yang bergantung pada validasi eksternal mungkin akan refleks meminta maaf terlebih dahulu.
Bahkan, ketika ingin menanyakan sesuatu, mereka mungkin berkata, "Maaf mengganggu, tetapi ..." Bukan sekadar kesopanan, kebiasaan ini sering kali merupakan cara mereka untuk memastikan bahwa tidak ada yang kesal atau terganggu dengan kehadiran mereka.
3. Mengubah Pendapat Demi Menyesuaikan Diri
Setiap orang ingin diterima dalam lingkungannya. Namun, beberapa orang cenderung mengorbankan opini dan preferensi pribadi demi menyamakan pandangan dengan orang lain.
Mereka mengangguk setuju bahkan ketika tidak sepenuhnya sepakat, tertawa pada lelucon yang sebenarnya tidak lucu, dan enggan mengungkapkan pendapat berbeda karena takut dijauhi. Faktanya, rasa takut akan penolakan sosial ini begitu kuat sehingga bisa terasa seperti ancaman nyata.
4. Tidak Nyaman Jika Pesan Tidak Dibalas
Bagi sebagian orang, pesan yang tidak segera dibalas hanyalah bagian dari kehidupan. Namun, bagi mereka yang sangat bergantung pada validasi eksternal, keheningan bisa terasa sangat pribadi.

11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
