JawaPos.com - Semua orang punya masa lalu dan terkadang, kita merasa seperti terjebak dalam kenangan lama yang menyakitkan. Kita seringkali tersiksa dengan itu dan sulit melangkah maju.
Kita juga sebenarnya sadar bahwa sudah saatnya move on, tetapi ada sesuatu yang terus menahan kita.
Namun, sering kali kebiasaan kitalah yang membuat kita tetap terjebak di masa lalu.
Jika kamu ingin benar-benar melepaskan beban dan melangkah maju, saatnya mengucapkan selamat tinggal pada tujuh kebiasaan ini, dikutip dari Small Business Bonfire, Jumat (7/2).
1. Menyimpan Dendam
Siapa sih yang nggak pernah disakiti? Bisa dari teman, keluarga, atau rekan kerja. Tapi menyimpan dendam sama seperti membawa beban berat yang nggak perlu.
Kadang kita berpikir bahwa tetap marah akan membuat orang lain sadar akan kesalahannya. Padahal, justru kita sendiri yang menderita.
Para ahli dari Mayo Clinic mengatakan bahwa menyimpan kebencian bisa menyebabkan stres, kecemasan, dan bahkan depresi.
Ketahuilah bahwa memaafkan bukan berarti membenarkan kesalahan orang lain, tapi itu adalah cara kita untuk membebaskan diri.
Kamu nggak harus bilang langsung ke orang yang menyakitimu—cukup lepaskan dalam hati dan fokus ke kebahagiaanmu sendiri.
2. Terjebak dalam Kesalahan Masa Lalu
Pernah nggak sih kamu terus-menerus mengingat kesalahan yang kamu buat? Mungkin kamu salah mengambil keputusan, kehilangan kesempatan besar, atau mengatakan sesuatu yang nggak seharusnya.
Memikirkan kesalahan secara berulang nggak akan mengubah apa pun, justru hanya menyakiti dirimu sendiri. Daripada terus menyalahkan diri, coba tanyakan: "Apa yang bisa aku pelajari dari ini?"
Tony Robbins pernah berkata, "Di mana fokusmu berada, di situlah energimu mengalir." Jadi, arahkan energimu ke hal-hal positif yang bisa kamu lakukan sekarang, bukan ke kesalahan yang sudah terjadi.
3. Berbicara Negatif pada Diri Sendiri
Pernah dengar suara dalam kepalamu yang bilang, "Aku nggak cukup pintar" atau "Aku pasti gagal lagi"?
Suara ini sering kali terasa nyata, padahal sebenarnya cuma hasil dari rasa takut dan keraguan diri. Ketika kita terus-menerus berbicara negatif tentang diri sendiri, kita jadi percaya bahwa itu benar.
Jadi mulai sekarang, perhatikan bagaimana kamu berbicara pada diri sendiri. Ubah kata-kata seperti "Aku selalu gagal" menjadi "Aku pernah gagal, tapi aku bisa belajar dan mencoba lagi." Kata-kata memiliki kekuatan besar untuk membentuk pola pikir kita.
4. Menyalahkan Orang Lain
Memang benar, kadang orang lain atau situasi tertentu berkontribusi pada rasa sakit yang kita alami. Namun terus-menerus menyalahkan orang lain hanya akan membuat kita kehilangan kendali atas hidup kita sendiri.
Mungkin mantanmu memang menyakitimu, atau atasanmu nggak menghargai kerjamu. Namun kalau kamu terus mencari kambing hitam, kamu nggak akan pernah benar-benar pulih.
Jadi, ambil kendali atas hidupmu sendiri dan pilih untuk sembuh dan melangkah maju.
Menulis jurnal bisa jadi cara efektif untuk melihat situasi dari sudut pandang lain. Tuliskan apa yang kamu rasakan, lalu tanyakan: "Apa yang bisa aku ubah?" Fokus pada hal yang bisa kamu kendalikan.
5. Mencari Pengakuan dari Orang Lain
Berapa kali kamu mengunggah sesuatu di media sosial dan terus-menerus mengecek jumlah likes atau komentar?
Jika kamu menggantungkan harga dirimu pada validasi orang lain, maka kamu akan terus terjebak dalam pola yang sama. Saat pujian datang, kamu merasa baik. Tapi begitu nggak ada yang peduli, kamu mulai merasa tidak berharga.
Coba kurangi ketergantungan pada media sosial dan mulai lakukan afirmasi diri. Kamu cukup baik, terlepas dari pendapat orang lain.
6. Takut untuk Terbuka
Banyak dari kita memilih untuk menekan perasaan karena takut terlihat lemah. Padahal, menutupi luka justru membuat kita semakin sulit untuk sembuh.
Ketika kamu berani terbuka—entah kepada sahabat, keluarga, atau terapis—kamu mulai melepaskan beban yang selama ini kamu simpan sendiri. Mungkin terasa menakutkan, tapi itu langkah pertama menuju penyembuhan yang sebenarnya.
7. Terlalu Banyak Overthinking
Pernah nggak, satu pikiran kecil malah berujung pada serangkaian kekhawatiran yang nggak ada habisnya?
Overthinking sering muncul karena kita ingin mengontrol segalanya agar tidak terluka lagi. Sayangnya, hidup nggak berjalan seperti itu. Semakin banyak kita berpikir tanpa tindakan nyata, semakin kita terjebak di tempat yang sama.
Coba teknik "worry timer"—beri dirimu waktu 5-10 menit untuk khawatir, lalu alihkan fokusmu ke hal yang lebih konstruktif. Atau, coba mindfulness untuk membantu kamu tetap hadir di saat ini tanpa terjebak dalam pikiran negatif.