
Ilustrasi orang self sabotage. (Freepik)
JawaPos.com - Pernahkah Anda merasa sudah begitu dekat dengan kesempatan emas, tetapi justru melakukan sesuatu yang membuat semuanya berantakan? Terkadang Anda menghindari tanggung jawab, atau bahkan meragukan diri sendiri sampai akhirnya menyerah.
Jika ini terdengar familiar, bisa jadi Anda sedang mengalami self-sabotage, sebuah kebiasaan merusak diri sendiri yang sering kali terjadi tanpa disadari. Self-sabotage bukan sekadar kurangnya motivasi atau ketidakmampuan, tetapi lebih berkaitan dengan rasa takut, pola pikir negatif, atau pengalaman masa lalu yang membentuk kepercayaan diri kita.
Pikiran seperti "Aku tidak cukup baik", "Aku pasti gagal", atau "Aku tidak pantas mendapat ini" bisa secara halus memengaruhi keputusan dan tindakan. Akibatnya, Anda menciptakan hambatan sendiri, bahkan menghilangkan peluang besar yang sudah ada di depan mata.
Lantas, mengapa kita melakukan hal yang bertentangan dengan tujuan kita sendiri? Artikel ini akan membahas penyebab utama self-sabotage serta cara menghentikannya sebelum semakin menghambat kehidupan, dikutip dari Very Well Mind, Rabu (5/2).
1. Luka dari Masa Kecil
Masa kecil yang penuh kritik atau pengabaian bisa membuat seseorang tumbuh dengan keyakinan bahwa mereka tidak pantas sukses. Misalnya, jika orang tua sering mengatakan bahwa Anda tidak akan pernah berhasil, tanpa sadar Anda bisa tumbuh dengan pola pikir bahwa setiap usaha akan sia-sia. Akibatnya, Anda cenderung menggagalkan peluang sukses untuk menghindari rasa sakit akibat kegagalan.
2. Takut akan Hubungan yang Sehat
Pengalaman buruk dalam hubungan bisa membuat seseorang melakukan sabotase saat menemukan pasangan yang baik. Jika dulu pasangan Anda sering merendahkan atau meninggalkan Anda, ada kemungkinan Anda kini merasa tidak layak dicintai. Akibatnya, Anda mungkin secara tidak sadar menciptakan konflik atau bahkan mengakhiri hubungan tanpa alasan jelas karena takut terluka lagi.
3. Ketidakpercayaan Diri
Orang dengan harga diri rendah sering kali bertindak sesuai dengan keyakinan negatif mereka. Jika sepanjang hidup mereka diberitahu bahwa mereka tidak akan berhasil, mereka mungkin secara tidak sadar memastikan hal itu benar dengan menunda pekerjaan, tidak menyelesaikan proyek, atau membuat keputusan buruk yang menggagalkan keberhasilan mereka sendiri.
4. Disonansi Kognitif
Fenomena ini terjadi ketika seseorang mengalami konflik antara keyakinan dan tindakan mereka. Misalnya, Anda tumbuh di keluarga yang mengalami pernikahan tidak harmonis, sehingga Anda tidak percaya pada konsep hubungan bahagia. Akibat konflik batin ini, Anda bisa saja mulai meragukan hubungan atau bahkan menciptakan masalah agar pernikahan tidak terwujud.
Contoh Perilaku Self-Sabotage
Prokrastinasi: Menunda pekerjaan penting hingga terlambat atau gagal menyelesaikannya.
Perfeksionisme: Menetapkan standar yang terlalu tinggi sehingga merasa gagal meskipun sudah melakukan yang terbaik.

Jika Persija Jakarta Gagal Juara, The Jakmania Punya Kesempatan Melihat Bobotoh Menangis
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Tak Peduli Larangan ke Jepara, The Jakmania Sebut Kebiasaan atau Takut Main di Jakarta saat Persija Jamu Persib
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Pesan Haru Milos Raickovic ke Bonek! Gelandang Persebaya Surabaya Sudah Berikan Segalanya Musim Ini
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mantan Kiper Persebaya Surabaya Buka Suara! Dimas Galih Ungkap Kondisi Ruang Ganti PSBS Biak
Link Pengumuman Hasil Seleksi Administrasi Manajer Koperasi Merah Putih yang Sudah Diumumkan
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
