
Tips kebiasaan agar anak menghormati orang tua menurut Psikologi. (Freepik/ freepik)
JawaPos.com – Mengasuh anak agar tumbuh menjadi pribadi yang menghormati orang tua memerlukan pendekatan yang penuh kesadaran. Dalam psikologi, ada beberapa kebiasaan yang tanpa disadari dapat merusak hubungan antara ayah ibu dan anak, bahkan menghambat rasa hormat yang seharusnya terjalin secara alami.
Menanamkan sikap menghormati tidak hanya tentang memberikan aturan, tetapi juga menjadi teladan yang baik, menghargai perasaan anak, dan menghindari perilaku yang membuat mereka merasa tidak dihargai.
Dilansir dari geediting.com Minggu (19/1), diterangkan bahwa terdapat delapan tips kebiasaan yang bisa diterapkan jika ingin seorang anak menghormati orang tua mereka saat tumbuh dewasa menurut Psikologi.
Melindungi anak memang naluri alami orangtua, namun sikap overprotektif justru bisa menghambat perkembangan mereka. Anak-anak perlu menghadapi tantangan dan mengatasi rintangan untuk bisa matang dan belajar dari pengalaman.
Biarkan mereka menavigasi jalan mereka sendiri, membuat kesalahan, dan belajar dari kesalahan tersebut meski terkadang sulit untuk menyaksikannya. Ingatlah bahwa tugas orangtua adalah mempersiapkan anak menghadapi dunia, bukan mempersiapkan dunia untuk anak.
Ingkar janji, sekecil apapun, dapat mengikis kepercayaan anak terhadap orangtuanya seiring waktu. Mereka bisa mulai meragukan ucapan dan mempertanyakan keandalan orangtuanya.
Janji bagi anak bukan sekedar pernyataan biasa, tapi sebuah komitmen dan kesepakatan yang bermakna mendalam. Tindakan lebih berbicara daripada kata-kata di mata anak-anak.
Empati merupakan elemen vital dalam membangun hubungan yang kuat antara orangtua dan anak. Penelitian dalam Journal of Adolescence menunjukkan bahwa anak-anak dengan orangtua yang empatik memiliki kesejahteraan lebih baik dan cenderung berperilaku prososial.
Ketika orangtua berempati, mereka memvalidasi perasaan anak dan menunjukkan bahwa wajar memiliki perasaan tersebut. Ini membuat anak merasa dihargai dan dipahami.
Baca Juga: 7 Kebiasaan Tanda Seseorang Merasa Kesepian dan Tidak Bahagia dalam Hidupnya, Menurut Psikologi
Mengkritik tanpa memberikan solusi atau dorongan bisa merusak kepercayaan diri anak. Ketika anak melakukan kesalahan, jadikan itu sebagai momen pembelajaran dengan menunjukkan apa yang salah sekaligus menyarankan cara memperbaiki atau meningkatkannya.
Kritik perlu diimbangi dengan pujian atas usaha dan kemajuan mereka. Pendekatan ini menunjukkan bahwa orangtua tidak hanya hadir untuk menunjukkan kesalahan, tapi juga membimbing dalam proses pertumbuhan dan pembelajaran.
Waktu berkualitas merupakan investasi dalam hubungan dengan anak. Anak-anak tidak akan mengingat barang-barang material yang diberikan, tetapi mereka akan mengingat momen-momen ketika orangtua benar-benar hadir, berbagi tawa, menciptakan kenangan, dan ada untuk mereka.
Kehadiran penuh dalam hidup anak, baik dalam liburan keluarga mewah maupun malam permainan sederhana di rumah, adalah cara ikatan diperkuat dan rasa hormat dipupuk.

Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
14 Angkringan Paling Nikmat di Surabaya, Tempat Nongkrong Seru Sambil Kuliner dan Jajan
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Yuran Fernandes, Green Force Dapatkan Pengganti Gustavo Fernandes
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
