Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 7 Januari 2025 | 19.57 WIB

8 Ciri Kepribadian Orang yang Sangat Suka Melihat Kegagalan Orang Lain, Menurut Psikologi

Ilustrasi- Orang yang suka melihat kegagalan orang lain. (freepik). - Image

Ilustrasi- Orang yang suka melihat kegagalan orang lain. (freepik).

JawaPos.com - Melihat kegagalan orang lain seringkali menjadi perasaan yang sulit dijelaskan, namun dalam psikologi, ada berbagai alasan mengapa sebagian orang merasa puas atau bahkan senang ketika orang lain gagal.

Fenomena ini dikenal dengan istilah Schadenfreude dan bisa mencerminkan berbagai aspek kepribadian seseorang, mulai dari rasa iri hingga ketidakamanan. Perilaku ini, meskipun tidak selalu disadari, bisa memberi petunjuk tentang bagaimana seseorang memandang dirinya sendiri dan dunia di sekitarnya.

Dalam artikel ini, melansir Geediting, kita akan membahas 8 ciri kepribadian orang yang sangat suka melihat kegagalan orang lain menurut pandangan psikologi, serta bagaimana faktor-faktor tersebut berperan dalam membentuk pola pikir dan perilaku mereka.

1) Schadenfreude: Nikmat dalam Kegagalan Orang Lain

Istilah Schadenfreude berasal dari bahasa Jerman yang berarti kebahagiaan atas penderitaan orang lain. Orang dengan ciri ini sering merasa senang ketika melihat orang lain gagal, terutama jika mereka merasa iri atau merasa kompetisi dengan orang tersebut.

2) Iri Hati: Perasaan Terkadang Memang Tidak Bisa Dihindari

Rasa iri sering menjadi dasar dari kebahagiaan seseorang melihat kegagalan orang lain. Mereka mungkin merasa orang lain tidak pantas mendapatkan kesuksesan, sehingga kegagalan orang tersebut memberikan rasa keadilan semu.

3) Ketidakamanan: Rasa Tidak Percaya Diri yang Membuat Mereka Menyukai Kegagalan Orang Lain

Orang yang tidak percaya diri cenderung merasa terancam oleh keberhasilan orang lain. Melihat kegagalan orang lain dapat membantu mereka merasa lebih baik tentang diri sendiri dan memberikan ilusi bahwa mereka lebih unggul.

4) Dominasi: Kebutuhan untuk Selalu Berada di Atas

Kepribadian yang mendominasi memiliki kebutuhan untuk selalu menjadi yang terbaik. Mereka melihat kegagalan orang lain sebagai konfirmasi bahwa mereka masih berada di puncak hierarki sosial atau profesional.

5) Kurangnya Empati: Kesulitan untuk Merasakan Empati terhadap Orang Lain

Orang yang memiliki empati rendah cenderung sulit memahami atau peduli dengan penderitaan orang lain. Ini membuat mereka lebih mudah menikmati kegagalan orang lain tanpa merasa bersalah.

6) Pencapaian Tinggi: Pendorong untuk Selalu Menjadi Lebih Baik

Beberapa orang dengan motivasi pencapaian tinggi merasa terinspirasi oleh kegagalan orang lain untuk terus berjuang menjadi yang terbaik. Meskipun tidak selalu negatif, ini bisa memicu persaingan tidak sehat.

Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore