
Ilustrasi 8 pengalaman masa kecil yang sering dialami oleh mereka yang mudah tersinggung oleh keluarga.
JawaPos.com - Jika lelucon saudara membuatmu marah atau nasihat orang tuamu terasa seperti serangan pribadi, kemungkinan besar kamu akan cepat bereaksi. Begitu juga jika komentar keluarga membuatmu gelisah, biasanya ada alasan di baliknya.
Psikologi memberitahu kita bahwa pengalaman masa kecil memegang peranan penting. Ada tanda-tanda tertentu yang dapat membantu memahami pemicu dengan lebih baik.
Dilansir dari Hack Spirit, inilah 8 pengalaman masa kecil yang sering dialami oleh mereka yang mudah tersinggung oleh keluarga.
1. Sensitivitas tinggi di masa kecil
Emosi itu sesuatu yang liar. Mereka datang, seringkali tanpa diundang, dan punya cara sendiri untuk menguasai seseorang. Begitu mereka memutuskan untuk berkunjung, tidak mudah untuk menunjukkan jalan keluar dan terpaksa mengikuti arus.
Sekarang, bayangkan, jika mereka adalah seorang anak yang sangat peka terhadap segala sesuatu di sekitarnya. Jika perubahan sekecil apapun dalam nada atau suasana dapat membuat emosinya naik turun.
Anak-anak yang sangat sensitif seringkali tumbuh menjadi orang dewasa yang mudah tersulut emosi oleh anggota keluarga. Mereka telah dikondisikan sejak usia muda untuk dapat bereaksi keras terhadap rangsangan emosional.
Hal ini membuat mereka sangat rentan terhadap komentar atau tindakan yang mungkin diabaikan orang lain. Kepekaan juga sama dengan peningkatan kesadaran terhadap perasaan dan nuansa orang lain, yang juga bisa menjadi kekuatan nyata.
2. Mengalami lingkungan rumah yang penuh gejolak
Beberapa orang mengalami tumbuh dewasa yang tidak berjalan mulus. Rumah terasa seperti medan perang, dengan pertengkaran dan ketegangan yang selalu terjadi di udara. Orang tuanya mungkin tidak bertengkar secara fisik, namun kata-kata mereka bisa lebih menyakitkan daripada tamparan.
Karena lingkungannya ini, mereka tumbuh dengan perasaan yang selalu gelisah. Selalu menunggu ledakan amarah berikutnya atau sikap dingin. Anak-anak yang mengalami lingkungan rumah yang penuh gejolak seringkali menjadi orang dewasa yang mudah tersulut oleh keluarga.
3. Menjadi kambing hitam keluarga
Tidak ada yang sehitam dan seputih kelihatannya, terutama dalam hal dinamika keluarga. Terkadang, dalam sebuah keluarga, salah satu anggota akan menjadi 'kambing hitam'. Orang inilah yang disalahkan secara tidak adil atas masalah-masalah keluarga.
Mereka menanggung beban kenegatifan, dan seringkali tumbuh dengan perasaan seperti orang yang aneh. Menariknya, mereka yang dijadikan kambing hitam di masa anak-anak seringkali mengalami peningkatan kepekaan dan reaktivitas emosional di masa dewasa.
Hal tersebut lebih mungkin dipicu oleh interaksi keluarga karena situasi tersebut dapat membangkitkan perasaan lama tentang dikucilkan atau diperlakukan tidak baik.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
12 Rekomendasi Mall Terbaik di Tangerang 2026: Destinasi Belanja, Kuliner & Lifestyle Favorit
Update Klasemen Usai MotoGP Catalunya 2026: Jorge Martin Gigit Jari, Bezzecchi Masih Tak Tersentuh
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Catalunya 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama Start P20
