
Ilustrasi orang tua yang terlalu protektif pada anak. (Freepik)
JawaPos.com – Menjadi orang tua adalah seni menyeimbangkan antara melindungi anak dan memberikan mereka kebebasan. Namun, sering kali tanpa disadari, banyak orang tua justru menjadi terlalu protektif terhadap anak-anak mereka.
Overprotective parenting atau pola asuh yang terlalu protektif biasanya muncul karena kekhawatiran berlebihan dari orang tua.
Meskipun niatnya baik, tindakan ini dapat menghambat anak untuk berkembang, belajar mandiri, dan menghadapi tantangan kehidupan.
Dilansir dari laman Geediting, Selasa (17/12), berikut adalah tanda-tanda orang tua yang terlalu protektif:
Salah satu ciri utama orang tua terlalu protektif adalah tingkat kekhawatiran yang tinggi, bahkan untuk hal-hal kecil. Mereka cemas terhadap segala hal yang berhubungan dengan anak, mulai dari kesehatan, pendidikan, hingga pergaulan.
Kekhawatiran ini sering kali membuat orang tua terlalu terlibat dalam kehidupan anak, seperti memantau setiap tugas sekolah atau mencampuri urusan teman mereka.
Orang tua yang terlalu protektif sering ikut campur dalam kegiatan anak, seperti olahraga atau hobi mereka.
Alih-alih memberi anak kebebasan untuk mencoba dan membuat kesalahan, mereka justru mengambil alih, mengontrol, atau memberikan instruksi terus-menerus. Hal ini menghambat anak belajar dari pengalaman mereka sendiri.
Orang tua protektif cenderung meremehkan kemampuan anak dalam menyelesaikan masalah atau menghadapi tantangan.
Akibatnya, mereka sering melakukan segalanya untuk anak atau ‘menyelamatkan’ mereka dari situasi sulit. Sikap ini bisa mengurangi rasa percaya diri anak dan membuat mereka merasa tidak mampu.
Mengambil risiko adalah bagian penting dari pertumbuhan anak. Namun, orang tua protektif sering mencegah anak mencoba hal baru karena takut anak gagal atau terluka.
Contohnya, melarang anak memanjat pohon atau mencoba olahraga baru. Padahal, pengalaman ini penting untuk melatih keberanian dan kemampuan anak menghadapi risiko.
Dari memilih pakaian hingga menentukan aktivitas, orang tua protektif cenderung membuat semua keputusan untuk anak.
Sikap ini dapat menghambat anak dalam mengembangkan kemampuan membuat pilihan dan belajar bertanggung jawab atas keputusan mereka sendiri.
Kegagalan adalah bagian dari proses belajar. Namun, orang tua protektif sering kali berusaha melindungi anak dari kegagalan dengan memastikan mereka selalu berhasil. Akibatnya, anak tidak belajar menghadapi kegagalan dan membangun ketahanan diri.

Prediksi Skor Korea Selatan vs Republik Ceko di Piala Dunia 2026: Son Heung-min Bisa Pecahkan Rekor
Kronologi Beckham Putra Nyaris Bersitegang dengan Penonton usai Laga Indonesia vs Mozambik
Prediksi Skor Meksiko vs Afrika Selatan Grup A Piala Dunia 2026: El Tri Diunggulkan Menang di Laga Pembuka!
Timnas Afrika Selatan di Piala Dunia 2026: Daftar Lengkap Skuad, Statistik, dan Jadwal Pertandingan
5 Transportasi Surabaya-Malang Selain Motor yang Lebih Hemat, Tarif Mulai Rp 12 Ribuan
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
8 Pertanyaan Pribadi yang Tidak Boleh Ditanyakan Pada Orang Lain, Tidak Peduli Seberapa Baik Mereka Mengenal Seseorang Menurut Psikolog
Harga BBM Pertamina Terbaru: Pertamax Naik Jadi Rp 16.250 per Liter Mulai 10 Juni 2026
Resmi! 9 Pemain Persebaya Surabaya Hengkang, Era Baru Bernardo Tavares Dimulai dengan Cuci Gudang
