
Ilustrasi orang yang dipaksa menikah oleh orang tuanya. (freepik.com/freepik)
JawaPos.com - Setiap orang tua pasti ingin menyaksikan anaknya menikah bahagia, menjalani hidup dengan pasangan dan juga keturunannya. Sehingga akhirnya, beberapa dari mereka ada yang memaksa anaknya untuk menikah dengan siapapun.
Mengutip dari laman Klik Dokter pada (08/12) mengungkapkan bahwa orang tua seperti itu tidak mau mendengar apapun alasan anak ketika belum juga menikah, entah itu soal kriteria, kecocokan, atau perihal kesiapan.
Tentunya hal ini menjadi dilema antara tetap mengikuti keinginan sendiri atau berbakti pada orang tua, dilansir dari laman Blog Herald pada (08/12) orang yang dipaksa menikah oleh orang tuanya, sering menunjukkan 8 perilaku ini dalam hubungannya :
1. Menutupi emosi yang sebenarnya
Emosi adalah perjalanan roller coaster. Mereka melonjak tanpa peringatan, menelan kita dalam arusnya, dan tidak selalu mudah untuk melepaskannya. Sesuatu yang bisa kita lakukan hanyalah menguatkan diri dan menaiki ombak hingga reda.
Mereka yang dipaksa menikah oleh orang tuanya, sering kali terampil menyembunyikan perasaan sebenarnya, dan menjadi ahli dalam penyamaran. Sebenarnya itu bukan salah mereka, melainkan sebuah mekanisme bertahan hidup.
Mereka tersenyum ketika diharapkan, tertawa pada saat yang tepat, dan menunjukkan kegembiraan ketika situasi menuntutnya.
2. Mencari validasi
Kita semua mendambakan validasi, seperti sebuah tepukan di punggung atau kata pujian, sudah menjadi sifat manusia untuk mencari pengakuan atas tindakan dan pilihan.
Tapi bagi mereka yang dipaksa menikah, kebutuhan akan pengakuan ini bisa menjadi semakin besar. Setiap keputusan yang diambilnya selalu mencari persetujuan dari pasangan, mertua, dan orang tuanya sendiri.
Orang yang dipaksa menikah, terus-menerus bertanya tentang perilakunya karena banyak ketakutan jika itu tidak sesuai ekspektasi keluarganya.
3. Menghindari konfrontasi
Dalam hubungan apapun, perselisihan tidak bisa dihindari. Tapi bagi mereka yang dipaksa untuk menikah, konfrontasi bisa menjadi tantangan tersendiri. Mereka sering kali menggunakan strategi penghindaran untuk menjaga perdamaian, memilih untuk menyembunyikan masalah daripada menanganinya secara langsung.
Menurut sebuah penelitian yang diterbitkan di National Institutes of Health, individu yang merasa terpojok dalam suatu hubungan lebih cenderung menghindari konfrontasi demi menjaga keharmonisan.
4. Kompensasi yang berlebihan dalam sebuah peran

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
