
Ilustrasi orang yang mengutamakan kualitas dibanding kuantitas.
JawaPos.com - Di kehidupan yang sering penuh kompetisi ini, sering kali membuat setiap orang selalu mengedepankan kuantitas dibanding kualitas. Kedua hal itu terntunya sangat berbeda.
Mengutip dari laman Kita Lulus, kuantitas itu bisa diukur dengan angka, sedangkan kualitas tidak dapat dihitung melainkan dirasakan. Contoh sederhananya adalah untuk menjadi Influencer yang ingin memiliki jutaan followers harus menyajikan konten positif.
Jadi sebenarnya antara kuantitas dan kualitas harus seimbang jika ingin mencapai tujuan secara efektif. Ada pula sebagian orang yang hanya mengutamakan kuantitas, begitupun sebaliknya.
Melansir dari laman Baseline Mag pada (04/12) ada 8 kebiasaan orang yang selalu mengutamakan kualitas dibanding kuantitas dalam hidup :
1. Melatih mindfulness
Memilih kualitas daripada kuantitas adalah pilihan yang sering kali berakar kuat pada praktik mindfulness. Pada intinya, mindfulness berarti hadir sepenuhnya pada saat ini
Jika kita sadar, kecil kemungkinan akan terjebak dalam perlombaan akumulasi, baik itu harta benda, pengalaman, atau bahkan hubungan. Salah satu contohnya, mereka lebih suka melakukan percakapan yang bermakna dengan beberapa teman dekat daripada mencoba mempertahankan ratusan hubungan yang dangkal.
2. Memahami bahwa segala sesuatu tidak ada yang abadi
Konsep ini mengajarkan kita bahwa segala sesuatu dalam hidup, seperti harta benda, pengalaman, serta hubungan itu bersifat sementara. Orang-orang yang mengutamakan kualitas daripada kuantitas dalam hidup sangat memahami hal ini.
Mereka tidak hanya mengumpulkan demi akumulasi, tapi lebih fokus pada esensi dan kualitas dari hal yang dimiliki. Mereka juga melihat potensi dalam setiap momen, interaksi, serta pengalaman.
3. Menghargai kepuasan daripada keinginan
Orang yang mengutamakan kualitas daripada kuantitas menganut kebijaksanaan ini. Mereka memahami bahwa keinginan yang tak terpuaskan untuk mendapatkan lebih banyak mengenai harta benda, pengalaman, serta hubungan dapat mengarah pada siklus ketidakpuasan dan penderitaan.
Daripada terus-menerus mendambakan sesuatu yang lebih dan terjerumus ke dalam siklus ini, mereka memupuk rasa puas dengan hal yang dimiliki saat ini.
4. Menganut slow living
Di dunia yang serba cepat, gagasan untuk memperlambat mungkin tampak berlawanan dengan intuisi. Tapi mereka yang memprioritaskan kualitas daripada kuantitas mengetahui manfaat dari menjalani hidup lambat.

Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
20 Cafe Paling Instagramable di Surabaya, Tempat Ngopi yang Bukan Hanya Kuliner Enak tapi Juga Estetik
Bocor! Ini Alasan Yuran Fernandes Terima Pinangan Bernardo Tavares untuk Perkuat Persebaya Surabaya
14 Angkringan Paling Nikmat di Surabaya, Tempat Nongkrong Seru Sambil Kuliner dan Jajan
Berlabel Timnas Cape Verde! Yuran Fernandes Siap Jadi Tembok Baru Persebaya Surabaya Era Bernardo Tavares
Breaking News! Persebaya Surabaya Deal Rekrut Yuran Fernandes, Green Force Dapatkan Pengganti Gustavo Fernandes
Kronologi Sekeluarga Tewas saat Camping di Temanggung: Mulut Korban Berbusa ketika Ditemukan
Kabar Baik! HP Frans Putros yang Hilang saat Konvoi Juara Persib Bandung Akhirnya Ditemukan
15 Kuliner Soto Ayam Paling Lezat di Surabaya dengan Kuah Kuning Pekat, Koya Memikat dan Topping Nikmat
