
9 ciri dan karakter orang yang sangat kesepian di media sosial (Freepik)
JawaPos.com - Di era media sosial seperti sekarang, setiap orang bebas berpendapat, mengkritik baik negatif araupun positif.
Dalam menghadapi hal ini, Stoisisme atau filsafat kuno dari Yunani, memberikan panduan untuk mengelola emosi dan tetap tenang.
Walaupun lahir ribuan tahun lalu, filosofi ini tetap relevan dan aplikatif dalam membantu kita menjaga keseimbangan mental di tengah gangguan dan reaksi negatif.
Mengutip thegeekyleader.com, berikut ini beberapa cara menjadi stoikisme di media sosial guna mengatasi komentar negatif.
1. Hindari perdebatan dengan orang kolot
Akan selalu ada orang-orang yang merasa tahu segalanya, mengkritik, meragukan, atau membenci, yang mencoba menilai pekerjaanmu atau memberi nasihat tanpa diminta. Mereka sering termotivasi oleh keinginan akan perhatian, ketenaran, atau keuntungan pribadi, atau terjerat ego dan rasa tidak amannya.
Meskipun mereka mungkin mempunyai kekuasaan, mereka pada akhirnya tidak memberi manfaat bagi dirimu. Keberhasilan sejati membutuhkan kesabaran dan fokus pada hasil jangka panjang, bukan kepuasan instan.
Orang-orang seperti ini bisa mengganggu dan menggodamu untuk berdebat, tetapi hal terbaik yang dapat dilakukan adalah mengabaikan mereka dan tetap fokus pada tujuanmu. Jangan terjebak dalam perdebatan atau mencoba mengubah mereka.
2. Bedakan kritik yang membangun dan merusak
Orang stoic menggunakan akal sehat dan refleksi diri dalam membedakan antara kritik yang konstruktif dan kebencian yang muncul dari iri hati. Jika kritik itu membangun, mereka akan belajar darinya, namun apabila tidak, mereka akan mengabaikannya atau menertawakannya, memahami bahwa kebencian lebih mencerminkan masalah pribadi si pembenci.
Prinsip stoic mengajarkan kita untuk memandang kritik sebagai hal-hal yang lebih disukai dan tidak penting sesuatu yang bisa bermanfaat jika mendukung hidup yang berbudi luhur, tetapi tidak mempengaruhi kebahagiaan kita apabila itu tidak konstruktif.
3. Kendalikan yang kamu bisa
Marcus Aurelius, Kaisar Romawi dan filsuf stoikisme, menekankan pentingnya pengendalian diri dalam merespons peristiwa eksternal. Stoikisme mengajarkan bahwa walau kita tidak bisa mengendalikan kejadian di luar kita, kita memiliki kekuatan dalam memilih bagaimana meresponsnya.
Ketika menghadapi kritik atau tantangan, seorang Stoik akan memilih untuk merespons dengan rasionalitas dan ketenangan, bukan dengan kemarahan atau frustrasi, sehingga dapat menjaga kedamaian batin dan tetap fokus pada tujuan.
4. Terima kritik untuk berkembang

16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
