
seseorang yang merasa sengsara di media sosial. (Magnific/beststudio)
JawaPos.com - Media sosial telah menjadi panggung besar tempat manusia menampilkan versi dirinya yang ingin dilihat orang lain. Di sana, seseorang bisa tampak sangat bahagia, produktif, romantis, sukses, dan penuh percaya diri. Namun psikologi menunjukkan bahwa apa yang tampil di layar sering kali tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi emosional yang sebenarnya.
Tidak sedikit orang yang justru semakin aktif mengunggah hal-hal tertentu ketika mereka sedang mengalami tekanan batin, kesepian, kecemasan, kehilangan arah hidup, atau krisis identitas. Unggahan tersebut bukan selalu berarti kebohongan. Kadang itu adalah bentuk kompensasi psikologis, pencarian validasi, mekanisme pertahanan diri, atau usaha untuk tetap merasa “baik-baik saja”.
Tentu saja, kita tidak bisa langsung menilai kondisi mental seseorang hanya dari media sosialnya. Namun ada beberapa pola yang cukup sering muncul menurut berbagai kajian psikologi sosial dan perilaku digital.
Dilansir dari Expert Editor, terdapat 9 hal yang sering diunggah orang di media sosial saat mereka sebenarnya sedang sengsara.
1. Pamer Kebahagiaan Berlebihan
Salah satu pola paling umum adalah unggahan yang terlihat terlalu sempurna. Foto liburan yang terus-menerus, caption penuh syukur setiap hari, video tertawa tanpa henti, atau narasi hidup yang tampak luar biasa ideal kadang justru menjadi tanda seseorang sedang berusaha keras meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya baik-baik saja.
Dalam psikologi, ini sering berkaitan dengan konsep compensation behavior atau perilaku kompensasi. Ketika seseorang merasa kosong, tidak aman, atau tidak puas terhadap hidupnya, ia bisa terdorong menampilkan kebahagiaan secara berlebihan untuk menutupi rasa tersebut.
Orang yang benar-benar tenang biasanya tidak merasa perlu membuktikan kebahagiaannya setiap saat. Sebaliknya, individu yang sedang rapuh sering membutuhkan validasi eksternal agar tetap merasa berharga.
Mereka berharap komentar seperti “iri banget”, “goals”, atau “bahagia terus ya” dapat memberi suntikan emosional sementara. Masalahnya, efek itu biasanya tidak bertahan lama. Setelah notifikasi berhenti datang, rasa kosong sering muncul kembali.
2. Terlalu Sering Mengunggah Motivasi dan Nasihat Hidup
Kalimat seperti:
“Jangan menyerah.”
“Kamu kuat.”
“Semua akan indah pada waktunya.”
“Tidak apa-apa berjalan pelan.”
sering dibagikan orang yang justru sedang kesulitan menjalani hidupnya sendiri.
Secara psikologis, manusia cenderung mengatakan hal yang paling ingin ia dengar. Ketika seseorang terus-menerus membagikan kutipan motivasi, bisa jadi ia sedang mencoba menenangkan dirinya sendiri.
Ini disebut sebagai self-directed coping, yaitu usaha mengatasi tekanan emosional dengan cara memberi afirmasi kepada diri sendiri melalui orang lain.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Bikin Geger Lagi, 244 Siswa Hingga Guru di Batang Tumbang Usai Santap MBG
Prediksi Skor Andorra vs Malta di Liga Nations UEFA: The Reds Menang Tipis di Encamp
Prediksi Skor Laos vs Brunei di FIFA ASEAN Cup: Thim Xad Menang di Laga Perdana
Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Liga Nations UEFA: The Vikings Menang Tipis di Ullevaal Stadion
Prediksi Skor Austria vs Israel di Liga Nations UEFA: Das Team Menang Telak di Raiffeisen Arena
Prediksi Skor Timnas Jepang U-23 vs Thailand U-23 di Asian Games 2026
Prediksi Skor Liechtenstein vs Lithuania di Liga Nations UEFA: Rinktinė Menang di Kandang Lawan
Prediksi Skor Myanmar vs Timor Leste di FIFA ASEAN Cup: Singa Asia Gasak Lawan di Laga Perdana
Prediksi Skor Jepang vs Uruguay: Ko Itakura Targetkan Kemenangan
Prediksi Skor Kosovo vs Irlandia di Liga Nations UEFA: The Green Army Curi Poin di Fadil Vokrri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022