Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 28 Mei 2026 | 15.47 WIB

9 Hal yang Sering Diunggah Orang di Media Sosial Saat Mereka Sebenarnya Sedang Sengsara Menurut Psikologi

seseorang yang merasa sengsara di media sosial. (Magnific/beststudio) - Image

seseorang yang merasa sengsara di media sosial. (Magnific/beststudio)


JawaPos.com - Media sosial telah menjadi panggung besar tempat manusia menampilkan versi dirinya yang ingin dilihat orang lain. Di sana, seseorang bisa tampak sangat bahagia, produktif, romantis, sukses, dan penuh percaya diri. Namun psikologi menunjukkan bahwa apa yang tampil di layar sering kali tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi emosional yang sebenarnya.

Tidak sedikit orang yang justru semakin aktif mengunggah hal-hal tertentu ketika mereka sedang mengalami tekanan batin, kesepian, kecemasan, kehilangan arah hidup, atau krisis identitas. Unggahan tersebut bukan selalu berarti kebohongan. Kadang itu adalah bentuk kompensasi psikologis, pencarian validasi, mekanisme pertahanan diri, atau usaha untuk tetap merasa “baik-baik saja”.

Tentu saja, kita tidak bisa langsung menilai kondisi mental seseorang hanya dari media sosialnya. Namun ada beberapa pola yang cukup sering muncul menurut berbagai kajian psikologi sosial dan perilaku digital.

Dilansir dari Expert Editor, terdapat 9 hal yang sering diunggah orang di media sosial saat mereka sebenarnya sedang sengsara.

1. Pamer Kebahagiaan Berlebihan

Salah satu pola paling umum adalah unggahan yang terlihat terlalu sempurna. Foto liburan yang terus-menerus, caption penuh syukur setiap hari, video tertawa tanpa henti, atau narasi hidup yang tampak luar biasa ideal kadang justru menjadi tanda seseorang sedang berusaha keras meyakinkan dirinya sendiri bahwa semuanya baik-baik saja.

Dalam psikologi, ini sering berkaitan dengan konsep compensation behavior atau perilaku kompensasi. Ketika seseorang merasa kosong, tidak aman, atau tidak puas terhadap hidupnya, ia bisa terdorong menampilkan kebahagiaan secara berlebihan untuk menutupi rasa tersebut.

Orang yang benar-benar tenang biasanya tidak merasa perlu membuktikan kebahagiaannya setiap saat. Sebaliknya, individu yang sedang rapuh sering membutuhkan validasi eksternal agar tetap merasa berharga.

Mereka berharap komentar seperti “iri banget”, “goals”, atau “bahagia terus ya” dapat memberi suntikan emosional sementara. Masalahnya, efek itu biasanya tidak bertahan lama. Setelah notifikasi berhenti datang, rasa kosong sering muncul kembali.

2. Terlalu Sering Mengunggah Motivasi dan Nasihat Hidup

Kalimat seperti:

“Jangan menyerah.”
“Kamu kuat.”
“Semua akan indah pada waktunya.”
“Tidak apa-apa berjalan pelan.”

sering dibagikan orang yang justru sedang kesulitan menjalani hidupnya sendiri.

Secara psikologis, manusia cenderung mengatakan hal yang paling ingin ia dengar. Ketika seseorang terus-menerus membagikan kutipan motivasi, bisa jadi ia sedang mencoba menenangkan dirinya sendiri.

Ini disebut sebagai self-directed coping, yaitu usaha mengatasi tekanan emosional dengan cara memberi afirmasi kepada diri sendiri melalui orang lain.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags

Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore