
Ilustrasi anak-anak bermain peran (Freepik)
JawaPos.com – Kegiatan dalam bentuk permainan pura-pura menjadi salah satu aktivitas penting dalam tumbuh kembang anak karena melibatkan berbagai aspek perkembangan utama. Dari aspek sosial hingga keterampilan bahasa, permainan ini membantu anak untuk mengasah kreativitas dan kemampuan berinteraksi dengan cara yang menyenangkan.
Permainan pura-pura atau bermain peran merupakan aktivitas bermain di mana anak-anak menciptakan skenario imajiner, berpura-pura menjadi karakter atau peran tertentu. Aktivitas ini mendorong anak untuk menggunakan imajinasi dan kreativitas, sekaligus melatih keterampilan sosial serta emosional.
Memahami manfaat bermain pura-pura penting bagi perkembangan anak, karena aktivitas ini mendukung aspek sosial, emosional, dan kognitif mereka. Orang tua yang mengetahui manfaat ini dapat lebih membantu anak dalam mengembangkan keterampilan berinteraksi dengan orang lain.
Berikut lima manfaat bermain pura-pura untuk perkembangan anak yang perlu diketahui orang tua dilansir dari laman Childmind.org oleh JawaPos.com, Senin (28/10):
1. Mengasah Kreativitas Anak
Permainan pura-pura menumbuhkan daya imajinasi anak, mengajak mereka menciptakan dunia fantasi dan cerita yang unik. Melalui permainan ini, anak belajar menggunakan benda-benda sederhana untuk berbagai peran, misalnya balok sebagai mobil atau daun sebagai uang mainan.
Proses ini menguatkan kemampuan berpikir kreatif dan cara menemukan solusi dalam situasi yang tidak biasa.
Contoh seorang anak menggunakan kardus kosong sebagai mobil untuk "berkeliling kota" sambil menceritakan perjalanannya. Anak lain menjadikan bantal sofa sebagai istana tempat tinggal pangeran dan putri.
2. Memperkuat Keterampilan Emosional
Dalam permainan peran, anak berlatih memahami dan mengekspresikan berbagai emosi. Mereka bisa merawat "bayi" boneka yang menangis atau memerankan karakter dengan perasaan tertentu, sehingga memahami perbedaan antara emosi yang dirasakan dan peran yang dimainkan.
Aktivitas ini membantu pemahaman emosi lebih dalam dan pengelolaan emosi yang lebih baik.
Misal seorang anak berpura-pura sebagai dokter yang merawat pasien boneka sambil menunjukkan sikap penuh perhatian. Anak lain memainkan karakter monster yang pemarah, melatih cara mengelola emosi di situasi tertentu.
3. Mengembangkan Keterampilan Sosial
Bermain karakter bersama teman mengajarkan anak membentuk peran, bekerja sama, dan menyelesaikan konflik. Dengan berbagi alur cerita atau peran, anak belajar memahami bahwa orang lain mungkin memiliki pemikiran atau perasaan yang berbeda, yang memperkuat keterampilan sosial seperti empati dan komunikasi.
Seperti anak-anak berperan sebagai guru dan murid di kelas imajiner, mengikuti arahan satu sama lain. Dalam permainan rumah-rumahan, mereka berbagi tugas, seperti menjadi "ibu", "ayah", atau "anak".
Sudahkah Anda mengikuti channel whatsapp kami?
Jadilah pembaca setia, gabung sekarang juga di channel kami!

Doktif Bongkar Transfer Rp 9 Juta Richard Lee, Disebut untuk Jasa Prostitusi
Perilaku Menantu Tak Cerminkan Orang Kerajaan, Sultan Brunei Cabut Gelar Istri Pangeran Abdul Malik
Sakit Hati, Alasan Eks Karyawan Bongkar Aib Richard Lee Suka 'Jajan Cewek'
Doktif Sebut Richard Lee Transfer Uang ke Mucikari, Klaim Gunakan Anak di Bawah Umur
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Richard Lee Bela Perempuan di Podcast, Eks Karyawan: Dia Penjahat Wanita
Profil Penang FC: Ujian Persebaya Jelang Super League, Ada Misi Khusus Bernardo Tavares
Profil Lengkap Destry Damayanti, Calon Tunggal Gubernur BI
Finis P9 Moto3 Inggris 2026, Veda Ega Pratama Bongkar Kesalahan di Silverstone
Tumplek Blek! Ribuan Massa Padati Jalan Gubernur Surabaya untuk Ikuti Aksi Tolak LGBTQ
