
Ilustrasi teman yang memiliki perbedaan sudut pandang politik.
JawaPos.com - Sedekat apapun hubungan kita dengan orang lain, tak dipungkiri bahwa adanya perbedaan pandangan. Baik dari segi kepercayaan, gaya hidup, atau bahkan politik.
Menjelang pemilihan Presiden atau Kepala Daerah, biasanya masyarakat akan lebih terbuka terhadap politik karena harus memilih pemimpin yang tepat. Sehingga hal tersebut memicu pergesekan atau perdebatan dengan orang lain, termasuk teman sendiri.
Dalam hal ini, kita akan selalu kuat untuk menonjolkan kelebihan pihak yang dipilih, sementara teman sendiri juga melakukan hal sama. Sehingga obrolan pun kian memanas dan bahkan ada yang memutuskan pertemanannya karena hal tersebut.
Melansir dari laman Ge Editing pada (16/10) orang yang memutuskan pertemanan karena perbedaan pandangan politik, biasanya menunjukkn 9 perilaku ini tanpa disadari :
1. Sering Terlibat dalam Ruang Gema
Politik dapat menjadi topik yang menimbulkan polarisasi, seringkali menimbulkan perdebatan dan perbedaan pendapat dengan sengit. Orang-orang yang putus pertemanan karena perbedaan politik biasanya mempunyai perilaku yang sama.
Sederhananya, ruang gema adalah lingkungan disaat seseorang hanya menemukan informasi atau pendapat yang mencerminkan dan memperkuat pendapatnya sendiri. Media sosial memainkan peran penting dalam menciptakan ruang gema ini, dan tanpa disadari, kita bisa dengan mudah jatuh ke dalam perangkap ini.
Senang rasanya dikelilingi oleh orang-orang yang berpikiran sama dan memiliki pandangan sama. Lalu ketika kamu terus-menerus diberi informasi yang sejalan dengan perspektifmu, akan sulit untuk berempati dengan pandangan yang berbeda.
2. Takut Menghadapi Biasnya Sendiri
Orang yang cenderung putus asa karena perbedaan politik sering kali takut menghadapi biasnya sendiri. Kita semua memiliki bias masing-masing, dan mereka membentuk pandangan dunia, mempengaruhi keputusan, dan bahkan mempengaruhi pandangan politik kita.
Namun tidak nyaman untuk mengakui bias-bias ini, apalagi menantang mereka. Padahal kita sendiri bukan terancam oleh pandangan politik tapi takut terhadap perspektif tentang bias itu sendiri.
3. Berjuang dengan Disonansi Kognitif
Disonansi kognitif mengacu pada ketidaknyamanan mental yang kita alami ketika menganut dua atau lebih keyakinan, nilai, atau sikap yang bertentangan. Fenomena psikologis ini pertama kali dikemukakan oleh Leon Festinger dalam bukunya tahun 1957, “A Theory of Cognitive Dissonance”.
Ketika teman mempunyai pandangan politik yang berbeda, hal itu dapat menimbulkan rasa disonansi kognitif. Kita menyukai teman-teman dan menghargai pendapat mereka, tapi ketika pandangan politik itu bertentangan dengan kita, hal itu akan menimbulkan konflik.
Untuk mengurangi ketidaknyamanan ini dan mengembalikan keseimbangan, beberapa orang mungkin terpaksa meninggalkan teman yang menyebabkan disonansi tersebut.

Breaking News! Veda Ega Pratama Naik ke Peringkat 3 Moto3 2026 Usai Diskualifikasi Adrian Fernandez
Kronologi Lengkap Diskualifikasi Adrian Fernandez di Moto3 2026, Veda Ega Pratama Naik ke Posisi Tiga Klasemen
Hasil Practice Moto3 Hungaria 2026: Veda Ega Pratama Finis P2 dan Lolos ke Q2, Hakim Danish Justru Tersandung
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Veda Ega Pratama Kudeta Peringkat Pertama! Update Klasemen Rookie of The Year Moto3 2026 Usai Brian Uriarte Didiskualifikasi
Sony Sonjaya Akan Ajukan Diri Jadi Justice Collaborator Kasus MBG, Janjikan Buka Nama-Nama Besar
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kalah di Pengadilan Soal Sanksi Etik Promotor Disertasi Bahlil, Guru Besar UI: Mahasiswa Ini Bukan Main-main
Prediksi Haiti vs Peru 6 Juni 2026: Momentum Positif Les Grenadiers Uji Kebangkitan La Blanquirroja
3 Bintang Baru Sudah Deal! Persebaya Surabaya Siapkan Misi Besar Bernardo Tavares di Musim 100 Tahun
