
ilustrasi pasangan shio yang menjadi kaya raya setelah menikah/ Sumber foto: Freepik
JawaPos.com - Beberapa waktu terakhir, media sosial dihebohkan dengan berita menikahnya seorang penceramah muda yang biasa disapa Gus Zizan.
Melansir Radar Kediri, tidak sedikit netizen yang berkomentar mengenai pernikahan tersebut.
Hal ini dikarenakan Gus Zizan beserta pasangannya dinilai terlalu muda untuk menikah.
Pria yang diketahui kelahiran tahun 2005 tersebut menikah dengan istrinya, Syifa yang lahir pada tahun 2007 yang artinya mereka menikah pada usia 19 dan 17 tahun.
Dalam UU Nomor 18 Tahun 2019 tentang Perubahan atas UU Nomor 1 Tahun 1974 dijelaskan bahwa pernikahan dapat dilakukan ketika calon mempelai pria dan wanita setidaknya berusia 19 tahun.
Kasus pernikahan muda sebenarnya tidak hanya terjadi kali ini saja, berdasarkan laman Kementerian Pemberdayaan Anak dan Perempuan, jumlah angka perkawinan dini pada tahun 2023 mencapai 6,92 persen.
Meskipun jumlahnya menurun, tetap saja hal ini harus segera ditangani karena membawa dampak yang kurang baik bagi mereka yang memutuskan untuk menikah dini.
Melansir artikel dalam jurnal Studi Pemuda Universitas Gadjah Mada yang ditulis oleh Djamilah, dkk bahwa pernikahan dini merupakan praktik tradisional yang sudah lama dilakukan dan terjadi hampir di seluruh dunia.
Pola perkawinan ini biasanya memiliki dua pola, yaitu menikahkan anak perempuan dengan laki-laki dewasa dan menjodohkan anak laki-laki dengan perempuan yang dilakukan oleh kedua orang tua mereka.
Perkawinan dini juga didefinisikan sebagai perkawinan yang dilakukan di bawah usia 18 tahun, sebelum anak perempuan secara fisiologis dan psikologis siap untuk memikul tanggung jawab pernikahan dan pengasuhan anak.
Tidak hanya berdampak tidak baik bagi perempuan, perkawinan dini juga membuat kedua pasangan jatuh pada konflik rumah tangga yang belum siap mereka tangani.
Lalu, apa saja dampak buruk pernikahan muda bagi psikologis dan kesehatan?
Emosi yang tidak stabil
Melansir laman Kementerian Kesehatan, dampak menikah muda secara psikologis dapat menyebabkan kondisi mental seseorang tidak stabil.
Hal ini dikarenakan masa remaja yang merupakan masa pencarian identitas diri yang ditandai dengan gejolak emosi yang tidak stabil pada remaja.

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
11 Rekomendasi Mall Terbaik di Surabaya yang Bikin Betah Jalan-Jalan dan Susah Pulang
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
16 Kuliner Bakso di Yogyakarta yang Rasanya Dinilai Selalu Konsisten Enak, Bikin Para Pengunjung Ketagihan Datang Lagi
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
KPK Tindaklanjuti Pelaporan Dugaan Korupsi APBD Era Mantan Gubernur Sultra Nur Alam
