Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 21 Agustus 2024 | 23.20 WIB

Rasa Tenang dan Senang Menjadi Dua Patokan Kebahagiaan Seseorang, Manakah yang Harus Didahulukan?

Potret orang yang merasa tenang. - Image

Potret orang yang merasa tenang.

JawaPos.com - Sebagai manusia seringkali mementingkan rasa senang untuk memuaskan keinginan diri maupun orang lain. Padahal itu belum tentu bisa terbebas dari gangguan mental.

Mengutip dari laman RSUD Mangusada Bandung pada (21/08) memberikan contoh perilaku orang tua yang otoriter dan memaksa anak untuk melakukan keinginannya, lalu anak tersebut terpaksa melakukan agar keluarganya senang.

Dengan pola asuh orang tua yang otoriter, maka seorang anak akan terbiasa melakukan sesuatu hanya demi membuat orang lain senang dan jika itu tidak berhasil akan menjadi sebuah ketakutan.

Dari peristiwa tersebut, kita bisa mendefinisikan bahwa rasa senang itu belum tentu memberikan dampak positif pada mental seseorang. Mereka seringkali sibuk untuk membuat orang lain senang sementara dirinya belum tentu merasakan hal yang sama.

Menurut Psikolog, sebagai manusia yang sadar akan kesehatan mental, kita bisa merasakan rasa senang setelah tenang itu ada, karena pada dasarnya kesenangan itu bersifat sementara.

Jika mendahulukan rasa tenang, dapat mengubah cara berpikir, emosional, kondisi fisik, serta perilaku kita dalam menyadari situasi dan ada upaya untuk memperbaiki keadaan.

Dengan rasa tenang yang menimbulkan kemampuan adaptasi itu, membuat seseorang bertumbuh pada kesehatan mental dan kepribadiannya menjadi lebih tangguh lagi.

Melansir dari laman Psikologi Universitas Medan Area, untuk menimbulkan rasa tenang, kamu perlu berpikir positif, berdoa, cari daerah sunyi, luapkan unek-unek, dan belajar teknik pernapasan agar lebih lega.

Terkadang untuk menciptakan rasa tenang itu, kita butuh menyendiri, pisahkan kehidupan antara pribadi dan pekerjaan. Berhenti sejenak dari aktivitas sehari-hari tidak harus disamakan dengan istirahat untuk tidur atau makan.

Berhenti yang dimaksud adalah kamu harus fokus pada diri sendiri, membatasi aktivitas, serta mematikan handphone, sehingga tidak ada gangguan atau distraksi dari manapun.

Sebetulnya berdiam diri untuk merasa tenang tidak hanya bisa dilakukan di rumah, bisa saja di dalam kereta saat kita melakukan perjalanan atau berdiri sejenak di suatu tempat. Dengan demikian, kita juga dapat lebih objektif dalam melihat dan mencari solusi dari sebuah masalah.

Meskipun itu hal yang sepele, tapi jika dilakukan dalam beberapa menit saja itu sudah menimbulkan rasa tenang dalam diri dan kamu siap untuk melanjutkan aktivitas seperti biasa.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore