Logo JawaPos
Author avatar - Image
Kamis, 14 Mei 2026 | 14.29 WIB

Orang yang Memiliki Kekuatan Mental tetapi Kesulitan Menemukan Kebahagiaan Sejati Biasanya Menunjukkan 8 Ciri Ini Menurut Psikologi

seseorang yang kesulitan menemukan kebahagiaan / foto: Magnific/SkelDry - Image

seseorang yang kesulitan menemukan kebahagiaan / foto: Magnific/SkelDry

JawaPos.com - Di mata banyak orang, kekuatan mental sering dianggap sebagai tiket menuju kehidupan yang lebih baik. Orang yang tangguh, disiplin, tahan tekanan, dan mampu menghadapi berbagai masalah biasanya dipandang sebagai sosok yang lebih siap menjalani hidup dibanding kebanyakan orang. Mereka terlihat kuat, stabil, dan sulit dijatuhkan.

Namun dalam kenyataannya, kekuatan mental tidak selalu berjalan seiring dengan kebahagiaan sejati.

Ada orang-orang yang secara mental sangat kuat, mampu bertahan dalam situasi sulit, bahkan menjadi tempat bersandar bagi orang lain, tetapi diam-diam merasa kosong di dalam dirinya. Mereka bisa sukses, produktif, dan tampak baik-baik saja dari luar, tetapi sulit merasakan kedamaian batin yang sesungguhnya.

Psikologi menjelaskan bahwa kondisi ini bukan hal yang aneh. Seseorang bisa memiliki daya tahan mental yang tinggi, tetapi tetap mengalami kesulitan untuk merasa bahagia secara emosional.

Mengapa bisa begitu?

Karena kekuatan mental sering dibangun melalui pengalaman hidup yang keras. Banyak orang belajar menjadi kuat karena mereka pernah kecewa, ditinggalkan, diremehkan, atau dipaksa bertahan dalam keadaan yang sulit. Akibatnya, mereka tumbuh menjadi pribadi yang tangguh, tetapi juga lebih berhati-hati terhadap emosi, hubungan, dan rasa nyaman.

Dilansir dari Expert Editor pada Selasa (12/5), terdapat delapan ciri yang sering dimiliki oleh orang-orang dengan kekuatan mental tinggi tetapi kesulitan menemukan kebahagiaan sejati menurut sudut pandang psikologi.

1. Mereka Terbiasa Menyembunyikan Emosi

Orang yang kuat secara mental sering kali tidak nyaman menunjukkan kelemahan.

Mereka terbiasa menghadapi masalah sendiri dan merasa bahwa menangis, mengeluh, atau meminta bantuan adalah tanda ketidakmampuan. Dalam jangka panjang, kebiasaan ini membuat mereka terlihat sangat tenang dan terkendali.

Namun di balik ketenangan tersebut, ada emosi yang tidak pernah benar-benar diproses.

Psikologi menyebut kondisi ini sebagai emotional suppression atau penekanan emosi. Ketika seseorang terlalu sering menahan apa yang dirasakannya, emosi itu tidak hilang begitu saja. Emosi hanya disimpan lebih dalam dan perlahan berubah menjadi kelelahan mental, kecemasan, atau perasaan hampa.

Ironisnya, banyak orang yang terlihat paling kuat justru merasa paling kesepian karena mereka tidak pernah merasa benar-benar dipahami.

Mereka terbiasa menjadi pendengar, tetapi jarang menjadi orang yang didengarkan.

Akibatnya, kebahagiaan terasa sulit dicapai karena mereka hidup dalam mode bertahan, bukan mode menikmati hidup.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore