
Ilustrasi ibu marah sambil memberikan komentar negatif kepada anak (freepik)
JawaPos.com – Mengasuh anak menjadi salah satu tugas yang paling memuaskan atau bisa jadi sulit untuk dilakukan oleh beberpa orang tua.
Kesempatan untuk membimbing dan merawat anak-anak dengan baik saat mereka tumbuh dan berkembang, adalah kesempatan baru setiap hari.
Namun, dalam upaya kita untuk memenuhi kepentingan terbaik mereka terkadang kita membiarkan kebiasaan mengasuh anak yang toxic yang pasalnya bisa merugikan mereka secara emosional dan psikologis.
Dalam artikel ini, kita akan membahas mengenai beberapa kebiasaan mengasuh anak yang dinilai toxic dan harus Anda hindari sebagaimana dilansir dari laman Mind Family, Kamis (15/8) sebagai berikut :
Kita kerap berpikir bahwa terus-menerus mengawasi anak-anak kita dan mengambil keputusan untuk mereka adalah cara yang paling terjamin untuk memastikan keberhasilan dan keselamatan mereka terpenuhi.
Baca Juga: Maksimalkan Peran Sebagai Ibu yang Tangguh, Berikut 9 Strategi Mengasuh Anak Bagi Single Mom
Tetapi sebaliknya, kita mungkin terlalu mengasuh atau mengawasi sehingga dapat merusak kemandirian dan kepercayaan diri anak. Mereka perlu membuat pilihan sendiri, menghadapi konsekuensi dan mempelajari keterampilan memecahkan masalah.
Intinya jika mereka diberi ruang untuk tumbuh dengan tetap tinggal dirumah maka kita membuat mereka mengembangkan ketahanan dan kemandirian dalam diri mereka sendiri.
Rasa bersalah adalah salah satu kebiasaan buruk orang tua yang paling mengkhawatirkan dan dapat dengan mudah memengaruhi perilaku atau keputusan anak-anak kita. Namun, rasa bersalah ini memiliki efek negatif jangka panjang.
Harga diri anak-anak dapat hancue jika kita membuat mereka merasa bersalah karena tidak dapat memenuhi harapan kita atau memilih jalan yang berbeda dari kita tetapkan untuk mereka.
Kebiasaan toxic lain dalam mengasuh anak adalah mengabaikan kebutuhan emosional. Pasalnya anak-anak perlu sering menunjukkan kasih sayang, pengertian dan empati agar memiliki landasan emosional yang kuat.
Tidak menanggapi perasaan mereka atau tidak menawarkan dukungan emosional dapat mengakibatkan masalah seperti rasa tidak aman atau rendahnya harga diri.
Pada dasarnya anak-anak adalah jiwa yang berbeda dengan kelebihan dan kekurangan mereka. Seharusnya sebagai orang tua, kita mampu membuat mereka percaya diri dan memiliki citra diri yang baik dengan berfokus pada pertumbuhan pribadi mereka bukan malah membandingkan anak Anda dengan orang lain.
Menghindari perbandingan ini tentunya juga mencegah anak merasa dihargai atas siapa mereka bukan atas seberapa baik mereka dibandingkan dengan orang lain.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
