
ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS
JawaPos.com - Bahasa adalah alat komunikasi yang kompleks dan penuh nuansa. Apa yang dikatakan dan bagaimana mengatakannya tidak selalu sejelas kelihatannya. Terkadang, frasa yang terdengar polos dan tidak berbahaya bisa saja mengandung penghakiman yang mendalam.
Kata-kata yang tampak sederhana itu sering kali menjadi cara halus untuk menyampaikan pendapat atau bias tanpa terlihat kasar atau konfrontatif. Namun, meski dibungkus dengan bahasa yang manis, frasa-frasa itu tetap bisa menyakiti perasaan orang yang mendengarkannya.
Dilansir Ideapod, terdapat sembilan frasa yang mungkin tampak biasa saja, tetapi sebenarnya sarat dengan penghakiman. Menyadari hal itu, langkah pertama menuju perubahan dalam cara berkomunikasi.
1) “Kamu berani sekali…”
Frasa ini sering terdengar seperti pujian, tetapi sebenarnya bisa menyiratkan bahwa tindakan orang tersebut dianggap tidak biasa atau tidak sesuai norma. Sering kali, frasa ini digunakan ketika seseorang melakukan sesuatu yang berbeda atau tidak biasa.
Meskipun maksudnya mungkin untuk mengagumi keberanian, frasa ini bisa memberikan kesan bahwa orang tersebut dianggap aneh atau berbeda dari yang lain.
2) “Kalau saya jadi kamu…”
Kalimat ini mengisyaratkan bahwa pilihan kita lebih baik atau orang tersebut membuat kesalahan. Frasa ini penuh dengan penghakiman karena menunjukkan bahwa kita merasa lebih tahu atau lebih baik dalam situasi yang dihadapi orang lain.
Daripada mendukung atau memberi saran dengan cara yang positif, frasa ini sering kali membuat orang lain merasa tidak cukup baik atau salah dalam mengambil keputusan.
3) “Kasihan deh kamu…”
“Kasihan deh kamu…” mungkin terdengar seperti ungkapan simpati, tetapi sering kali digunakan untuk menyampaikan simpati atau merendahkan dengan cara yang halus.
Frasa ini bisa memberi kesan bahwa kita merasa lebih unggul atau bahwa orang lain naif dan tidak tahu apa-apa. Ini bisa merusak harga diri orang yang mendengarnya dan membuat mereka merasa diremehkan.
4) “Menarik sekali…”
“Menarik sekali…” adalah frasa yang bisa sangat ambigu. Terdengar cukup polos, hanya sebagai cara untuk mengakui apa yang orang lain katakan. Namun, tergantung pada nada dan konteksnya, frasa ini bisa menunjukkan ketidaksetujuan atau kebosanan, bukan rasa ingin tahu yang tulus.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
12 Rekomendasi Mall Terbaik di Tangerang 2026: Destinasi Belanja, Kuliner & Lifestyle Favorit
Update Klasemen Usai MotoGP Catalunya 2026: Jorge Martin Gigit Jari, Bezzecchi Masih Tak Tersentuh
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
Jadwal dan Link Live Streaming Moto3 Catalunya 2026! Misi Berat Veda Ega Pratama Start P20
