Kita tak tahu saat mereka melakukan kebiasaan orang yang "bahagia", tetapi nyatanya hanya pura-pura. Hatinya berkecamuk. Pikirannya selalu kacau.
Orang-orang dengan tipe ini, banyak alasan yang melatarbelakanginya. Mereka mungkin saja terkurung dalam kehidupan sosial yang mengharuskannya bersikap demikian.
Namun, demi empati dan simpati, pelajari 8 ciri berikut yang menandakan orang hanya berpura-pura bahagia, dikutip dari Expert Editor, Rabu (10/7).
1) Keceriaan yang berlebihan
Pernah melihat orang yang selalu gembira apapun yang terjadi? Selalu menjadi orang pertama yang melontarkan lelucon, tertawa terbahak-bahak, atau memberikan pujian.
Itu bisa jadi masalah. Meskipun menyenangkan berada di sekitar orang yang sepert itu, keceriaan yang berlebihan terkadang dapat menutupi kesedihan atau ketidakpuasan yang tersembunyi.
Menurut psikologi, orang yang berpura-pura bahagia sering kali mengimbanginya dengan tampak terlalu periang atau optimis, sebuah konsep yang disebut depresi tersenyum.
2) Cepat menutup percakapan yang lebih dalam
Pernahkah Anda mencoba membahas sesuatu yang serius dengan teman, tetapi mereka segera mengganti pokok bahasan atau menjadikannya bahan tertawaan?
Ternyata, menghindari percakapan yang lebih mendalam bisa menjadi cara bagi orang untuk menyembunyikan perasaan mereka yang sebenarnya dan mempertahankan kepura-puraan mereka yang “bahagia”.
Jadi, jika Anda melihat seseorang terus-menerus mengalihkan topik serius atau pertanyaan pribadi, itu mungkin bukan karena mereka orang yang periang. Itu bisa jadi pertanda mereka tidak nyaman mengungkapkan perasaan atau keadaan pikiran mereka yang sebenarnya.
3) Selalu sibuk, tapi tidak pernah puas
Jika Anda punya teman yang selalu sibuk, jadwalnya selalu padat, mereka selalu bepergian, tapi ada kekosongan di mata mereka, itu pertanda buruk.
Menurut psikologi, orang yang berpura-pura bahagia sering kali melibatkan diri dalam pusaran aktivitas. Mereka melakukan ini sebagai upaya untuk mengalihkan perhatian dari perasaan mereka yang sebenarnya atau untuk membuktikan kepada diri mereka sendiri (dan orang lain) betapa 'terpenuhinya' mereka.
Kesibukan tidak sama dengan kebahagiaan atau kepuasan. Kebahagiaan sejati datang dari keterlibatan yang bermakna dan rasa puas terhadap hidup seseorang, bukan dari menyelesaikan tugas-tugas dalam daftar tugas.
4) Media sosial menceritakan kisah yang berbeda
Kita semua tahu bahwa apa yang kita lihat di media sosial tidak selalu merupakan gambaran akurat dari kenyataan. Seringkali, media sosial merupakan cuplikan momen terbaik sekaligus menyembunyikan masa-masa sulit. Di sinilah hal menariknya.
Orang-orang yang berpura-pura bahagia mungkin menggunakan media sosial untuk lebih jauh menciptakan ilusi ini. Feed mereka dipenuhi dengan foto-foto selfie yang tersenyum, liburan yang eksotis, dan perayaan yang menggembirakan – kehidupan yang sempurna.
Namun kemudian Anda menyadari sesuatu. Perilaku mereka di dunia nyata tidak sepenuhnya sesuai dengan kepribadian mereka di dunia maya. Mereka tampak kurang bersemangat, lebih pendiam, dan senyum mereka tidak sampai ke mata.
Ketidaksesuaian ini bisa jadi merupakan tanda bahwa mereka menggunakan media sosial untuk menampilkan citra kebahagiaan yang sebenarnya tidak mencerminkan keadaan emosional mereka.
5) Mencari validasi terus-menerus
Pernahkah Anda memperhatikan seseorang yang terus-menerus mencari persetujuan atau validasi atas tindakan, keputusan, atau bahkan perasaannya?
Ini bisa jadi pertanda bahwa mereka tidak sebahagia yang terlihat.
Orang yang benar-benar bahagia tidak membutuhkan persetujuan terus-menerus dari orang lain. Mereka merasa aman dengan keputusan dan emosi mereka, dan tidak membutuhkan orang lain untuk memvalidasi pengalaman mereka.
Penelitian menunjukkan bahwa orang yang sering mencari validasi sering melakukannya untuk meningkatkan harga diri mereka atau menyembunyikan perasaan tidak mampu. Ini seperti mereka mencoba meyakinkan diri mereka sendiri tentang kebahagiaan mereka dengan meyakinkan orang lain terlebih dahulu.