
Ilustrasi wanita dimarahi.
JawaPos.com – Anda pernah dimarahi tukang ojek online karena titik jemput tidak sesuai? Atau dimarahi ibu karena uang belanja semakin sedikit tetapi harga kebutuhan pokok semakin tinggi? Atau bahkan, dimarahi pasangan Anda karena harinya yang melelahkan di kantor?
Jika ya, kemungkinan besar Anda telah menjadi korban dari orang-orang yang melakukan displacement, salah satu mekanisme pertahanan psikologis yang sering digunakan oleh banyak orang.
Oleh sebab itu, artikel ini akan membahas tentang definisi, mekanisme, dampak, serta cara mengatasi atau menghadapi perilaku displacement menurut teori psikoanalisis Sigmund Freud.
Apa itu Displacement?
Dilansir dari Verywell Mind, Sabtu (3/2), Displacement adalah mekanisme pertahanan psikologis yang melibatkan pengalihan emosi atau dorongan negatif dari sumber aslinya ke objek atau orang lain yang kurang mengancam.
Misalnya, seseorang yang marah pada bosnya tetapi tidak bisa mengekspresikannya secara langsung, mungkin akan melampiaskan kemarahannya pada pasangan, anak, atau hewan peliharaannya. Konsep displacement pertama kali dikemukakan oleh Sigmund Freud, bapak psikoanalisis, dan kemudian dikembangkan oleh putrinya, Anna Freud.
Mereka berpendapat bahwa displacement berfungsi untuk melindungi ego dari rasa cemas atau tidak nyaman yang ditimbulkan oleh emosi atau dorongan yang tidak dapat diterima. Dengan demikian, displacement dapat membantu orang mengatasi stres dan menjaga keseimbangan emosional.
Bagaimana Mekanisme Displacement Bekerja?
Displacement bekerja secara tidak sadar, artinya orang yang melakukannya tidak menyadari bahwa mereka sedang mengalihkan emosi atau dorongan mereka ke objek atau orang lain.
Perilaku displacement biasanya terjadi ketika sumber emosi atau dorongan tersebut dianggap terlalu berbahaya, sulit, atau tidak pantas untuk dihadapi secara langsung.
Misalnya, seseorang yang merasa tidak puas dengan pekerjaannya tetapi takut kehilangan penghasilan, mungkin akan mengalihkan rasa tidak puasnya ke hal-hal lain, seperti hobi, olahraga, atau kegiatan sosial.
Objek atau orang yang menjadi sasaran displacement biasanya dipilih secara acak atau berdasarkan ketersediaan dan keterkaitannya dengan sumber emosi atau dorongan tersebut.
Misalnya, seseorang yang marah pada bosnya mungkin akan mengalihkan kemarahannya pada rekan kerja, pelanggan, pasangan atau keluarga. Objek atau orang yang menjadi sasaran displacement juga biasanya memiliki kekuatan atau konsekuensi yang lebih rendah daripada sumber emosi atau dorongan tersebut.
Contohnya, seseorang yang marah pada polisi karena ditilang mungkin akan mengalihkan kemarahannya pada tukang parkir, karena tukang parkir dianggap lebih mudah untuk dimarahi dan tidak akan memberikan sanksi yang berat.

Fans Persija Datangi Sesi Latihan di Sawangan, Jakmania Bentangkan Spanduk Kritik untuk Manajemen Klub
Kemendiktisaintek Ubah Nama Prodi Teknik jadi Rekayasa, ini Daftarnya
Sekjen Laskar Merah Putih Minta Presiden Perhatikan Para Jaksa: Mereka Belum Dapat Apresiasi yang Proporsional
11 Oleh-Oleh Khas Semarang yang Paling Diburu Wisatawan karena Rasanya Lezat dan Cocok Dijadikan Buah Tangan
Jadwal Moto3 Catalunya 2026: Veda Ega Pratama Siap Jaga Konsistensi di Barcelona
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Buah Tangan Khas Malang Paling Populer dengan Cita Rasa Lezat dan Harga Ramah di Kantong
12 Rekomendasi Oleh-Oleh Tradisional dan Kekinian Khas Bandung, Wajib Masuk Daftar Belanja Wisatawan Saat Berkunjung ke Kota Kembang
10 Rekomendasi Oleh-oleh Khas Solo yang Selalu Ramai Dibeli Saat Musim Liburan, Mulai dari Tradisional hingga Makanan Kekinian!
