
RESPEK: Ortu bisa memberikan dukungan agar anak beraktivitas bareng teman penyandang disabilitas seperti bermain, belajar, dan bercanda bareng.
Setiap 3 Desember diperingati sebagai Hari Disabilitas Internasional (World Disability Day). Tak sedikit yang masih memandang sebelah mata penyandang disabilitas (difabel). Orang tua perlu mengajarkan kepada anak untuk menghargai perbedaan dan keunikan tiap individu sejak dini.
---
TIDAK semua orang terlahir dengan fisik maupun mental sempurna. Sebagai orang tua, sangat penting untuk membantu anak mengenalkan perbedaan itu. Termasuk menanamkan pemahaman bahwa difabel juga harus dihargai.
”Umumnya usia 5 tahun sudah bisa diberi pemahaman awal. Karena pada usia itu anak sudah mengenal konsep beda dan sama, perbendaharaan kata, dan pengalaman berinteraksi dengan anak lain juga semakin banyak,” jelas Maria MPsi Psikolog CPDPE CPDCE.
Ketika anak bertanya terkait penyandang disabilitas, ortu harus menjawab dengan bijak. Caranya, dengan menanyakan kembali terlebih dulu tentang apa yang anak ketahui. Baru kemudian jawab dengan padat dan jelas sesuai fakta.
”Ketiga, berikan pemahaman bahwa perbedaan yang dimiliki anak penyandang disabilitas adalah pemberian Tuhan. Sebagaimana Tuhan membedakan bentuk wajah, tubuh, dan kemampuan setiap makhluk,” lanjut psikolog klinis anak dan remaja itu.
Maria berpesan agar konklusi diskusi tentang disabilitas menekankan pada hal positif yang bisa mereka lakukan. Sama halnya dengan apa yang bisa dilakukan individu nondisabilitas. Maria menyebutkan, anak yang dapat menghargai perbedaan antarmanusia akan memiliki kecerdasan dan keterampilan sosial yang baik.
”Dia juga akan lebih bisa beradaptasi dan mampu bekerja dalam tim. Karena anak terbiasa untuk bersikap gentle dan fleksibel terhadap perbedaan,” imbuh founder Positive Parenting Center itu.
Mendidik anak untuk menghargai difabel juga bisa dilakukan dengan mengajaknya terlibat langsung. Ortu bisa memberikan dukungan agar anak melakukan kegiatan bersama anak difabel seperti bermain, belajar, atau mengobrol.
”Ajarkan kepada anak untuk fokus melihat pada apa yang bisa dilakukan oleh teman difabelnya dan ciptakan kegiatan atau permainan berdasarkan itu,” imbuh psikolog Caterpillar Children Clinic tersebut.
Maria menambahkan, cara paling utama jika ingin anak bisa berempati dan menghargai difabel adalah dengan mengajarkan menghargai perbedaan antarmanusia. Baik penyandang disabilitas maupun tidak. Misalnya, ayah lebih pendek dari ibu, tapi ayah jauh lebih kuat mengangkat barang. Atau rambut kakak lebih lurus dan mudah diatur dari adik, tapi gigi adik lebih rata dari kakak.
”Hal-hal seperti itu boleh kerap diungkapkan di rumah dengan nada bicara netral, tidak mengejek, untuk menyadarkan anak bahwa tiap orang berbeda dan itu bukan masalah,” tandasnya. (lai/c9/nor)
DO’S & DON’TS BERINTERAKSI DENGAN DIFABEL
• Ajak berteman dan beraktivitas bareng.
• Opsi kegiatan atau permainan disesuaikan yang bisa dilakukan oleh teman difabel. Misalnya, teman tuli diajak mewarnai, anak tunadaksa diajak nyanyi bareng, kawan tunawicara diajak main ular tangga.

11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
104 Pusat Perbelanjaan di Jakarta Bakal Pesta Diskon sampai 70 Persen, Catat Waktunya!
10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
Pulang ke Persebaya Surabaya? Andik Vermansah Dapat Tawaran dari 5 Klub, Ingin Kembali Bermain di Kasta Tertinggi
Jadwal Moto3 Italia 2026! Veda Ega Pratama Ditantang Tak Goyah di Mugello demi Salip Rival Klasemen
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
