Logo JawaPos
Author avatar - Image
Minggu, 27 Agustus 2023 | 06.00 WIB

Bentuk Ungkapan Perasaan yang Berbahaya dan Berlebihan, Kenali Tanda-Tanda Pasangan yang Lakukan Love Bombing

Ilustrasi: Toxic relationship (Gabby Gibson). - Image

Ilustrasi: Toxic relationship (Gabby Gibson).

JawaPos.com–Menjalin hubungan asmara mewajibkan semua pihak untuk saling memberi kasih sayang dan perhatian. Tujuannya untuk menjaga hubungan agar bertahan hingga mereka dipisahkan oleh kematian.

Dalam dunia hubungan interpersonal, terutama yang bersifat romantis, sering kali sepasang kekasih merasakan perasaan awal yang intens dan berlebihan. Namun, terdapat istilah yang menggambarkan situasi ini dengan lebih dalam, yaitu Love Bombing.

Love Bombing adalah taktik untuk memenangkan hati dan pikiran seseorang dengan cara memberikan perhatian berlebihan kepada orang lain. Tujuannya adalah untuk membuat rasa ketergantungan terhadap salah satu pihak dan memupuk kepercayaan.

Meskipun terlihat seperti wujud cinta yang mendalam, Love Bombing memberikan dampak yang lebih berbahaya dan merugikan. Tanda-tanda pasangan yang melakukan tindakan Love Bombing tidak jauh berbeda dengan orang yang bucin atau budak cinta, karena bentuk ekspresi yang digunakan sama.

Pelaku Love Bombing biasanya memberikan perhatian yang intens di awal hubungan, bahkan terkesan berlebihan. Namun, di balik tindakannya, pelaku Love Bombing memiliki niat yang tidak jelas, atau bahkan terkesan berbahaya dan negatif.

Niat pelaku Love Bombing bisa beragam, seperti mengendalikan seseorang, memanipulasi mereka untuk tujuan pribadi, atau mencapai keuntungan tertentu. Manipulasi itu sering kali membuat korban merasa terikat secara emosional dan sulit untuk melihat perilaku yang tidak sehat atau toxic.

Setelah pelaku mendapatkan apa yang diinginkan, pelaku bisa saja pergi meninggalkan korban. Alaina Tiani, seorang psikolog mengungkapkan, menghindar dari orang yang melakukan Love Bombing bisa menjadi sulit. Selain karena wujudnya yang sama seperti orang jatuh cinta, Love Bombing juga dapat dilakukan secara sadar maupun tidak sadar.

”Lepas dari orang yang Love Bombing tergolong hal yang sulit, karena kita tidak tahu seberapa tulusnya seseorang sampai semuanya terlambat,” ucap Tiani, dilansir dari Cleveland Health.

Dia menjelaskan, Love Bombing memiliki tiga fase. Yakni fase idealisasi, fase devaluasi, fase pemisahan. Pada fase idealisasi, wujud perhatian yang diberikan pelaku sangat intens. Hal ini untuk menumbuhkan rasa percaya dan meluluhkan hati korban.

”Dari luar, semuanya akan tampak manis, tapi tidak dengan niat sang pelaku,” tutur Alaina Tiani.

Setelah korban dan pelaku sudah saling cinta dan nyaman, lanjut dia, pelaku akan menampakkan beberapa tingkah laku yang tidak benar, seperti membatasi hubungan korban dengan teman sebayanya atau bahkan keluarga. Menyalahkan korban bahkan saat tindakan pelaku tidak benar.

”Pada fase devaluasi, pelaku akan memperlihatkan penurunan perhatian dan perubahan tingkah laku,” papar Alaina Tiani.

Pada fase pemisahan, pelaku akan memperlakukan korban dengan semena-mena. Pelaku akan menolak untuk melakukan mediasi atau sekadar meluruskan tindakan yang dilakukannya.

”Di fase ini pula, pelaku akan menunjukkan tingkah laku seolah-olah sudah tidak serius dengan hubungan yang dijalani bersama korban,” ujar Alaina Tiani.

”Beberapa kali, pelaku akan berusaha kembali dan melakukan hal yang sama seperti sebelumnya, dan di saat itulah korban akan kembali masuk ke situasi yang sama untuk kedua kali,” tambah Tiani.

Editor: Latu Ratri Mubyarsah
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore