
TELATEN: Anne Avantie membantu Felita Putri mewarnai caping dalam workshop Minggu (15/1) di Ciputra World Surabaya.
JawaPos.com – Sebagai seorang desainer kenamaan, Anne Avantie, 62, termasuk senang berbagi. Setelah sukses mengadakan parade show untuk koleksinya yang bertajuk Kembang Setaman, perempuan yang akrab disapa Bunda Anne tersebut berbagi ilmu.
Dia mengisi workshop menghias caping dan payung serta membuat sketsa busana dan kebaya untuk boneka Barbie di Ciputra World Surabaya Minggu (15/1).
Workshop diikuti sekitar 20 peserta dari berbagai usia. Mulai anak-anak usia SD hingga dewasa. Sejak pukul 12.00, para peserta menggoreskan warna di atas media masing-masing.
Peserta didampingi 15 anggota komunitas For Anne Avantie. Komunitas itu adalah perkumpulan fans yang gemar mengilustrasikan karya Anne Avantie dalam bentuk sketsa.
”Jangan saling meniru. Semakin kamu menyontek, maka semakin tumpul inspirasimu. Ciptakan kreativitasmu sendiri,” ujar pemilik nama lengkap Sianne Avantie itu.
Pada kesempatan tersebut, para peserta dapat bertukar pikiran dan tanya jawab dengan Anne. Siang itu (15/1) Anne menceritakan jungkir balik kehidupannya dalam meniti karir sebagai desainer.
”Kalau ada yang bilang jadi Anne Avantie itu enak, lupakan!” tegas perempuan yang sudah lebih dari dua dekade menjadi desainer tersebut.
Dia mengambil perumpamaan bagai mengeluarkan air mata darah. Dahulu, kenang dia, banyak orang yang tidak menghargai karyanya.
Satu karya yang dibuat dengan susah payah hanya dibayar dengan harga sangat minim. ”Tiap hari makan hati,” katanya. Namun, dia percaya, berkat kerja keras dalam mengembangkan potensi, sesuatu yang besar pun datang.
”Saya itu lulusan SMP. Siapa yang mau mempekerjakan orang seperti saya? Namun, saya percaya bahwa energi dan kreativitas setiap orang itu ada,” yakin dia.
Anne terlahir dari keluarga sangat sederhana. Pada masa kecilnya, dia banyak berjuang bersama ibunya yang sudah menjanda ketika berusia 38 tahun. Anne tak pernah merasakan bangku kuliah, apalagi sekolah fashion.
Sebagai seorang perancang busana, dia mengaku tak bisa membuat sketsa, menjahit, maupun memotong pola. ”Saya berhasil karena trial and error. Nanti saya peragakan sketsa saya, ya. Tapi jangan di-bully lho,” canda dia.
Menurut desainer yang dikenal dengan rancangan kebayanya itu, sketsa bukan tolok ukur busana yang bagus. Yang terpenting mengutamakan teknik.
Selain itu, pengaplikasian terhadap bentuk tubuh setiap orang yang akan mengenakan. ”Apa pun yang pelanggan minta, tanggapi dengan baik. Walau permintaannya aneh-aneh, jawab 'bisa atau iya'. Pelayanan nomor satu,” urainya.
Orang sukses pasti punya ujian yang besar. Menurut ibu tiga anak tersebut, semua orang lahir dengan bakat masing-masing. Karena itu, jangan samakan satu karya dengan yang lain.

Pertandingan Perpisahan Bruno Moreira? Kapten Persebaya Surabaya Kirim Sinyal Emosional Jelang Lawan Persis Solo
Mengenal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026: Aturan, Materi, dan Ambang Batas
Korban Rudapaksa di Cipondoh Jalani Trauma Healing, DP3AP2KB Kota Tangerang Beri Pendampingan Khusus
Prediksi Skor Bayern Munchen vs PSG: Siapa yang akan Bertemu Arsenal di Final Liga Champions?
10 Rekomendasi Restoran Paling Populer di Surabaya dengan Menu Lengkap dan Harga Variatif
Mobil Plat L Ringsek di Malang Diserang 300 Orang? Polres Malang Turun Tangan, Ini Fakta Terbarunya
11 Kuliner Gudeg Paling Recomended di Surabaya dengan Harga Murah Meriah Tapi Rasa Tidak Murahan
15 Rekomendasi Kuliner Mantap Dekat Bandara Juanda Surabaya, Cocok untuk Isi Waktu Sebelum Check-in
10 Batagor Terenak di Bandung dengan Bumbu Kacang Istimewa, Kuliner Murah Meriah dengan Rasa Premium
12 Kuliner Mie Kocok di Bandung Paling Enak dengan Kuah Gurih yang Bikin Nagih Sejak Suapan Pertama
