
Ilustrasi tone deaf, tuli nada yang menjelma jadi tuli sosial. (Academy of Music)
JawaPos.com - Istilah tone deaf tengah ramai dibicarakan di media sosial Indonesia. Frasa ini muncul di berbagai komentar warganet yang menyindir pejabat atau tokoh publik yang dinilai tidak peka terhadap realitas masyarakat.
Istilah ini makin populer saat maraknya aksi demonstrasi belakangan ini yang disebabkan oleh sikap para pejabat.
Ungkapan tone deaf tidak hanya berhenti pada ranah budaya populer, tetapi juga menjadi simbol kritik sosial terhadap elite yang dianggap abai terhadap keresahan rakyat.
Merujuk berbagai sumber budaya dan sastra, secara harfiah, tone deaf diatikan sebagai 'tuli nada'.
Istilah ini pertama kali muncul pada 1890-an dalam dunia musik untuk menggambarkan seseorang yang kesulitan membedakan nada atau menyanyikan intonasi dengan benar.
Kondisi ini disebut juga amusia, yakni ketidakmampuan bawaan dalam mengidentifikasi perbedaan nada. Pada awalnya, tone deaf hanya dipakai sebagai istilah teknis musik.
Misalnya, seseorang yang tidak mampu menyanyikan nada dengan benar akan disebut tone deaf. Namun, seiring waktu, istilah ini meluas penggunaannya hingga keluar dari ranah musik.
Dalam perkembangannya, tone deaf dipakai secara metaforis untuk menggambarkan seseorang yang tidak peka terhadap situasi sosial.
Istilah ini melekat pada orang-orang yang seolah tuli atau tidak mendengar suara publik. Baik karena ketidakmampuan membaca situasi maupun karena sikap acuh tak acuh.
Di era modern, penggunaan tone deaf kerap diarahkan kepada figur publik. Misalnya seorang pejabat yang memamerkan kemewahan di tengah krisis ekonomi. Atau seorang selebritas yang mengunggah konten bersenang-senang ketika publik sedang berduka.
Dalam konteks ini, tone deaf menjadi label keras bahwa seseorang gagal menunjukkan empati.
Media sosial mempercepat popularitas istilah ini. Di Indonesia, tone deaf belakangan kerap dipakai warganet untuk mengkritik pejabat yang sibuk memperdebatkan kenaikan tunjangan, sementara rakyat menghadapi tekanan ekonomi.
Fenomena ini menunjukkan bahwa bahasa bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga instrumen perlawanan dan kritik publik.
Artinya, ketika seseorang disebut tone deaf, maknanya tidak lagi soal nada musik. Itu sindiran keras bahwa ia tidak peka terhadap realitas sosial.
Banyak netizen menilai, dalam politik, label ini bisa melemahkan citra seorang pemimpin karena memperlihatkan jarak dengan rakyat.

16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
Persebaya Surabaya Dikabarkan Rekrut 2 Striker dan 2 Bek Baru, Ada Punggawa Tim Nasional
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
Pemerintah Cabut Izin 2.231 Pengecer dan Distributor Pupuk Subsidi yang Rugikan Petani
Jadwal Shalat Idul Adha 2026 di Jakarta, Bandung, Surabaya, dan Kota Besar Lainnya
Abu Janda Dilaporkan ke Polisi Oleh Ikatan Keluarga Minang Hari Ini, Buntut Sebut Sumbar 'Barbar' dan Intoleran
Dulu Antreannya Mengular dan Jadi Buah Bibir Media Sosial, Kini Terlihat Lengang: Mengulik 5 Tempat Makan yang Sempat Viral Lalu Sepi Pengunjung
11 Kuliner Maknyus Sekitar Kebun Raya Bogor, Tempat Makan yang Sejuk, Nyaman dan Enak
Persib Bandung Dilaporkan Berburu 2 Winger Kiri Baru demi Prestasi di AFC, Nilai Pasarnya Lewati Thom Haye!
Orang yang Semakin Cantik Secara Fisik Seiring Bertambahnya Usia Biasanya Mengadopsi 6 Kebiasaan Sehari-hari Ini Menurut Psikologi
