Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 2 September 2025 | 23.02 WIB

Thrifting Jadi Kegandrungan Anak Muda Indonesia: Ada Nike Seperti yang Dipakai Ojol saat Ketemu Gibran?

Pembeli memilih berbagai macam pakaian bekas impor atau Thrifting di Pasar Baju Thrifthing di Terowongan Blok-M, Jakarta Selatan. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)

JawaPos.com - Istilah thrifting atau yang sering disebut “trift” berasal dari kata thrift yang berarti hemat. Melansir dari Iklimku.org (2025), budaya ini mengacu pada kebiasaan membeli barang-barang bekas, terutama pakaian, sepatu, hingga aksesori. Selain itu masih banyak lagi barang layak pakai dengan harga jauh lebih murah dibanding barang baru.  

Budaya thrifting sudah muncul sejak abad ke-19 di Eropa. Kala itu, masyarakat kelas menengah mulai resah dengan perilaku konsumtif yang menyebabkan pakaian menumpuk dan cepat dibuang. Thrifting hadir sebagai alternatif berbelanja yang lebih ramah kantong sekaligus mengurangi limbah tekstil. Di Indonesia, budaya thrift mulai tumbuh sejak awal 2000-an. Mulanya hanya sebatas kios kecil di pasar tradisional yang menjual pakaian bekas impor. Kini, thrifting menjelma menjadi gaya hidup, terutama di kalangan anak muda. 

Mengapa Thrifting Digemari Anak Muda? 

1. Harga Terjangkau, Gaya Tetap Stylish

Baju branded seperti Adidas, Nike, Carhartt, hingga Patagonia bisa ditemukan di pasar thrifting dengan harga ratusan ribu jauh lebih murah daripada harga asli di toko resmi. Bahkan, banyak item non-branded dijual mulai dari Rp 20.000 saja. Nike sempat jadi sorotan karena dipakai oleh driver ojol saat bertemu Wapres Gibran Rakabuming Raka di Istana Wakil Presiden baru-baru ini. 

2. Sensasi “Treasure Hunt”

Bagi pencinta thrift, berburu baju bekas serasa mencari harta karun. Setiap kunjungan ke pasar Senen Jakarta atau Pasar Gedebage Bandung selalu menghadirkan kejutan seperti menemukan jaket vintage, celana jeans klasik, atau hoodie branded yang masih sangat layak pakai.

3. Unik dan Anti-Mainstream

Remaja dan mahasiswa sering mencari pakaian yang berbeda dari yang dijual di mal. Thrifting memungkinkan mereka tampil one of a kind, tidak pasaran, sekaligus menciptakan identitas gaya pribadi. 

4. Sadar Lingkungan

Tren sustainable fashion ikut mendorong popularitas thrifting. Dengan membeli baju bekas, anak muda merasa ikut berkontribusi mengurangi limbah tekstil, salah satu penyumbang polusi terbesar di dunia mode. 

Dari Hobi Jadi Peluang Bisnis

Dilansrir dari Xinhua News (2025), trift tidak hanya konsumen, banyak anak muda Indonesia kini menjadikan thrifting sebagai ladang usaha. Dengan memanfaatkan teknologi digital, mereka menjual barang thrift melalui marketplace, media sosial, hingga live shopping.  

Modal yang relatif kecil tidak menjadi hambatan. Beberapa pelaku usaha bahkan memulai dari kamar kos atau garasi rumah, lalu berkembang menjadi toko online dengan ribuan pengikut setia. Fenomena ini membuktikan bahwa thrifting tidak sekadar tren konsumsi, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi generasi muda. 

Thrifting: Budaya Populer yang Akan Terus Bertahan

Fenomena thrifting di Indonesia bukan sekadar tren sesaat. Ada beberapa faktor yang membuatnya terus bertahan dan bahkan berkembang sebagai bagian dari gaya hidup modern: 

1. Gaya Hidup Hemat dan Kreatif

Anak muda kini lebih sadar bahwa tampil modis tidak harus identik dengan barang mahal. Melalui thrifting, mereka bisa mengeksplorasi gaya, mencampur berbagai fashion item, hingga menciptakan identitas unik. Kreativitas ini melahirkan tren mix and match yang membuat penampilan terlihat segar, personal, dan tetap ramah di kantong. 

Editor: Ilham Safutra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore