Pembeli memilih berbagai macam pakaian bekas impor atau Thrifting di Pasar Baju Thrifthing di Terowongan Blok-M, Jakarta Selatan. (Dery Ridwansah/ JawaPos.com)
JawaPos.com - Istilah thrifting atau yang sering disebut “trift” berasal dari kata thrift yang berarti hemat. Melansir dari Iklimku.org (2025), budaya ini mengacu pada kebiasaan membeli barang-barang bekas, terutama pakaian, sepatu, hingga aksesori. Selain itu masih banyak lagi barang layak pakai dengan harga jauh lebih murah dibanding barang baru.
Budaya thrifting sudah muncul sejak abad ke-19 di Eropa. Kala itu, masyarakat kelas menengah mulai resah dengan perilaku konsumtif yang menyebabkan pakaian menumpuk dan cepat dibuang. Thrifting hadir sebagai alternatif berbelanja yang lebih ramah kantong sekaligus mengurangi limbah tekstil. Di Indonesia, budaya thrift mulai tumbuh sejak awal 2000-an. Mulanya hanya sebatas kios kecil di pasar tradisional yang menjual pakaian bekas impor. Kini, thrifting menjelma menjadi gaya hidup, terutama di kalangan anak muda.
Baju branded seperti Adidas, Nike, Carhartt, hingga Patagonia bisa ditemukan di pasar thrifting dengan harga ratusan ribu jauh lebih murah daripada harga asli di toko resmi. Bahkan, banyak item non-branded dijual mulai dari Rp 20.000 saja. Nike sempat jadi sorotan karena dipakai oleh driver ojol saat bertemu Wapres Gibran Rakabuming Raka di Istana Wakil Presiden baru-baru ini.
Bagi pencinta thrift, berburu baju bekas serasa mencari harta karun. Setiap kunjungan ke pasar Senen Jakarta atau Pasar Gedebage Bandung selalu menghadirkan kejutan seperti menemukan jaket vintage, celana jeans klasik, atau hoodie branded yang masih sangat layak pakai.
Remaja dan mahasiswa sering mencari pakaian yang berbeda dari yang dijual di mal. Thrifting memungkinkan mereka tampil one of a kind, tidak pasaran, sekaligus menciptakan identitas gaya pribadi.
Tren sustainable fashion ikut mendorong popularitas thrifting. Dengan membeli baju bekas, anak muda merasa ikut berkontribusi mengurangi limbah tekstil, salah satu penyumbang polusi terbesar di dunia mode.
Dilansrir dari Xinhua News (2025), trift tidak hanya konsumen, banyak anak muda Indonesia kini menjadikan thrifting sebagai ladang usaha. Dengan memanfaatkan teknologi digital, mereka menjual barang thrift melalui marketplace, media sosial, hingga live shopping.
Modal yang relatif kecil tidak menjadi hambatan. Beberapa pelaku usaha bahkan memulai dari kamar kos atau garasi rumah, lalu berkembang menjadi toko online dengan ribuan pengikut setia. Fenomena ini membuktikan bahwa thrifting tidak sekadar tren konsumsi, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi generasi muda.
Fenomena thrifting di Indonesia bukan sekadar tren sesaat. Ada beberapa faktor yang membuatnya terus bertahan dan bahkan berkembang sebagai bagian dari gaya hidup modern:
Anak muda kini lebih sadar bahwa tampil modis tidak harus identik dengan barang mahal. Melalui thrifting, mereka bisa mengeksplorasi gaya, mencampur berbagai fashion item, hingga menciptakan identitas unik. Kreativitas ini melahirkan tren mix and match yang membuat penampilan terlihat segar, personal, dan tetap ramah di kantong.

7 Mall Terbaik di Bandung dengan Banyak Tenant Kuliner dan Spot Foto yang Instagramable
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
Bupati Roby Kurniawan Disebut Netizen Sebagai Bupati R yang Bikin Ayu Aulia Kehilangan Rahim
10 Rekomendasi Kuliner Bakmi Jawa di Surabaya, Pengunjung Sampe Rela Antre Demi Seporsi Kenikmatan Kuliner Malam Satu Ini!
14 Daftar Mall Terbaik di Bandung yang Selalu Ramai Dikunjungi, Lengkap untuk Shopping dan Hiburan Keluarga
10 Mall di Semarang yang Tak Pernah Sepi Pengunjung, Tempat Favorit untuk Belanja dan Nongkrong
Persebaya Surabaya Dilaporkan Capai Kesepakatan dengan Striker Asing, Punya Rekam Jejak di Indonesia!
18 Kuliner Mie Ayam di Yogyakarta yang Rasanya Autentik Tapi Harganya Cocok untuk Semua Kalangan Masyarakat
Pertemuan dengan Suporter, Fariz Julinar Tegaskan PSIS Semarang Siap Bangkit Musim Depan
4 Tempat Makan Siomay Paling Enak di Bandung, Jangan Skip karena Variannya Berlimpah dengan Siraman Bumbu Kacang yang Lezat
