Ilustrasi Fear of Missing Out (FOMO) (Dok. Freepik)
JawaPos.com - Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) atau rasa takut ketinggalan sesuatu semakin marak, terutama di era digital di mana informasi dan momen menarik terus mengalir cepat di media sosial.
Dilansir dari laman Halodoc, FOMO adalah kondisi psikologis di mana seseorang merasa cemas dan takut tidak ikut serta dalam pengalaman sosial yang sedang ramai. Jika dibiarkan tanpa kontrol, kondisi ini dapat memicu berbagai gangguan mental seperti stres, kecemasan berlebihan, bahkan depresi. Meskipun awalnya FOMO merupakan fenomena tren, efeknya bagi psikologis sangat signifikan dan perlu mendapat perhatian serius.
Menurut laman Rumah Sakit Pusat Pertamina, FOMO banyak dipicu oleh konten media sosial yang menampilkan kehidupan sempurna orang lain, yang memicu perbandingan sosial tidak sehat dan perasaan kurang diri. Tekanan untuk selalu update dan tidak ketinggalan tren membuat pengguna, terutama generasi muda, sulit lepas dari kecemasan dan ketidakpuasan diri yang berulang. Siklus ini dapat mengganggu keseharian, mengurangi fokus dan produktivitas, serta menimbulkan gangguan tidur.
Berikut ini 7 dampak FOMO bagi kesehatan mental yang penting untuk dikenali:
1. Kecemasan dan Stres
FOMO bisa membuat seseorang khawatir berlebihan dan stres karena takut melewatkan pengalaman positif orang lain. Hal ini dapat menyebabkan gangguan tidur, kecemasan, bahkan depresi jika tidak dikendalikan.
2. Perasaan Tidak Puas
Individu dengan FOMO sering merasa hidup orang lain lebih menarik dan tidak puas dengan kehidupan mereka sendiri. Kondisi ini menurunkan rasa percaya diri dan harga diri yang berdampak buruk pada kesehatan mental.
3. Kehilangan Kepuasan dalam Hidup
FOMO menghambat seseorang menikmati momen saat ini karena pikiran terus membayangkan pengalaman orang lain yang dianggap lebih baik. Ini menyebabkan ketidakbahagiaan dan menurunkan kualitas hidup.
4. Gangguan Konsentrasi dan Produktivitas
Orang dengan FOMO cenderung sulit fokus dan terdistraksi oleh keinginan terus memantau aktivitas di media sosial, yang akhirnya mengurangi produktivitas.
5. Perilaku Negatif
Dorongan untuk mengikuti tren yang populer dapat memicu perilaku berisiko seperti konsumsi alkohol atau obat-obatan yang berbahaya bagi kesehatan fisik dan mental.

Persebaya Surabaya Rayakan Kembalinya Bruno Moreira, Bonek Kompak Satu Suara
14 Kuliner Malam Bandung yang Paling Enak dan Selalu Ramai hingga Larut Malam dengan Suasana Seru dan Rasa Lezat
Bocoran Soal CAT Seleksi Manajer Koperasi Merah Putih 2026
7 Rekomendasi Kuliner Lontong Balap Paling Enak di Surabaya, Wajib Dicoba Sekali Seumur Hidup!
12 Restoran Sunda Paling Enak di Jakarta, Tempat Makan dengan Menu Tradisional Khas dari Tanah Pasundan
18 Rekomendasi Kuliner di Tangerang untuk Keluarga, Tempat Makan Favorit dari Tradisional sampai Modern
Link Live Streaming Semifinal Uber Cup 2026 Indonesia vs Korea Selatan dan Line-up Pertandingan
Wisata Kuliner Kabupaten Malang: 7 Makanan Khas yang Legendaris, Unik dan Autentik untuk Food Lovers
Dana Desa Dialihkan untuk Koperasi Merah Putih, Pembangunan Desa di Bantul Jalan dengan Skema Lain
50 Unit Mobil Koperasi Desa Merah Putih Tiba di Wonogiri, Dandim 0728/Wonogiri: Saran Saya Tidak Usah Digunakan Dulu Mobilnya
