Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 29 Agustus 2025 | 02.40 WIB

Kenali Rasa Cemas atau Anxiety! Dari Mana Datangnya, Apa Dampaknya, dan Bagaimana Cara Menanganinya dengan Tepat

Ilustrasi seseorang yang merasa cemas dan ketakutan. (Freepik) - Image

Ilustrasi seseorang yang merasa cemas dan ketakutan. (Freepik)

JawaPos.com – Banyak dari kita pernah mendengar anxiety atau rasa cemas terhadap sesuatu, tetapi apakah itu anxiety?

Dilansir dari Cleveland Clinic, rasa cemas adalah perasaan takut yang mendalam atau gelisah ketika berhadapan dengan situasi yang sulit.

Tentunya hal ini sangatlah wajar terjadi pada seseorang. Kondisi ini adalah sebuah bentuk respon tubuh terhadap stres atau potensi bahaya.

Faktanya, rasa cemas ini justru memiliki fungsi penting dalam mekanisme pertahanan diri kita. Saat tubuh merasa terancam, otak akan mengirimkan sinyal bahaya sehingga kita menjadi lebih waspada. 

Jantung berdetak lebih cepat, napas terasa lebih pendek, dan tubuh bersiap untuk bereaksi. 

Semua ini adalah bagian dari sistem alami “fight or flight” yang sejak dulu membantu manusia untuk bertahan hidup.

Namun, berbeda cerita jika rasa cemas muncul terlalu sering atau terasa berlebihan. Alih-alih melindungi, kecemasan justru bisa mengganggu aktivitas sehari-hari bahkan memengaruhi kesehatan mental dan fisik seseorang.

Ingin tahu lebih lanjut tentang asal usul rasa cemas? Simak penjelasannya berikut ini!

1. Dari Mana Rasa Cemas (Anxiety) Berasal?

Dilansir dari Salt Lake Behavioural Health, Ada banyak faktor yang dapat memicu munculnya anxiety

Para ahli menjelaskan bahwa penyebabnya tidak hanya berasal dari satu hal saja, melainkan kombinasi antara faktor biologis, psikologis, dan lingkungan.

Biologi Evolusi – Jika ditarik ke belakang, rasa cemas punya akar dalam biologi evolusi manusia. Dulu, manusia bertahan hidup dengan respon “fight-or-flight”. 

Dalam kondisi tertentu, respon ini masih berguna untuk membuat kita lebih waspada. Namun di zaman modern, respon ini seringkali “keliru aktif”, sehingga memunculkan kecemasan berlebihan meski ancamannya tidak nyata.

Genetika dan Neurokimia – Faktor keturunan juga berperan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa gen tertentu dapat meningkatkan risiko seseorang mengalami gangguan kecemasan. 

Selain itu, ketidakseimbangan zat kimia otak seperti serotonin, dopamin, dan GABA (gamma-aminobutyric acid) turut memengaruhi munculnya gejala cemas. 

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore