
Komentar negatif di media sosial dapat mempengaruhi suasana hati hingga menurunkan rasa percaya diri.
JawaPos.com - Di era media sosial, interaksi digital bukan lagi sekadar hiburan atau sarana berbagi. Setiap komentar yang masuk bisa membentuk cara kita memandang diri sendiri bahkan mempengaruhi emosi dan pola pikir sehari-hari.
Tak sedikit orang yang merasa bahagia setelah membaca komentar positif, namun juga banyak yang merasakan kecemasan, minder, hingga kehilangan rasa percaya diri akibat komentar negatif, bahkan dari orang yang tak dikenal sekalipun.
Respons emosional ini tidak terjadi secara kebetulan. Otak kita merespons komentar digital dengan cara yang serupa saat menerima pujian atau kritik di dunia nyata.
Maka tak heran, paparan komentar yang berulang, baik yang membangun maupun yang menjatuhkan dapat meninggalkan dampak jangka panjang terhadap kepercayaan diri, khususnya pada anak muda dan pengguna aktif media sosial
Dikutip dari Medicalnewstoday.com dan Verywellmind.com, komentar online yang sifatnya merendahkan atau mengejek bisa menyebabkan efek psikologis serius seperti penurunan harga diri, kesulitan fokus, dan bahkan gejala kecemasan.
Komentar negatif ini menciptakan tekanan emosional yang kerap tak disadari. Di sisi lain, feedback positif pun belum tentu memberi efek jangka panjang karena sifatnya sementara.
Berikut beberapa dampak nyata dari komentar online terhadap rasa percaya diri, yang penting untuk dikenali sebelum terlalu larut dalam dunia digital:
1. Komentar Online Bisa Membentuk atau Menghancurkan Citra Diri
Di era digital, komentar orang lain di media sosial sering kali dijadikan tolak ukur atas siapa diri kita. Baik itu pujian, kritik, hingga komentar bercanda yang mengandung sindiran, semuanya bisa berdampak langsung pada bagaimana kita memandang diri sendiri.
Jika komentar yang diterima positif, seseorang bisa merasa dihargai, diterima, bahkan lebih percaya diri. Namun sebaliknya, komentar negatif yang terus-menerus atau bernada merendahkan bisa membuat seseorang mulai mempertanyakan nilai dirinya.
Citra diri yang awalnya kuat bisa terkikis perlahan karena kata-kata di dunia maya yang sering kali dianggap lebih valid daripada pendapat pribadi. Padahal, komentar tersebut belum tentu berasal dari orang yang mengenal kita secara nyata. Sayangnya, otak kita meresponsnya seolah-olah itu adalah kebenaran yang tak terbantahkan.
2. Validasi Sosial Membentuk Kebiasaan ‘Posting untuk Diakui’
Ketika komentar dan likes menjadi sumber utama validasi, banyak orang terutama remaja dan generasi muda secara tak sadar mulai mengembangkan kebiasaan ‘posting untuk diakui’. Mereka merasa harus selalu terlihat menarik, produktif, atau bahagia demi mendapatkan respons positif dari audiensnya. Lama-kelamaan, ini memicu tekanan batin untuk terus tampil sempurna.
Akibatnya, seseorang jadi mudah cemas bila unggahannya tidak mendapat banyak likes atau komentar. Bahkan bisa merasa rendah diri dan overthinking hanya karena tak ada yang merespons.
Pada titik tertentu, perilaku ini bisa membentuk ketergantungan emosional terhadap reaksi orang lain, membuat kepercayaan diri bergantung penuh pada dunia maya, bukan pada nilai diri yang sesungguhnya.

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
16 Tempat Wisata Terbaik di Pandaan Pasuruan yang Buat Liburan Penuh Panorama Alam, Pegunungan dan Ketenangan
11 Rekomendasi Es Teler Terlaris di Jogja, Selalu Jadi Favorit Pecinta Dessert Tradisional Warga Lokal Maupun Pelancong!
10 Kuliner Lezat Dekat Stasiun Pasar Turi Surabaya, dari Lontong Balap hingga Nasi Bebek
10 Kedai Es Teler Paling Enak di Jakarta, Cocok untuk Melepas Dahaga saat Cuaca Panas di Siang Hari!
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
18 Oleh-Oleh Khas Tulungagung Ini Wajib Dibeli Jika Berkunjung, dari Kuliner hingga Kerajinan Tradisional
Ribuan Suporter Rayakan HUT ke-94 PSIS Semarang, Flare dan Nyanyian Menggema di Depan Kantor Gubernuran Jawa Tengah
