Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 25 Juli 2025 | 01.30 WIB

Komentar Negatif Bisa Turunkan Kepercayaan Diri, Berikut Cara Menjaga Mental Saat Aktif di Media Sosial

Komentar negatif di media sosial dapat mempengaruhi suasana hati hingga menurunkan rasa percaya diri. - Image

Komentar negatif di media sosial dapat mempengaruhi suasana hati hingga menurunkan rasa percaya diri.

JawaPos.com - Di era media sosial, interaksi digital bukan lagi sekadar hiburan atau sarana berbagi. Setiap komentar yang masuk bisa membentuk cara kita memandang diri sendiri bahkan mempengaruhi emosi dan pola pikir sehari-hari.

Tak sedikit orang yang merasa bahagia setelah membaca komentar positif, namun juga banyak yang merasakan kecemasan, minder, hingga kehilangan rasa percaya diri akibat komentar negatif, bahkan dari orang yang tak dikenal sekalipun.

Respons emosional ini tidak terjadi secara kebetulan. Otak kita merespons komentar digital dengan cara yang serupa saat menerima pujian atau kritik di dunia nyata.

Maka tak heran, paparan komentar yang berulang, baik yang membangun maupun yang menjatuhkan dapat meninggalkan dampak jangka panjang terhadap kepercayaan diri, khususnya pada anak muda dan pengguna aktif media sosial

Dikutip dari Medicalnewstoday.com dan Verywellmind.com, komentar online yang sifatnya merendahkan atau mengejek bisa menyebabkan efek psikologis serius seperti penurunan harga diri, kesulitan fokus, dan bahkan gejala kecemasan.

Komentar negatif ini menciptakan tekanan emosional yang kerap tak disadari. Di sisi lain, feedback positif pun belum tentu memberi efek jangka panjang karena sifatnya sementara.

Berikut beberapa dampak nyata dari komentar online terhadap rasa percaya diri, yang penting untuk dikenali sebelum terlalu larut dalam dunia digital:

1. Komentar Online Bisa Membentuk atau Menghancurkan Citra Diri

Di era digital, komentar orang lain di media sosial sering kali dijadikan tolak ukur atas siapa diri kita. Baik itu pujian, kritik, hingga komentar bercanda yang mengandung sindiran, semuanya bisa berdampak langsung pada bagaimana kita memandang diri sendiri.

Jika komentar yang diterima positif, seseorang bisa merasa dihargai, diterima, bahkan lebih percaya diri. Namun sebaliknya, komentar negatif yang terus-menerus atau bernada merendahkan bisa membuat seseorang mulai mempertanyakan nilai dirinya.

Citra diri yang awalnya kuat bisa terkikis perlahan karena kata-kata di dunia maya yang sering kali dianggap lebih valid daripada pendapat pribadi. Padahal, komentar tersebut belum tentu berasal dari orang yang mengenal kita secara nyata. Sayangnya, otak kita meresponsnya seolah-olah itu adalah kebenaran yang tak terbantahkan.

2. Validasi Sosial Membentuk Kebiasaan ‘Posting untuk Diakui’

Ketika komentar dan likes menjadi sumber utama validasi, banyak orang terutama remaja dan generasi muda secara tak sadar mulai mengembangkan kebiasaan ‘posting untuk diakui’. Mereka merasa harus selalu terlihat menarik, produktif, atau bahagia demi mendapatkan respons positif dari audiensnya. Lama-kelamaan, ini memicu tekanan batin untuk terus tampil sempurna.

Akibatnya, seseorang jadi mudah cemas bila unggahannya tidak mendapat banyak likes atau komentar. Bahkan bisa merasa rendah diri dan overthinking hanya karena tak ada yang merespons.

Pada titik tertentu, perilaku ini bisa membentuk ketergantungan emosional terhadap reaksi orang lain, membuat kepercayaan diri bergantung penuh pada dunia maya, bukan pada nilai diri yang sesungguhnya.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore