
Pengunjung menikmati makanan yang di jual di Livin’Alun Alun Nusantara (AAN), Lippo Mall Nusantara, Jakarta, Sabtu (23/3/2025). (Salman Toyibi/Jawa Pos)
JawaPos.com - Aktivitas belanja masyarakat Indonesia tetap kuat selama Mei hingga awal Juni 2025. Ditopang oleh momentum libur dan cuti bersama. Jika tidak ada, indeks konsumsi bisa lebih rendah 5-8 persen dari level saat ini.
Data Mandiri Spending Index (MSI) menunjukkan tingkat konsumsi masyarakat meningkat sejak akhir April hingga pertengahan Juni 2025. Tercatat berada di level 255,4 per 4 Mei 2025. Kemudian, indeks naik ke posisi 269,5 pada 15 Juni 2025.
"Tanpa momentum libur tersebut, MSI kami perkirakan 5 sampai 8 persen di bawah level saat ini. Kelompok menengah dan atas menjadi penopang utama belanja selama liburan," kata Chief Economist Bank Mandiri Andry Asmoro kepada Jawa Pos, Minggu (29/6).
Salah satu tren yang menonjol dalam belanja masyarakat selama periode libur tahun ini adalah preferensi perjalanan jarak dekat. MSI mencatat belanja di daerah wisata yang berlokasi lebih dekat dengan kawasan Jadetabek (Jakarta-Depok-Tangerang-Bekasi) lebih tinggi dibandingkan Jogjakarta dan Bali. Seperti Puncak Bogor, Bandung, dan Anyer.
Tren tersebut tercermin pada peningkatan belanja pada pekan libur terhadap rata-rata dua pekan sebelum libur MSI di Bogor yang mencapai 15,5 persen di tahun ini. Begitu pula di kota Bogor sebesar 11,2 persen. Sedangkan di Jogjakarta dan Bali masing-masing hanya 8 persen dan 11,6 persen, merosot 6,7 persen dan 7,2 persen dibandingkan tahun lalu.
Sejalan dengan itu, belanja di kota besar sebagai daerah utama asal wisatawan juga meningkat lebih tinggi. Aktivitas makan di luar (dining-out) menjadi belanja paling dominan selama liburan. Mencerminkan gaya konsumsi masyarakat perkotaan yang semakin mengarah ke sektor jasa dan pengalaman.
"Hal ini mengindikasikan pola mobilitas masyarakat saat liburan mayoritas terjadi di dalam kota. Pendataan diperoleh dari belanja menggunakan mode pembayaran QRIS Bank Mandiri," ungkap Asmo.
Dia juga memetakan perbedaan perilaku konsumsi berdasarkan segmen pendapatan. Pada kelompok bawah, peningkatan mobilitas dan perjalanan biasanya disertai belanja untuk kebutuhan rumah tangga. Sementara itu, kelompok menengah-atas cenderung membelanjakan lebih banyak untuk hiburan serta barang tahan lama.
Pola konsumsi ini menjadi sinyal positif terhadap daya beli masyarakat yang masih cukup solid di tengah ketidakpastian ekonomi global. Namun, keberlanjutan konsumsi tetap perlu dicermati. Seiring meredanya efek liburan dan potensi tekanan dari sisi eksternal. (han)

10 Mie Ayam Paling Enak di Jogja yang Selalu Ramai Pembeli, Kuah Gurih dan Porsi Melimpah
14 Rekomendasi Gado-Gado Paling Recomended di Surabaya, Cita Rasa Klasik Autentik dan Harga Ramah di Kantong
Berburu Oleh-Oleh Khas Pasuruan? Ini 15 Buah Tangan yang Cocok untuk Keluarga di Rumah Berdasarkan yang Paling Dicari Wisatawan
15 Pecel Paling Enak di Surabaya, Cita Rasa Sambal Kacang yang Autentik dan Ragam Lauk Tradisional yang Menggoda Selera
10 Tempat Makan Pempek Favorit di Bandung, Pilihan Menu Lengkap, Rasa Autentik, dan Perpaduan Cuko yang Kaya Rempah
Koperasi Desa Merah Putih di Pakuhaji Sepi dan Bangunan Sederhana, Dinkop UMKM Tangerang: Tidak Dibangun dari Dana Agrinas
5 Mall Terbaik dan Paling Cozy di Solo, Cocok untuk Menikmati Kuliner, Belanja, dan Nongkrong di Satu Tempat
13 Wisata Terbaik Dekat Stasiun Pasuruan, Buat Liburan Tak Perlu Jauh Tapi Tetap Seru
12 Tempat Kuliner Soto yang Jadi Favorit di Malang, Soal Rasa Jangan Ditanya Pasti Enak!
Tak Perlu lagi Pusing Parkir, Ini Rute Transjakarta Paling Pas ke Indonesia Arena GBK
