Logo JawaPos
Author avatar - Image
Senin, 16 Juni 2025 | 23.37 WIB

Mitos Atau Fakta? 8 Larangan di Bulan Suro yang Ini Wajib Dihindari agar Hidup Tidak Tertimpa Celaka

lustrasi larangan di bulan suro. (Freepik) - Image

lustrasi larangan di bulan suro. (Freepik)

JawaPos.Com - Di tengah hingar bingar peradaban modern dan arus logika yang semakin dominan, ternyata masih ada ruang untuk kepercayaan Jawa Kuno. 

Terlepas dari mitos atau fakta, hingga saat ini keyakinan masyarakat Indonesia, terutama Jawa, terhadap bulan Suro masih cukup mengakar di kehidupan modern. 

Ya, untuk menjaga warisan leluhur yang sarat makna dan nilai spiritual. Salah satu bulan yang hingga kini dianggap paling sakral dan penuh energi mistis adalah bulan Suro

Dalam tradisi Jawa, Suro bukan sekadar penanda waktu, melainkan momentum spiritual yang diyakini membuka gerbang antara dunia nyata dan alam gaib. 

Aura ketenangan, keheningan, bahkan kekhidmatan begitu terasa saat bulan ini tiba. 

Namun di balik ketenangan itu, tersembunyi berbagai pantangan yang sejak dulu diyakini sebagai penuntun agar manusia tidak sembarangan dalam bertindak. 

Delapan larangan ini dipercaya bukan hanya menjaga harmonisasi dengan alam, tetapi juga mencegah datangnya celaka, gangguan tak kasat mata, atau bahkan karma buruk. 

Dilansir dari kanal Youtube Ngaos Jawa, inilah delapan pantangan yang konon wajib dihindari selama bulan Suro demi keselamatan lahir dan batin.

1. Menikah di Bulan Suro Dianggap Menantang Nasib Buruk

Bagi sebagian besar masyarakat Jawa, menikah di bulan Suro dianggap membawa risiko besar terhadap keharmonisan rumah tangga. 

Hal ini bukan semata karena takhayul, tetapi berdasarkan filosofi yang dalam: bulan Suro adalah masa menyucikan diri, bukan merayakan kebahagiaan lahiriah.

Pernikahan adalah lambang sukacita, tawa, dan perayaan. Sementara Suro adalah waktu untuk tapa, menyepi, dan mendekatkan diri kepada Tuhan. Energi dari kedua peristiwa ini dianggap saling bertentangan. 

Banyak yang percaya, jika tetap memaksakan menikah di bulan Suro, rumah tangga akan diwarnai oleh pertengkaran, rezeki yang seret, bahkan perceraian.

Sebagai bentuk kehati-hatian dan penghormatan terhadap leluhur, tak sedikit keluarga yang memilih menunda pernikahan hingga bulan berikutnya. 

Dalam pandangan spiritual Jawa, lebih baik bersabar demi keberkahan jangka panjang daripada tergesa dan mengundang kesialan.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore