Logo JawaPos
Author avatar - Image
Selasa, 8 April 2025 | 21.59 WIB

7 Cara Halus Teknologi Membuat Kita Lebih Kesepian, Meskipun Kita Terus Menerus Terhubung secara Online

Ilustrasi tujuh cara tak terdeteksi yang dapat menyebabkan teknologi menumbuhkan rasa kesepian, meskipun koneksi digital tak terbatas. (Pexels) - Image

Ilustrasi tujuh cara tak terdeteksi yang dapat menyebabkan teknologi menumbuhkan rasa kesepian, meskipun koneksi digital tak terbatas. (Pexels)

JawaPos.com - Teknologi punya cara yang lucu untuk menjanjikan konektivitas dengan banyak orang dari tempat yang jauh. Namun, kecanggihan teknologi terkadang justru memberikan hal yang sebaliknya.

Kita lebih terhubung dari sebelumnya, tetapi banyak dari kita yang akhirnya merasakan terisolasi. Ironisnya terletak pada kehalusan bagaimana perangkat dan aplikasi, yang dirancang untuk menyatukan, justru semakin menjauhkan kita.

Dilansir dari Small Business Bonfire, terdapat tujuh cara tak terdeteksi yang dapat menyebabkan teknologi menumbuhkan rasa kesepian, meskipun koneksi digital tak terbatas.

1. Ilusi koneksi

Mudah untuk percaya bahwa kita terhubung saat perangkat kita terus-menerus dipenuhi notifikasi. Namun, ada perbedaan mendasar antara interaksi digital dan koneksi tatap muka yang sesungguhnya.

Interaksi manusia yang sesungguhnya melibatkan lebih dari sekadar mengirim teks atau emoji. Interaksi tersebut meliputi membaca ekspresi wajah, merasakan nada emosi, dan berbagi ruang fisik.

Perangkat kita, betapapun bergunanya, tidak dapat meniru aspek-aspek hubungan antarmanusia ini. Obrolan digital yang terus-menerus dapat memberi kita rasa kepuasan sosial yang salah, sementara sebenarnya membuat kita merasa hampa.

2. Perangkap perbandingan

Saat menelusuri feed media sosial, mudah bagi kita untuk mulai membandingkan kehidupan kita sendiri dengan kehidupan yang diatur dengan cermat dan tampak sempurna yang kita lihat di internet.

Paparan terus-menerus terhadap cuplikan momen terbaik orang lain dapat membuat kita merasa tersisih dan kesepian, meskipun kita berinteraksi dengan orang lain secara daring.

Mengenali perangkap perbandingan ini dapat membantu kita menanggapi unggahan media sosial dengan skeptis dan lebih menghargai kehidupan kita sendiri.

3. Paradoks pilihan

Dengan aplikasi dan situs web yang menawarkan ribuan film, lagu, dan buku di ujung jari kita, kita tidak pernah kekurangan pilihan hiburan. Namun, kelimpahan ini dapat menimbulkan masalah tersendiri.

Psikolog Barry Schwartz menyebut ini paradoks pilihan. Penelitiannya menunjukkan bahwa meskipun beberapa pilihan tidak diragukan lagi lebih baik daripada tidak ada sama sekali, lebih banyak pilihan tidak selalu lebih baik daripada lebih sedikit.

Terlalu banyaknya pilihan dapat menimbulkan kecemasan dan stres, membuat kita merasa terisolasi dalam keragu-raguan kita.

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore