Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 15 Maret 2025 | 00.15 WIB

7 Kebiasaan Pria Sukses di Kantor tapi Malas dan Tak Bahagia di Rumah, Salah Satunya Abai pada Hubungan

Ilustrasi pria sedang bersikap impulsif. (Freepik) - Image

Ilustrasi pria sedang bersikap impulsif. (Freepik)

JawaPos.com - Banyak orang berupaya untuk melakukan yang terbaik di tempat kerja agar mendapat tempat yang lebih baik untuk hidup. Namun, banyak juga di antara mereka yang terjebak dalam ketidakbahagiaan di rumahnya. 
 
Ya, menjadi sukses di tempat kerja itu hebat, tetapi jika itu mengorbankan kebahagiaan di rumah, apakah benar-benar sepadan?
 
Jadinya, Anda merasa seperti dua orang yang berbeda. Di kantor, Anda dikenal sebagai pekerja keras, penuh ambisi, dan selalu produktif. Namun, saat pulang ke rumah, Anda justru kehilangan semangat, malas, dan merasa tidak puas.
 
Setelah bertahun-tahun mencari jawaban, psikologi menemukan bahwa ada tujuh pola psikologis yang sering muncul pada pria yang sukses di kantor tetapi merasa tidak berdaya di rumah, dikutip dari DMNews, Jumat (14/3).
 
1. Perfeksionisme yang Berlebihan
 
Di tempat kerja, perfeksionisme mungkin membuat Anda menonjol dan dihormati. Tapi di rumah? Itu bisa menjadi bencana.
 
Saya selalu ingin segala sesuatu di kantor berjalan sempurna—laporan tanpa cacat, presentasi tanpa kesalahan, dan proyek selalu selesai tepat waktu. Namun, saat menghadapi kehidupan rumah tangga yang penuh ketidaksempurnaan, saya justru memilih untuk menghindar.
 
Alih-alih merapikan rumah atau mengerjakan tugas kecil, saya membiarkannya berantakan karena tahu hasilnya tidak akan pernah "sempurna." Akibatnya, saya justru terlihat malas.
 
Melepaskan standar perfeksionisme yang terlalu tinggi adalah langkah pertama menuju kehidupan yang lebih seimbang dan bahagia.
 
2. Tidak Bisa Menjaga Keseimbangan Hidup
 
Dulu, saya selalu membawa pekerjaan ke rumah—mengecek email di waktu senggang, mengangkat telepon kantor saat makan malam, dan berpikir tentang pekerjaan bahkan saat libur.
 
Saya merasa bersalah jika tidak produktif. Padahal, keseimbangan antara kerja dan istirahat itu penting. Jika Anda terus-menerus berada dalam mode kerja, tubuh dan pikiran tidak pernah benar-benar beristirahat. Akibatnya, Anda menjadi lelah, mudah marah, dan sulit menikmati momen bersama keluarga.
 
Belajar untuk benar-benar "mematikan" urusan kantor setelah jam kerja bisa membantu meningkatkan kualitas hidup Anda di rumah.
 
3. Mengabaikan Perawatan Diri
 
Saya dulu berpikir bahwa bekerja keras tanpa henti adalah tanda dedikasi. Saya sering melewatkan makan, kurang tidur, dan jarang berolahraga demi menyelesaikan pekerjaan. Tapi efeknya? Saya selalu lelah, mudah tersinggung, dan tidak punya energi untuk kehidupan di luar pekerjaan.
 
Perawatan diri bukan hanya soal istirahat, tetapi juga menjaga kesehatan fisik dan mental. Dengan makan teratur, tidur cukup, dan berolahraga, saya menemukan bahwa saya tidak hanya lebih produktif di kantor, tetapi juga lebih bahagia di rumah.
 
4. Sulit Melepaskan Diri dari Pekerjaan
 
Pikiran saya sering kali masih sibuk dengan urusan kantor saat berada di rumah. Saat makan malam bersama keluarga, saya malah memikirkan rapat besok. Saat menemani anak bermain, pikiran saya melayang ke proyek yang belum selesai.
 
Ternyata, kebiasaan ini bukan hanya mengganggu kehidupan pribadi, tetapi juga meningkatkan stres dan risiko kelelahan kerja.
 
Belajar untuk benar-benar hadir di momen-momen bersama keluarga sangat penting. Matikan notifikasi pekerjaan, simpan ponsel, dan nikmati waktu bersama orang-orang terdekat Anda.
 
5. Mengabaikan Hubungan Pribadi
 
Karena terlalu sibuk dengan pekerjaan, saya sering melewatkan momen berharga bersama keluarga dan teman. Saya menolak ajakan kumpul, membatalkan janji, dan menganggap urusan pribadi bisa ditunda.
 
Namun, seiring waktu, saya menyadari bahwa hubungan yang baik adalah kunci kebahagiaan. Pekerjaan bisa berganti, tetapi keluarga dan teman sejati tetap ada. Mulailah meluangkan waktu untuk orang-orang yang berarti dalam hidup Anda.
 
6. Kehilangan Hobi dan Kesenangan
 
Saat masih muda, saya punya banyak hobi—membaca, bermain musik, berlari. Tapi setelah sibuk bekerja, semua itu perlahan-lahan hilang.
 
Saya pikir tidak punya waktu untuk hal-hal "tidak penting" seperti hobi. Tapi kenyataannya, hobi adalah cara kita melepaskan stres dan menemukan kebahagiaan di luar pekerjaan.
 
Mulailah lagi. Luangkan waktu 15–30 menit sehari untuk melakukan sesuatu yang Anda sukai. Ini bisa membuat hidup Anda lebih berwarna dan menyenangkan.
 
7. Tidak Mengembangkan Diri di Luar Karier
 
Saya selalu mengejar pertumbuhan profesional—mempelajari keterampilan baru, menghadiri seminar, dan mengejar promosi. Tapi di luar pekerjaan, saya jarang menantang diri sendiri untuk berkembang.
 
Pertumbuhan pribadi sama pentingnya dengan pertumbuhan karier. Cobalah belajar sesuatu yang baru, seperti memasak, bermain alat musik, atau bahkan meditasi. Ini bisa memberikan rasa pencapaian yang berbeda dari pekerjaan.
 
Editor: Estu Suryowati
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore