Logo JawaPos
Author avatar - Image
Jumat, 14 Februari 2025 | 15.55 WIB

5 Ucapan Sepintas dari Orang Tua yang Tanpa Disadari Sering Menyakiti Anak-anaknya, Menurut Psikologi

Ilustrasi seorang ayah yang sedang memarahi anak perempuannya. (Freepik) - Image

Ilustrasi seorang ayah yang sedang memarahi anak perempuannya. (Freepik)

JawaPos.com – Pendidikan positif dan bimbingan hidup dari orang tua, sering kali berkontribusi pada kehidupan yang seimbang dan memuaskan di masa dewasa seseorang. Namun, bagaimana jika tanpa disadari, orang tua justru terus-menerus menyakiti hati anaknya?

Sejauh ini, ada satu aspek penting yang paling sering terabaikan dalam proses pengasuhan, yaitu ‘kekuatan kata-kata.’ Kebanyakan orang tua sering kali meremehkan seberapa besar dampak dari komentar santai yang mereka lontarkan terhadap anak-anak mereka.

Apa yang mungkin terlihat seperti komentar sepintas bagi kita, ternyata bisa menjadi keyakinan yang bertahan lama bagi mereka. Karena itu, penting untuk orang tua menyadari cara berbicara mereka terhadap anak-anaknya demi membantu membentuk dialog sehat pada batin mereka.

Seperti dilansir dari Geediting, berikut adalah lima ungkapan sepintas dari orang tua yang sebaiknya dihindari agar tidak menyakiti anak-anaknya.

1. Hindari membandingkan mereka dengan orang lain

Membandingkan anak-anak satu sama lain atau dengan orang lain, pada akhirnya dapat merusak harga diri mereka dan menciptakan persaingan yang tidak perlu. Sebagai gantinya, fokuslah pada kekuatan unik mereka dan rayakan apa yang membuat mereka istimewa.

Terus mengatakan hal-hal semacam “Tidak bisakah kamu seperti kakakmu” atau “Saya berharap kamu lebih seperti dia” dapat membuat anak Anda merasa rendah diri dan tidak cukup.

Mereka seharusnya lebih dihargai atas siapa diri mereka daripada dibandingkan dengan orang lain. Penghargaan tulus yang orang tua berikan kepada anaknya, pada gilirannya akan membantu mereka membangun harga diri dan kepercayaan diri.

2. Hindari pernyataan kekecewaan

Mengatakan hal semacam “Saya kecewa padamu” kepada anak dapat menyebabkan rasa malu dan kecemasan berlebih, ucapan ini membuat mereka merasa telah mengecewakan Anda dan gagal secara pribadi.

Usahakan untuk memandu percakapan ke arah hal-hal yang dapat mereka lakukan dengan lebih baik di lain waktu, mengambil langkah tersebut akan jauh lebih baik untuk mereka, ini akan lebih mendorong pertumbuhan daripada rasa bersalah.

3. Hindari menyalahkan perasaan mereka, sebaliknya berikan validasi

Mengabaikan perasaan anak, seperti mengatakan “Berhenti menangis, itu bukanlah masalah besar” dapat membuat mereka merasa bahwa perasaan mereka tidak sah atau tidak penting. Usahakan untuk mengakui dan memvalidasi perasaan mereka, karena ini akan membantu mereka belajar mengekspresikan diri dengan cara yang sehat.

4. Daripada menyalahkan, sebaiknya berikan mereka dorongan untuk belajar dari kesalahan

Mendengar komentar negatif secara terus-menerus tentang kesalahan mereka, pada akhirnya dapat menanamkan rasa takut dan kecemasan untuk menjadi gagal. Mengatakan hal semacam “Kamu selalu saja merusak segalanya” dapat membuat mereka takut untuk mencoba atau selalu merasa tidak mampu.

Editor: Edy Pramana
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore