Logo JawaPos
Author avatar - Image
Rabu, 5 Februari 2025 | 19.49 WIB

Memilih Cara untuk Mendisiplinkan Anak: Pola Asuh Lembut vs Hukuman Keras, Mendidik dengan Cinta atau Ketegasan?

Ilustrasi orang tua yang sedang mendisiplinkan anak. (Freepik) - Image

Ilustrasi orang tua yang sedang mendisiplinkan anak. (Freepik)

JawaPos.com – “Anak-anak zaman sekarang kurang disiplin! Mereka butuh aturan yang lebih ketat!” Pernyataan seperti ini sering terdengar di kalangan orang tua yang frustrasi menghadapi perilaku anak-anak mereka.

Banyak yang percaya bahwa disiplin yang tegas, bahkan hukuman keras, adalah solusi terbaik. Di sisi lain, ada juga yang berpendapat bahwa pendekatan lembut dan penuh kasih lebih efektif dalam membentuk karakter anak.

Pertanyaannya, metode mana yang lebih baik? Haruskah orang tua menggunakan hukuman keras untuk mendisiplinkan anak, atau justru pola asuh yang lembut lebih berdampak positif dalam jangka panjang?

Dilansir dari laman parentfromheart, artikel ini akan mengupas secara mendalam bagaimana cara mendisiplinkan anak, dengan pendekatan yang tepat berdasarkan penelitian ilmiah dan pengalaman nyata.

Lebih dari sekadar menerapkan aturan dan konsekuensi, penting bagi orang tua untuk memahami bahwa setiap perilaku anak adalah bentuk komunikasi.

Anak tidak sekadar “bandel” atau “sulit diatur”, tetapi sering kali mereka sedang mencoba menyampaikan sesuatu. Lalu, bagaimana cara yang efektif untuk mendisiplinkan anak tanpa merusak hubungan emosional mereka?

Semua perilaku anak adalah komunikasi

Banyak orang tua yang langsung mengambil tindakan disiplin tanpa memahami akar masalahnya. Misalnya, ketika seorang anak terus membantah atau menangis, respons umum adalah memarahi atau menghukumnya.

Namun, penelitian menunjukkan bahwa perilaku anak sering kali merupakan ekspresi dari kebutuhan emosional yang belum terpenuhi.

Bayangkan seorang ibu yang sedang stres karena pekerjaannya, lalu melihat dapur berantakan. Alih-alih menenangkan diri, ia langsung membanting pintu atau mengomel kepada anaknya.

Dalam situasi ini, masalahnya bukan sekadar dapur yang kotor, tetapi ada faktor lain yang memicu respons emosional tersebut.

Hal yang sama juga terjadi pada anak-anak. Ketika mereka menunjukkan perilaku yang dianggap negatif, bisa jadi mereka sedang merasa takut, cemas, atau butuh perhatian lebih dari orang tuanya.

Menggunakan hukuman keras tanpa memahami akar masalah sama seperti memotong rumput liar tanpa mencabut akarnya—perilaku tersebut akan terus muncul kembali.

Oleh karena itu, mendisiplinkan anak seharusnya tidak hanya berfokus pada menghilangkan perilaku buruk, tetapi juga membantu mereka memahami dan mengelola emosinya dengan lebih baik.

Pentingnya Keterikatan Emosional dalam Pola Asuh

Editor: Bayu Putra
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore